Video viral memperlihatkan pelajar berseragam sekolah menyeberangi sungai menggunakan rakit penyeberangan (getek). Rekaman itu menunjukkan para pelajar berdesakan bersama warga saat melintasi sungai.
Menanggapi hal itu, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah mengakui bahwa pemerintah kabupaten hingga kini belum dapat membangun jembatan permanen di lokasi tersebut. Alasannya keterbatasan anggaran.
“Kalau kabupaten sendirian belum mampu. Itu estimasi anggarannya sekitar Rp 80 miliar, belum termasuk pembenahan badan sungainya. Pondasinya harus cukup tinggi dan dalam karena arusnya deras,” kata Ela saat dikonfirmasi dikutip Liputan6, Minggu (1/2).
Advertisement
Kondisi Sungai Jadi Kendala
Ela menjelaskan, kondisi sungai yang lebar, berarus deras, dan kerap dilanda banjir menjadi tantangan teknis dalam pembangunan jembatan.
Pemerintah daerah, kata dia, sebelumnya telah mengalokasikan anggaran hampir Rp19 miliar dari APBD untuk pembangunan pondasi awal di kedua sisi sungai.
Namun, proyek tersebut belum dapat dilanjutkan secara penuh karena keterbatasan dana. Pemerintah daerah saat ini masih menjalin koordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari dukungan lanjutan.
“Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, BBWS, serta pemerintah pusat untuk mendorong percepatan pembangunan jembatan tersebut,” ujar Ela.
Advertisement
Disiapkan Jembatan Sementara Akses Warga
Sebagai langkah jangka pendek, Pemkab Lampung Timur berencana membangun jembatan sementara melalui program Jembatan Merah Putih yang melibatkan TNI. Infrastruktur sementara ini ditujukan untuk membantu mobilitas warga dan pelajar.
“Insya Allah triwulan pertama atau kedua akan dibangun Jembatan Merah Putih untuk sementara, sebagai afirmasi penyeberangan masyarakat dan anak-anak sekolah,” ungkap Ela.
Ia menambahkan, tim dari Kodim telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengukuran dan pendataan, termasuk menghitung jumlah pelajar yang setiap hari menyeberangi sungai.
Ela juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi tersebut dan menegaskan pemerintah daerah terus melakukan upaya penanganan.
“Kami terbuka terhadap kritik dari masyarakat. Itu justru menjadi bahan evaluasi bagi kami. Keterbatasan fiskal memang menjadi kendala, tetapi kami terus berikhtiar,” katanya.