Unand Kelola Rp60 Miliar Dana Riset dan Hilirisasi pada 2025, Rektor Ungkap Strategi Dampak Masyarakat

Universitas Andalas (Unand) akan mengelola Rp60,12 miliar dana riset dan hilirisasi pada 2025. Rektor Efa Yonnedi membeberkan komitmen kampus dalam mendorong inovasi berdampak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unand Kelola Rp60 Miliar Dana Riset dan Hilirisasi pada 2025, Rektor Ungkap Strategi Dampak Masyarakat
Universitas Andalas (Unand) berhasil mengelola Rp60,12 miliar dana riset dan hilirisasi pada 2025, menandai komitmen kuat dalam pengembangan inovasi dan dampak nyata bagi masyarakat. (AntaraNews)

Universitas Andalas (Unand) menargetkan pengelolaan anggaran sebesar Rp60,12 miliar pada tahun 2025. Dana ini secara khusus dialokasikan untuk memperkuat sektor riset dan hilirisasi produk inovatif. Komitmen ini menunjukkan upaya serius Unand dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Rektor Unand, Efa Yonnedi, menyampaikan informasi penting ini di Kota Padang pada Sabtu, saat prosesi Wisuda V Tahun 2025. Anggaran besar tersebut bertujuan untuk memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti di tahap prototipe, namun mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Pengelolaan dana riset dan hilirisasi ini merupakan langkah strategis Unand sebagai perguruan tinggi tertua di luar Pulau Jawa. Tujuannya adalah meningkatkan relevansi riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat, serta memacu inovasi yang berkelanjutan.

Detail Anggaran dan Capaian Riset Unand

Efa Yonnedi menjelaskan bahwa total dana sebesar Rp60,12 miliar tersebut akan dialokasikan untuk membiayai 1.191 program riset. Jumlah ini mencerminkan skala ambisius Unand dalam memajukan penelitian di berbagai bidang keilmuan. Fokus utama adalah menghasilkan inovasi yang memiliki potensi komersial tinggi.

Dari berbagai program riset yang telah berjalan, Unand mencatat capaian signifikan. Sebanyak 10 produk riset berhasil dikomersialisasikan, menunjukkan keberhasilan transfer teknologi dari kampus ke pasar. Selain itu, tiga invensi baru juga telah dihasilkan, memperkaya khazanah inovasi nasional.

Keberhasilan hilirisasi ini juga tercermin dari pendapatan yang berhasil dicapai, yakni lebih dari Rp622 juta. Angka ini membuktikan bahwa riset yang dilakukan Unand tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat diukur. Sumber dana riset Unand ini berasal dari dua kementerian serta berbagai mitra kampus dan dosen.

Komitmen internal Unand terhadap riset sangat kuat. Kampus ini mengalokasikan 10 persen dari total anggarannya khusus untuk kegiatan riset dan inovasi. Kebijakan ini menegaskan prioritas Unand dalam mendukung ekosistem penelitian yang produktif dan berkelanjutan.

Tantangan dan Strategi Hilirisasi Inovasi

Sebagai seorang ekonom, Efa Yonnedi menyoroti salah satu tantangan terbesar bagi para peneliti dan inventor. Tantangan tersebut adalah memastikan produk riset yang dihasilkan benar-benar memberikan dampak positif kepada masyarakat. Seringkali, riset berhenti pada tahap prototipe dan gagal mencapai komersialisasi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Unand menekankan pentingnya perluasan jaringan dengan dunia usaha. Kolaborasi ini krusial agar inovasi atau produk yang dihasilkan memiliki pasar yang jelas dan dapat diterima oleh konsumen. Keterlibatan industri sejak awal dapat memandu arah riset agar lebih relevan.

Kolaborasi dengan dunia industri juga bertujuan untuk memetakan kebutuhan masyarakat saat ini. Dengan memahami apa yang dibutuhkan pasar, peneliti dapat mengarahkan riset mereka untuk menciptakan solusi yang tepat guna. Hal ini akan memastikan bahwa inovasi yang dibuat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Efa Yonnedi mengutip, "Selama ini kelemahannya adalah riset for riset. Artinya, riset ini nanti manfaatnya bagi masyarakat apa?" Pernyataan ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari riset yang hanya berorientasi publikasi menjadi riset yang berorientasi dampak dan kebermanfaatan sosial-ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi