Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat menyalurkan dukungan psikososial kepada para penyintas banjir dan longsor di Provinsi Aceh. Inisiatif ini difokuskan pada pemulihan kesehatan mental keluarga serta komunitas yang terdampak bencana. Upaya ini dilakukan melalui Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag.
Program penting ini bertujuan untuk mengatasi dampak psikologis mendalam akibat bencana alam. Trauma pascabencana berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan mental serius. Kondisi seperti PTSD, kecemasan, dan depresi menjadi perhatian utama yang ditangani.
Dukungan psikososial ini diberikan di beberapa wilayah terdampak parah, termasuk Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Pelaksanaan program dimulai pada Jumat, 9 Januari, setelah bencana melanda. Kemenag berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bantuan tersalurkan optimal.
Advertisement
Advertisement
Dampak Bencana terhadap Kesehatan Mental
Bencana alam tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik pada infrastruktur dan properti masyarakat. Lebih dari itu, bencana juga memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan psikososial penyintas. Kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, dan orang tua menjadi prioritas utama perhatian.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag, Ahmad Zayadi, menegaskan pentingnya penanganan sistematis. Ia menjelaskan bahwa trauma pascabencana berpotensi memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD) jika tidak segera diatasi. Kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga konflik keluarga juga bisa muncul sebagai konsekuensi.
“Intervensi psikososial berbasis komunitas terbukti efektif untuk menekan dampak psikologis, memperkuat ikatan sosial, serta meningkatkan ketahanan keluarga,” ujar Ahmad Zayadi. Pendekatan ini juga memperkuat ikatan sosial di antara penyintas. Selain itu, program ini bertujuan meningkatkan ketahanan keluarga dalam menghadapi situasi sulit.
Advertisement
Advertisement
Strategi dan Pelaksanaan Dukungan Psikososial
Kemenag menerapkan berbagai metode dalam program dukungan psikososial ini. Metode seperti terapi bermain, storytelling, pelatihan coping, dan konseling keluarga menjadi pendekatan utama. Konseling keluarga juga diberikan untuk membantu pemulihan secara menyeluruh.
Pelaksanaan program ini merupakan hasil kolaborasi antara Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU). Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan sinergi kuat dalam penanganan bencana. Program ini melibatkan relawan penyuluh agama, penghulu, relawan organisasi kemasyarakatan NU, serta guru PAUD, TK, dan RA.
Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kemenag, Zudi Rahmanto, menyampaikan hasil asesmen Kanwil Kemenag Aceh. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sejumlah daerah mengalami dampak bencana berat dan berpotensi menimbulkan kerentanan sosial psikologis.
Advertisement
Fokus awal program dukungan psikososial berada di tiga kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Penetapan lokasi tersebut mempertimbangkan tingkat kerusakan, jumlah penyintas dan pengungsi, tingginya kelompok rentan, serta akses ke wilayah terdampak yang telah terbuka.
Advertisement
Aktivitas Pemulihan Trauma dan Edukasi
Berbagai aktivitas trauma healing telah digelar untuk membantu penyintas. Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, dan menggambar sebagai bagian dari terapi. Permainan sederhana ini berperan penting dalam memulihkan kepercayaan diri mereka dan menenangkan batin penyintas.
Sementara itu, para ibu duduk berkelompok, berbagi cerita, menumpahkan kegelisahan yang selama ini terpendam. Forum ini menjadi wadah untuk saling mendukung dan menguatkan.
Mulyadi, seorang Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen, mengatakan pendampingan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak penyintas. “Kami memberikan Psychological First Aid, dukungan psikologis awal agar penyintas merasa tenang, aman, dan tidak sendirian menghadapi situasi ini,” ujarnya.
Advertisement
Selain PFA, tim juga memberikan Respons Awal Kesehatan Mental dan Psikososial. Para relawan dibekali kemampuan melakukan penilaian cepat terhadap kondisi mental penyintas, sehingga bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran. Edukasi tentang kesehatan mental, mulai dari mengenali gejala hingga pertolongan pertama pada gangguan mental, juga diberikan.
Sumber: AntaraNews