Tahukah Anda? Permainan Tradisional Kembalikan Keriangan Anak yang Hilang di Tengah Gempuran Gawai

Di tengah euforia digital, anak-anak kehilangan masa kecil yang utuh. Permainan tradisional hadir sebagai solusi mengembalikan keriangan dan interaksi sosial yang berharga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Permainan Tradisional Kembalikan Keriangan Anak yang Hilang di Tengah Gempuran Gawai
Di tengah euforia digital, anak-anak kehilangan masa kecil yang utuh. Permainan tradisional hadir sebagai solusi mengembalikan keriangan dan interaksi sosial yang berharga. (AntaraNews)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, muncul kekhawatiran akan hilangnya masa kecil yang utuh pada anak-anak. Ruang bermain fisik kini banyak tergantikan oleh interaksi daring melalui gawai. Anak-anak kita tertawa tanpa teman, dan suara riuh yang dulu menggema di halaman kini berganti dengan dengung kipas gawai serta cahaya layar yang jarang jeda.

Masa kecil, yang seharusnya penuh debu, peluh, dan teriakan “lagi!...lagi!”, kini dikemas dalam bentuk level, poin, dan notifikasi. Dunia digital menjanjikan keasyikan tanpa batas, namun diam-diam menelan keriangan yang dulu terasa sederhana tapi begitu manusiawi.

Ironisnya, di tengah kehilangan itu, justru di berbagai forum resmi, industri gim sering dielu-elukan sebagai bukti kemajuan bangsa. Sebagai upaya menyeimbangkan arus tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) kini mulai menggencarkan kembali permainan tradisional melalui berbagai kampanye di sejumlah daerah.

Ketika Keriangan Masa Kecil Terganti Layar Gawai

Dunia digital menjanjikan keasyikan tanpa batas, namun secara perlahan menelan keriangan yang dulu terasa sederhana. E-sport dijadikan simbol prestasi, bukan lagi sekadar permainan, sementara program pelatihan dan festival digital digencarkan dengan semangat nyaris heroik. Tak keliru memang, sebab ekonomi kreatif perlu tumbuh, namun anak-anak adalah manusia kecil yang masih butuh tanah untuk berlari dan teman untuk tertawa.

Kita hidup di zaman yang menukar ruang bermain dengan ruang daring, di mana halaman menjadi parkiran dan lapangan menjadi bangunan. Interaksi sosial berubah menjadi koneksi digital, dan kebijakan yang seharusnya menjaga keseimbangan justru ikut arus pasar. Seakan-akan, masa depan bangsa bisa diunduh, cukup dengan paket data dan sinyal kuat.

Sepertinya ada yang ganjil di sini, ketika anak-anak tak lagi mengenal bagaimana rasanya menunggu giliran dalam permainan karet, atau belajar sportif dari gobak sodor. Maka yang hilang bukan hanya tradisi tapi pondasi empati. Psikolog perkembangan Erik Erikson, perintis teori psikososial dari Harvard University, pernah menegaskan bahwa “masa kanak-kanak adalah fase penting pembentukan identitas dan rasa percaya diri sosial.”

Fenomena ini menunjukkan betapa kemajuan tak selalu berarti kebahagiaan. Ada keriangan yang hilang di tengah hiruk pikuk teknologi, dan ada halaman yang sepi di tengah kota yang kian ramai. Pemerintah boleh berbangga atas kemajuan digital, namun kemajuan sejati seharusnya menyentuh jiwa warganya, bukan sekadar menatap layar, melainkan menatap sesama.

Menghidupkan Kembali Interaksi Lewat Permainan Tradisional

Barangkali, yang paling merindukan tawa anak-anak di halaman bukanlah rumput yang mulai jarang diinjak, melainkan kita para orang dewasa yang diam-diam kehilangan denyut masa kecil. Dulu, tanah lapang menjadi ruang belajar paling jujur, tempat anak-anak mengenal arti kalah, berlatih sabar, dan memahami makna kebersamaan tanpa perlu definisi. Kini, halaman itu berganti layar, dunia maya menggantikan dunia nyata, dan keriangan pun tersandera dalam genggaman.

Hal yang lebih menyedihkan, banyak orang tua tak lagi peka terhadap kehilangan itu, mereka bangga anaknya “melek digital” meski nyatanya semakin jauh dari kehidupan sosial. Alih-alih mendengar suara tawa sore hari, yang terdengar hanya bunyi notifikasi dan percakapan daring tanpa tatapan. Generasi yang lahir di antara sinyal kuat dan cahaya layar, tumbuh dengan kemampuan berkomunikasi yang rapuh.

Untungnya, di sela-sela keheningan itu masih ada secercah harapan. Di berbagai daerah, komunitas dan kelompok masyarakat mulai berinisiatif menghidupkan kembali permainan tradisional, bukan sekadar demi nostalgia, tapi sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap keterasingan modern. Di Surabaya misalnya, Kampoeng Dolanan mengajak anak-anak bermain gobak sodor, lompat tali, hingga balap karung di ruang publik. Sementara di Padang, komunitas Amai Main rutin menggelar kegiatan Lapau Dolanan di ruang publik, mengenalkan permainan khas Minang seperti galah panjang, cak bur, dan coki-coki.

Di Provinsi Jawa Tengah, pemerintah daerah menggelar “Festival Anak” untuk mengenalkan permainan tradisional seperti lompat tali, yoyo, dan engklek kepada anak-anak. Melalui program Gerakan Bermain Tradisional Indonesia, pemerintah mendorong sekolah dan masyarakat untuk membuka kembali ruang bermain anak di luar kelas. Upaya itu mungkin tampak sederhana, tapi di situlah letak keberanian: menolak arus cepat zaman demi menjaga akar kebahagiaan masa kanak-kanak.

Peran Penting Permainan Tradisional dalam Tumbuh Kembang Anak

Kalaupun tidak bisa mengulang waktu, kita masih bisa memutar kembali kebahagiaan masa kecil lewat permainan sederhana yang sarat makna. Tidak perlu menunggu realisasi program pemerintah atau sponsor korporasi, cukup halaman rumah, seutas tali atau sebatang bambu, dan sedikit kemauan untuk ikut tertawa bersama anak-anak. Anak-anak masa kini mungkin tak lagi mengenal nama permainan egrang, bentengan, atau congklak, namun mereka tak akan menolak jika kita ajak mencoba.

Psikolog perkembangan Jean Piaget, peneliti dari Universitas Genève, menegaskan bahwa “anak belajar paling efektif melalui pengalaman konkret yakni dengan menyentuh, mencoba, dan berinteraksi langsung dengan lingkungannya.” Sementara Lev Vygotsky, ilmuwan psikologi asal Rusia, menyebut permainan sosial sebagai “laboratorium kehidupan”, tempat anak mengembangkan kemampuan bahasa, imajinasi, dan empati.

Saat tubuh bergerak, otak mereka pun ikut tumbuh, saat tertawa bersama, jiwanya belajar menyatu. Tak ada algoritma yang bisa menggantikan pengalaman itu. Peran kita sederhana: hadir, letakkan gawai sejenak, ajak anak menata kelereng, melempar bola, atau sekadar berlari mengejar bayangan senja. Tidak perlu teori pengasuhan anak yang rumit, cukup ikut tertawa bersama, lalu biarkan rumput kembali diinjak.

Dan bila suatu hari nanti anak-anak itu tumbuh dewasa, mungkin mereka akan tersenyum melihat halaman kosong, lalu berkata dalam hati: “Di sini dulu, aku pernah benar-benar bermain”. Itulah momen ketika kita sadar bahwa kebahagiaan anak tak (sepenuhnya) perlu koneksi internet, hanya butuh riuh pergumulan sesama.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi