Pemerintah Kabupaten Aceh Barat memastikan bahwa lebih dari 1.500 hektare lahan persawahan milik petani yang sebelumnya mengalami kerusakan ringan akibat bencana banjir bandang pada 26 November 2025, kini telah mulai ditanami ulang. Langkah ini menjadi angin segar bagi para petani di tengah upaya pemulihan pascabencana. Penanaman Padi Aceh Barat ini diharapkan dapat segera mengembalikan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat, Safrizal, mengungkapkan bahwa dari total 2.615 hektare lahan sawah yang rusak di Aceh Barat, sekitar 1.500 hektare masih layak untuk ditanami padi kembali. Lahan-lahan ini sebelumnya terendam banjir namun tidak memerlukan penanganan khusus yang berlarut-larut sebelum bisa ditanami ulang. Kondisi ini mempercepat proses Penanaman Padi Aceh Barat dan pemulihan ekonomi lokal.
Inisiatif Penanaman Padi Aceh Barat ini sangat krusial mengingat profesi petani merupakan mata pencarian utama bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Aceh Barat. Dengan dimulainya kembali penanaman padi, diharapkan kebutuhan beras masyarakat pascabencana alam banjir bandang dapat terpenuhi. Pemkab Aceh Barat terus berkoordinasi untuk memastikan kelancaran proses ini.
Advertisement
Advertisement
Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Barat pada 26 November 2025 lalu menyebabkan kerusakan signifikan pada areal persawahan. Total lahan sawah yang terdampak mencapai 2.615 hektare dengan kondisi kerusakan bervariasi, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga rusak berat. Namun, optimisme muncul dengan dimulainya Penanaman Padi Aceh Barat di lahan yang masih memungkinkan.
Safrizal menjelaskan bahwa lahan seluas 1.500 hektare yang kini mulai ditanami ulang adalah area yang hanya mengalami kerusakan ringan akibat terendam banjir. Kondisi ini memungkinkan petani untuk langsung melakukan penanaman tanpa harus menunggu proses rehabilitasi yang panjang.
Upaya pemulihan ini sangat penting tidak hanya untuk menjaga ketersediaan pangan lokal, tetapi juga untuk menopang ekonomi para petani yang sangat bergantung pada hasil pertanian. Kelanjutan Penanaman Padi Aceh Barat menjadi prioritas utama pemerintah daerah untuk memastikan keberlangsungan hidup masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah secara resmi melaporkan kerusakan areal sawah seluas 2.615 hektare kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Pelaporan ini bertujuan untuk mendapatkan penanganan dan bantuan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Sebaran lahan sawah yang terendam dan terdampak bencana alam banjir bandang mencakup beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Pante Ceureumen, Kecamatan Sungai Mas, Kecamatan Woyla Timur, Kecamatan Woyla Barat, Kecamatan Woyla, Kecamatan Arongan Lambalek, Kecamatan Samatiga, Kecamatan Meureubo, Kecamatan Kaway XVI, serta Kecamatan Johan Pahlawan.
Usia tanaman padi yang rusak akibat terjangan banjir bandang tersebut berkisar antara 7 hingga 20 hari usia tanam, menunjukkan bahwa bencana terjadi pada fase awal pertumbuhan tanaman. Kerugian ini mendorong Pemkab Aceh Barat untuk segera bertindak dan melaporkan kondisi tersebut.
Advertisement
Advertisement
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah melaporkan kerugian yang dialami kepada pemerintah pusat dengan harapan dapat disalurkan bantuan benih padi. Bantuan ini krusial untuk memastikan lahan pertanian dapat ditanami kembali secara optimal.
Menurut Safrizal, total bantuan benih padi yang saat ini dibutuhkan oleh petani di Aceh Barat mencapai lebih dari 43 ribu ton. Benih ini diperlukan untuk menanami sekitar 1.700 hektare lahan yang rusak akibat gagal tanam karena banjir bandang.
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penyaluran bantuan. Harapannya, dengan bantuan benih yang memadai, Penanaman Padi Aceh Barat dapat berjalan lancar dan hasil panen dapat kembali normal, mendukung ketahanan pangan daerah.
Advertisement
Sumber: AntaraNews