Gubernur NTB Tekankan Toleransi Keberagaman dan Ajak Jaga Lingkungan Saat Nuzulul Quran

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyerukan pentingnya toleransi keberagaman dan pelestarian lingkungan pada peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah, mengingatkan harmonisnya masyarakat NTB.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gubernur NTB Tekankan Toleransi Keberagaman dan Ajak Jaga Lingkungan Saat Nuzulul Quran
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyerukan pentingnya toleransi keberagaman dan pelestarian lingkungan pada peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah, mengingatkan harmonisnya masyarakat NTB. (AntaraNews)

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menyerukan pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Seruan ini disampaikan pada momen peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah di Masjid Jami' Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

Didampingi Wakil Gubernur NTB, Hj Indah Dhamayanti Putri, Gubernur Iqbal menyoroti kawasan sekitar masjid sebagai contoh nyata harmoni masyarakat. Kawasan Peken Laek di belakang masjid, misalnya, menjadi tempat tinggal masyarakat Tionghoa.

Gubernur Iqbal menekankan bahwa kehidupan berdampingan secara damai telah terjalin lama di wilayah ini. Pesan tersebut bertujuan untuk memperkuat persatuan di tengah masyarakat NTB yang majemuk dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawatnya.

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal secara khusus menyoroti kawasan Peken Laek di belakang Masjid Jami' Praya. Kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal bagi banyak warga Tionghoa di Lombok Tengah.

"Di belakang masjid ini ada kawasan pecinan, Peken Laek. Teman-teman Tionghoa kita banyak tinggal di sini, bahkan dulu ada sekolah Tionghoa di dekat sini," ungkap Iqbal. Ia menambahkan, "Masjid ini dikelilingi oleh masyarakat Tionghoa, tetapi kita hidup berdampingan dengan damai."

Kehidupan harmonis ini menjadi cerminan nyata dari toleransi keberagaman NTB yang patut dibanggakan. Hal ini menunjukkan bagaimana perbedaan latar belakang dapat bersatu dalam kedamaian dan menjadi kekuatan daerah.

Gubernur Iqbal juga mengenang peristiwa kerusuhan tahun 1998 yang sempat melanda sejumlah daerah di Indonesia. Namun, masyarakat Lombok menunjukkan sikap yang berbeda dan patut diapresiasi.

"Ketika kerusuhan 1998 terjadi, di kawasan ini tidak ada satu pun orang yang terluka," kata Iqbal, menyoroti ketahanan sosial masyarakat. Ia menegaskan, "Inilah bentuk toleransi masyarakat Lombok yang sangat saya banggakan."

Pengalaman pribadi Gubernur saat berada di Jakarta pada masa kerusuhan juga menjadi bukti. Ia segera menghubungi keluarganya di Lombok untuk memastikan keselamatan mereka.

"Saya ingat ketika kerusuhan 1998 di Jakarta, saya sedang berada di sana. Orang pertama yang saya telepon adalah paman saya. Saya minta beliau masuk ke pondok pesantren Al-Muhajirin agar aman," kenangnya. Ia bersyukur NTB memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi.

Selain isu toleransi, Gubernur Iqbal juga mengajak masyarakat untuk aktif dalam gerakan menanam pohon. Inisiatif ini penting sebagai upaya menjaga keseimbangan alam dan mencegah bencana.

Ajakan ini muncul setelah kunjungan kerja Gubernur ke berbagai wilayah di NTB, dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa. Ia mencermati peningkatan frekuensi bencana alam, khususnya banjir bandang.

"Dalam dua bulan terakhir ini hampir semua tempat mengalami bencana, dan yang paling banyak kita hadapi adalah banjir bandang yang dulu tidak pernah ada, sekarang mulai terjadi," ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB akan mendukung gerakan ini dengan menyediakan ratusan bibit pohon gratis. Bibit seperti durian, alpukat, dan kopi akan tersedia bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dan menanamnya di lingkungan masing-masing.

Meningkatnya frekuensi bencana banjir bandang tidak terlepas dari terganggunya keseimbangan alam, terutama akibat kerusakan hutan. Penggundulan hutan menjadi faktor utama penyebab bencana ini.

Pembukaan lahan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan menyebabkan tanah mudah terbawa aliran air saat hujan deras. Kondisi ini memicu banjir bandang dan merusak infrastruktur.

"Ketika hutan gundul, air tidak lagi terserap dengan baik. Akibatnya, lumpur dan air mengalir deras ke wilayah pemukiman dan merusak berbagai fasilitas," jelas Gubernur.

Melalui momentum ini, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Penanaman pohon serta tidak merusak kawasan hutan adalah langkah krusial untuk masa depan lingkungan NTB yang berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi