Psikolog Anjurkan Jeda Media Sosial Saat Emosi Meningkat, Hindari Konflik Baru

Psikolog klinis Ratih Ibrahim menyarankan penerapan prinsip jeda media sosial atau 'pause before posting' ketika emosi meningkat untuk mencegah masalah dan konflik baru di ruang digital.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Psikolog Anjurkan Jeda Media Sosial Saat Emosi Meningkat, Hindari Konflik Baru
Psikolog klinis Ratih Ibrahim menyarankan penerapan prinsip jeda media sosial atau 'pause before posting' ketika emosi meningkat untuk mencegah masalah dan konflik baru di ruang digital. (AntaraNews)

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratih Ibrahim, MM, Psikolog, menganjurkan masyarakat untuk menerapkan prinsip "pause before posting" atau memberi jeda sebelum mengunggah konten di media sosial. Saran ini disampaikan khususnya ketika seseorang sedang dalam kondisi emosi yang meningkat, seperti marah atau lelah.

Anjuran ini muncul sebagai respons terhadap insiden viral di media sosial, di mana seorang warganet yang telah meninggal dunia, sebelumnya menceritakan pengalamannya menunggu kamar rumah sakit selama delapan jam. Unggahan tersebut kemudian menuai perundungan dari sejumlah warganet yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan.

Ratih Ibrahim, saat dihubungi ANTARA di Jakarta pada Sabtu (08/8), menekankan pentingnya membiasakan diri untuk tidak langsung mengunggah sesuatu saat emosi memuncak. Langkah ini bertujuan untuk menghindari potensi masalah baru yang bisa timbul dari unggahan impulsif.

Pentingnya Prinsip "Pause Before Posting"

Menurut Ratih, prinsip sederhana seperti "pause before posting" sangat membantu dalam mengelola interaksi di ruang digital. "Biasakan memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu. Prinsip sederhana seperti 'pause before posting' sangat membantu. Jika sedang marah, sebaiknya jangan langsung menulis atau mengunggah apa pun,'" kata Ratih saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu. Peristiwa perundungan terhadap unggahan warganet yang meninggal setelah menunggu kamar rumah sakit menjadi contoh nyata dampak negatif dari respons emosional di media sosial. Komentar-komentar yang merundung dari sejumlah tenaga kesehatan menunjukkan kurangnya jeda dan pertimbangan emosional.

Ratih menjelaskan bahwa penting bagi setiap individu untuk mengenali tanda-tanda peningkatan emosi pada diri sendiri. Tanda-tanda ini bisa berupa tubuh yang terasa tegang, pikiran yang dipenuhi kemarahan, atau munculnya dorongan kuat untuk segera membalas komentar.

Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, seseorang dapat mengambil langkah proaktif untuk menenangkan diri. Sang psikolog menyarankan seseorang untuk menunggu beberapa menit atau bahkan beberapa jam sebelum mengunggah atau membalas sesuatu di media sosial agar kondisi emosinya lebih stabil.

Strategi Mengelola Emosi di Ruang Digital

Selain memberi jeda, Ratih Ibrahim juga memberikan beberapa saran praktis lainnya untuk mengelola emosi dan perilaku di media sosial. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas tidur yang cukup, mengelola beban kerja agar tidak berlebihan, serta membatasi paparan media sosial. Seseorang juga perlu memiliki saluran pelepasan stres yang sehat untuk membantu mengurangi perilaku impulsif di ruang digital.

Pembatasan paparan media sosial sangat disarankan terutama ketika seseorang sedang merasa sangat lelah atau stres. Memiliki saluran pelepasan stres yang sehat, seperti hobi atau aktivitas fisik, juga dapat membantu mengurangi perilaku impulsif di ruang digital.

Ratih menegaskan bahwa kesadaran terhadap kondisi emosi adalah salah satu keterampilan krusial dalam menggunakan media sosial secara bijak. "Media sosial itu memang sebuah ruang untuk berekspresi. Tapi, media sosial bukan ruang yang bebas dari tanggung jawab,'" kata Ratih. Setiap unggahan yang dibuat di media sosial dapat mencerminkan karakter, nilai, dan integritas seseorang.

Oleh karena itu, pengguna media sosial perlu mempertimbangkan baik-baik kondisi emosinya sebelum memutuskan untuk mengunggah sesuatu. Ratih menyarankan masyarakat tidak terburu-buru menekan tombol unggah ketika sedang marah atau sangat lelah agar emosi sesaat tidak berkembang menjadi persoalan baru pada kemudian hari.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi