Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sejumlah wilayah Jawa Barat. Untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan menggantinya dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tertanggal 6 September 2026. Kepala sekolah di wilayah dengan sebaran abu vulkanik tinggi diminta segera menghentikan pembelajaran di dalam kelas maupun kegiatan di luar ruangan.
"Langkah (PJJ) ini kami berlakukan demi melindungi peserta didik dan seluruh warga di lingkungan pendidikan dari bahaya abu vulkanik," kata Dedi melalui keterangan yang diterima Senin (7/9/2026).
Selain sektor pendidikan, pemerintah provinsi juga menyiapkan langkah antisipasi di bidang kesehatan. Sejumlah posko dan lokasi pengungsian disiapkan di titik-titik strategis. Puskesmas, rumah sakit, dan pos kesehatan diminta meningkatkan kesiapsiagaan selama 24 jam.
"Saya sudah instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, ambulans, hingga masker respirator seperti KN95 dan APD di seluruh faskes aman terkendali," ujar Dedi.
Pemantauan terhadap potensi peningkatan kasus gangguan kesehatan akibat paparan abu juga dilakukan. Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain infeksi saluran pernapasan, asma, iritasi mata, dan gangguan kulit.
Dedi meminta perlindungan lebih bagi kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan pekerja lapangan.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk memantau kualitas udara, termasuk kadar PM2,5 dan PM10.
Petugas juga akan membersihkan abu yang menumpuk di jalan dan fasilitas umum menggunakan penyemprotan air agar partikel tidak kembali beterbangan.
Advertisement
Langkah Perlindungan dari Abu Vulkanik
Dedi mengimbau masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Ia juga membagikan sejumlah langkah perlindungan mandiri bagi warga di wilayah terdampak.
Pertama, mengurangi aktivitas di luar rumah. Masyarakat diminta menghindari kegiatan di luar ruangan apabila tidak ada keperluan mendesak.
Kedua, menggunakan alat pelindung. Warga dianjurkan memakai masker yang menutup hidung dan mulut dengan rapat, terutama jenis KN95, serta kacamata pelindung untuk mengurangi risiko iritasi mata.
Ketiga, membersihkan abu dengan cara yang tepat. Abu vulkanik sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar partikelnya tidak beterbangan dan terhirup. Warga juga dianjurkan segera mandi setelah tubuh terpapar abu.
Keempat, melindungi air dan makanan. Sumber air bersih serta bahan makanan perlu ditutup rapat untuk mencegah kontaminasi abu vulkanik.
Kelima, segera mencari pertolongan medis. Masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan ke puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, batuk berat, atau iritasi mata dan kulit.
"Tetap tenang, waspada, dan ikuti arahan resmi dari pemerintah. Kepada seluruh aparat daerah, segera laporkan jika ada lonjakan kasus kesehatan atau kebutuhan logistik di lapangan," tutup Dedi.