Upaya Evakuasi Longsor Banjarnegara Tertunda, 26 Orang Masih Hilang

Basarnas memberikan informasi terbaru mengenai situasi operasi pencarian korban tanah longsor yang terjadi di Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Muhamad Ridlo
Oleh Muhamad Ridlo- Reporter
Upaya Evakuasi Longsor Banjarnegara Tertunda, 26 Orang Masih Hilang
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii (© 2025 Liputan6.com)

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memberikan penjelasan mengenai situasi terbaru dalam operasi pencarian korban tanah longsor di Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Hingga Kamis siang, 20 November 2025, atau pada hari ketiga setelah terjadinya longsor, tercatat sebanyak 26 orang masih hilang dan sedang dalam proses pencarian. Berdasarkan informasi yang diterima Basarnas hingga Rabu malam, sebanyak 50 warga telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sedangkan tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan 26 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Syafii menekankan bahwa angka tersebut bukanlah hasil penilaian Basarnas, melainkan berdasarkan laporan resmi yang diterima.

"Jumlah itu bukan Basarnas yang menentukan, tapi berdasarkan laporan resmi yang masuk. Tugas kami adalah mencari korban-korban yang dilaporkan hilang. Itu yang kita laksanakan," ujarnya saat meninjau lokasi longsor di Cilacap pada Kamis, 20 November 2025.

Ia juga menjelaskan bahwa karakteristik bencana di wilayah tersebut hampir serupa dengan longsor yang terjadi di daerah lain di Jawa Tengah, yaitu longsoran yang menghancurkan pemukiman warga yang berada di tepi ketinggian.

Menurut Syafii, salah satu tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah tingginya curah hujan. Kondisi ini mengakibatkan alat berat tidak dapat beroperasi secara efektif hingga pagi hari.

"Curah hujan di sana cukup tinggi, sehingga alat berat sampai pagi hari ini belum efektif untuk membantu operasi yang kita laksanakan," jelasnya.

Dengan adanya kendala tersebut, upaya pencarian dan penyelamatan akan terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan tim yang terlibat.

Tinjau kondisi tanah

Setelah melakukan tinjauan terhadap operasi pencarian dan penyelamatan di Cilacap, Syafii menyatakan bahwa ia akan segera menuju Banjarnegara untuk mengevaluasi kondisi struktur dan lapangan. Ia menekankan pentingnya analisis terhadap kondisi tanah yang akan dilakukan bersama dengan BMKG sebelum menentukan langkah kerja selanjutnya.

"Kita akan evaluasi perkembangan struktur dan bekerja sama dengan BMKG untuk melihat kondisi maupun potensi pergerakan tanah," ujarnya.

Syafii juga membahas mengenai penanganan jangka panjang dan kemungkinan relokasi bagi warga yang terdampak. Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah selanjutnya terkait penataan kawasan adalah tanggung jawab BNPB dan instansi pemerintah lainnya yang memiliki keahlian di bidang tersebut.

"Apakah wilayah itu akan dialihkan atau dihidupkan kembali, itu tanggung jawab BNPB dan badan-badan negara lain. Potensi longsor susulan harus diperhatikan," katanya.

Ia memastikan bahwa operasi pencarian di Banjarnegara akan terus berlanjut dengan fokus pada keselamatan para personel SAR. Selain itu, metode kerja juga akan disesuaikan dengan kondisi cuaca dan stabilitas tanah yang ada, guna meminimalisir risiko selama proses pencarian.

Rekomendasi