Kenaikan utang PT PLN (Persero) sebesar Rp156 miliar per hari menjadi sorotan publik. Akun media sosial @aliftowew menyoroti hal ini dengan memaparkan hitungan-hitungan rinci terkait lonjakan utang perusahaan listrik negara tersebut, memicu perbincangan luas di kalangan netizen dan pengamat keuangan.
Dalam akun itu mengatakan, padahal masyarakat selalu membayar secara cash dan masih bisa adanya kerugian. Oleh karenanya, ia pun melakukan perhitungan.
"Rp156 miliar dapat dari mana? Kalau kita lihat dari data, 2023 itu utang PLN Rp655 triliun. 2024 naiknya jadi Rp711 triliun. Artinya ada kenaikan Rp56 triliun. Ini kalau per bulan berarti kan Rp4,7 miliar. Kalau dibagi perhari berarti Rp156 miliar perhari. Nah dapatlah dari sini angka ini tuh," kata Alif dalam akun pribadinya seperti dikutip merdeka.com, Senin (5/1).
Advertisement
Utang Melainkan Rugi
Menurutnya, yang perlu digarisbawahi adalah jumlah itu bukan utang melainkan rugi. Karena, utang itu disebutnya bukan berarti rugi.
"Kenapa masih ada utang? Padahal kita bayar cash nih. Kalau kita lihat dari data, walaupun kita bayar cash, sebenarnya ini harga yang sudah disubsidi. Jadi harga resminya itu dari produksi itu 1.800 listrik itu. Tapi kita bayarnya 1.400 sama 600," sebutnya.
"Ini disubsidi oleh pemerintah. Dan pemerintah di sini juga katanya ada pembayaran yang tertunda nih. Dari 2023 belum ada yang terbayar gitu ya sisanya. Ya mungkin lah PLN berhutang untuk menutupi ini. Mungkin ya," sambungnya.
Advertisement
Naiknya Utang
Jebolan ITB ini menegaskan, naiknya utang bukan berarti adanya kerugian dari PLN. Namun, harapanya jika utang naik maka laba atau keuntungan menjadi ikut naik.
"Nah tapi kalau kita lihat laba di tahun yang sama, laba PLN itu turun. Minus Rp4,3 triliun. Jadi kenaikan utang ini tidak diimbangi dengan pendapatan. Karena bisa dibayangkan juga sih. Karena kan harga itu harus dari pemerintah ya," tegasnya.
"Terus ada subsidi, kemudian ada kerugian kurs dan lain-lain. Kemudian kalau kita lihat dari aset nih, 2023 sama 2024, aset PLN itu segini. 1670T, yang ini 1770T. Dan laba yang dihasilkan tadi segini kan. Berarti ROA atau Return on Assetnya itu cuma 1%. Ini artinya lebih rendah nih dari deposito bank," tambahnya.
Sehingga, jika masyarakat menyimpan uang ini di Bank. Maka akan dapat returnnya 4,5% sampai 6% dan sedangkan PLN hanya 1%.
"Tapi perlu kita lihat ya, tujuan utama dari PLN itu bukan keuntungan semata ya, melainkan layanan publik. Tadi kan harga-harga ada regulasi dan subsidinya. Jadi ya PLN ini lebih ke publik, bukan keuntungan doang. Tapi ini sebenarnya masih bisa dimaksimalkan," paparnya.
"Kenapa? Kalau kita lihat dari ini, dari data nih, ada sekitar ini di desil 8910, artinya ini adalah masyarakat yang sangat mampu, 40% masih dinikmati nih oleh masyarakat mampu sih subsidi ini. Artinya subsidinya tidak tepat sasaran. Kalau ini bisa ditekan, jadi labanya bisa naik nih. Mudah-mudahan bisa sekitar 6% lah, mirip kayak deposito," sambungnya.
Advertisement
Penjelasan PLN
Secara terpisah, berdasarkan akun resmi @pln_id menjelaskan terkait dengan hutang Rp711 triliun PLN. Bahkan, berdasarkan akun tersebut jika permasalahan itu kerap dibahas oleh pakar ekonom.
"PLN Utang 711 Triliun? Inget ya Electrizen, utang ≠ rugi. Hal ini sudah sering dibahas oleh pakar ekonom dan yuk budayakan melihat data dan konteks tidak hanya judul berita saja," tulis akun @pln_id.
Menurutnya, utang PLN bukan untuk menutup kerugian. Melainkan untuk membangun masa depan listrik Indonesia.
"PLN memiliki tugas membangun kelistrikan di seluruh Indonesia sampai ke pelosok, di saat yang bersamaan juga menjadi pemimpin transisi energi berkeadilan," jelasnya.
"Yuk, bersama menjadi Electrizen untuk bangun Indonesia menjadi bangsa yang memiliki ketahanan di masa depan!," sambungnya.
Berdasarkan beberapa foto dalam slide akun itu disebutkan jika listrik 24 yang dinikmati oleh masyarakat setiap harinya dibangun dari investasi.
"Listrik 24 jam yang kamu nikmati hari ini, dibangun dari investasi itu. Listrik yang kamu pakai hari ini, dari charger HP sampai AC kamar, semua berdiri di atas investasi besar ini. Dan kamu tahu? Agar semua saudara-saudari kita menikmati hal yang kamu rasakan, itu kami melistriki sampai ke pelosok," tulis dalam caption foto.
Lalu, pada slide berikutnya menyebutkan PLN faktanya masih untung belasan hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
"Utang PLN Masalah (X). Membangun listrik Indonesia (✔️) bukan untuk menutup kerugian. Tapi untuk bangun pembangkit listrik, lebih dari 20 juta tiang, kabel yang panjangnya hampir 2 kali melingkari bumi dan biaya investasi-investasi masa depan lainnya. Dan ini demi kita semua yang ada dari Aceh sampai Papua," paparnya.
Pada slide selanjutnya dipastikan, hal itu bukan krisis melainkan untuk pembangunan tiang.
"Ini bukan krisis, ini pembangunan. So, ingat Electrizen, utang ≠ rugi ya. Kita tidak perlu dipuji, kita tidak perlu dipuja. Yang kami harap adalah kita semua tahu bahwa kita sedang membangun masa depan listrik Indonesia," katanya.