Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik yang kasat mata, tetapi juga menimbulkan dampak nonfisik berupa trauma psikologis yang mendalam. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap paparan trauma ini, seringkali merasakan ketakutan dan kecemasan yang membekas lebih lama daripada puing-puing bangunan.
Di tengah kondisi pengungsian pasca-banjir Sumatera pada 25-30 November 2025, sebuah tradisi kuno hadir sebagai pelipur lara. Di sebuah tenda di posko pengungsian Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, anak-anak penyintas bencana menemukan hiburan dan medium penyembuhan melalui lantunan Didong Gayo.
Kesenian tradisional ini, yang biasanya dibawakan oleh pria dewasa, kini diadaptasi untuk anak-anak, membawa harapan bagi pemulihan psikologis mereka. Didong Gayo, dengan syair dan vokalnya, menjadi sarana penting untuk mengatasi memori buruk dan mengembalikan keceriaan anak-anak di Aceh Tengah.
Advertisement
Advertisement
Didong Gayo: Tradisi Kuno untuk Pemulihan Jiwa
Didong Gayo merupakan kesenian khas masyarakat Gayo, khususnya di Aceh Tengah, yang memadukan syair, tari, dan vokal. Tradisi yang telah ada sebelum kemerdekaan ini umumnya dilakukan oleh sekelompok pria dewasa untuk menyambut hari besar atau acara adat. Namun, kini Didong Gayo telah beradaptasi, memungkinkan anak-anak untuk melantunkannya dengan makna yang lebih luas.
Teuku Haji Muda, seorang pegiat Didong Gayo, menggubah lirik yang disenandungkan oleh Chairullah dan kawan-kawannya. Syair-syair tersebut menceritakan krisis ekologi yang menimpa Aceh hingga menyebabkan banjir besar. Melalui Didong Gayo, anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga diajak memahami kondisi lingkungan sekitar mereka.
Teuku Haji Muda berharap lantunan Didong Gayo dapat menjadi medium penghilang trauma bagi anak-anak. Ia melihat kesenian ini sebagai bentuk pengobatan psikologis untuk mencegah trauma berkepanjangan. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat berperan vital dalam penanganan dampak nonfisik bencana.
Advertisement
Advertisement
Trauma Psikologis Anak Pasca Bencana dan Peran Pendampingan
Kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak yang terdampak bencana, memerlukan perhatian serius. Kondisi pasca-bencana seringkali menghilangkan ruang aman bagi anak-anak, memicu rasa takut dan cemas yang mendalam. Respons trauma pada anak sangat beragam, mulai dari menjadi pendiam, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami gangguan tidur.
Rahmat Hayatun Nupus, Ketua program Unit Kegiatan Mahasiswa Berdampak Penanggulangan Bencana Universitas Teuku Umar, mengakui bahwa anak-anak di Kampung Toweren, Aceh Tengah, sempat sering bengong dan sulit berinteraksi. Program pendampingan psikologis yang mereka jalankan selama tiga minggu berhasil meningkatkan interaksi dan mengembalikan keceriaan anak-anak secara perlahan.
Gangguan stres pascatrauma (PTSD) pada anak-anak membutuhkan penanganan lebih lanjut dari psikiater. Akses yang kini membaik di sejumlah daerah di Aceh Tengah memudahkan mobilitas bantuan, termasuk pendampingan psikologis. Fokus pada aspek ini sangat penting untuk merevitalisasi daerah terdampak bencana Sumatera.
Advertisement
Advertisement
Data Pengungsian dan Pentingnya Revitalisasi Psikologis
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa di Aceh terdapat 28.909 jiwa yang mengungsi. Ribuan anak termasuk dalam jumlah pengungsi ini, sebagian telah direlokasi ke hunian sementara (huntara) atau masih menetap di posko pengungsian.
- Pengungsi tertinggi berada di Kabupaten Aceh Utara dengan total 9.800 penyintas bencana.
- Di Gayo Lues tercatat 5.000 pengungsi.
- Sementara itu, Kabupaten Bener Meriah memiliki 4.000 pengungsi.
Angka-angka ini menggarisbawahi skala masalah trauma yang mungkin dihadapi anak-anak. Oleh karena itu, pendampingan psikologis menjadi salah satu aspek krusial yang harus difokuskan untuk memastikan pemulihan menyeluruh bagi para penyintas. Revitalisasi daerah terdampak tidak hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan emosional masyarakatnya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews