Fakta Unik: 63 Sekolah Prioritas, Dindikbud Upayakan Dana Pusat untuk Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang yang Rusak Parah

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang tengah berupaya keras mengamankan dana pusat dan APBD untuk Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang yang rusak, membuat siswa belajar bergantian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: 63 Sekolah Prioritas, Dindikbud Upayakan Dana Pusat untuk Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang yang Rusak Parah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang tengah berupaya keras mengamankan dana pusat dan APBD untuk Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang yang rusak, membuat siswa belajar bergantian. (AntaraNews)

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang sedang mengupayakan dua sumber pendanaan untuk merehabilitasi SDN Cirangkong 1. Upaya ini dilakukan karena kondisi sekolah yang rusak parah dan kekurangan ruang kelas yang memadai. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan membutuhkan penanganan segera dari pihak berwenang.

Sekolah dasar yang berlokasi di Serang ini mengalami kerusakan pada enam ruang kelas, dengan tiga di antaranya rusak ringan dan tiga lainnya rusak sedang. Selain itu, SDN Cirangkong 1 hanya memiliki lima kelas untuk melayani enam rombongan belajar (rombel) siswa. Kesenjangan antara jumlah kelas dan rombel ini menjadi kendala utama dalam proses belajar mengajar.

Akibat kondisi tersebut, Kepala SDN Cirangkong 1, Pe'i, mengungkapkan bahwa sistem belajar bergantian (shift) terpaksa diterapkan bagi siswa kelas 1 dan 2. Penanganan mendesak diperlukan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan optimal dan siswa mendapatkan lingkungan belajar yang layak.

Upaya Ganda Dindikbud untuk Perbaikan Infrastruktur

Analis Data Sarana dan Prasarana Dindikbud Kabupaten Serang, Aliun, menjelaskan bahwa pihaknya akan mencoba mengusulkan rehabilitasi SDN Cirangkong 1 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada tahun 2026. Usulan ini merupakan langkah awal dalam mengatasi permasalahan infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut. Proses pengajuan ini memerlukan koordinasi intensif antar pihak terkait.

"Mungkin akan dicoba untuk diusulkan untuk di rehabilitasi dulu. Kalau pengajuan, namanya usulan, kita mengusulkan untuk tahun 2026, ini sebatas usulan ya. Balik lagi, itu tergantung anggaran juga," kata Aliun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa proses pengajuan anggaran memerlukan pertimbangan ketersediaan dana dan prioritas lainnya.

Menyadari keterbatasan APBD Kabupaten Serang, Dindikbud tidak hanya bergantung pada dana daerah. Mereka juga secara proaktif mendorong usulan bantuan ke pemerintah pusat melalui program revitalisasi pendidikan. Ini adalah strategi penting untuk mempercepat proses Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang dan memastikan sumber daya yang cukup.

Peran Data Dapodik dalam Mendapatkan Dana Pusat

Aliun menekankan bahwa upaya mendapatkan dana pusat sangat bergantung pada validitas data yang diinput sekolah melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Kesesuaian data Dapodik dengan kondisi riil di lapangan menjadi syarat mutlak agar verifikasi berhasil. Data yang akurat dan terkini sangat krusial untuk proses pengajuan bantuan.

"Makanya di sini kita minta bantuan ke sekolah supaya pengisian data Dapodik itu sesuai dengan kondisi yang ada di sekolah," ujarnya. Ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara dinas dan pihak sekolah dalam memastikan kelengkapan dan keakuratan data. Pengisian data yang tidak sesuai dapat menghambat proses bantuan.

Saat ini, terdapat 707 sekolah negeri di Kabupaten Serang, dengan 63 sekolah di antaranya masuk dalam skala prioritas penanganan. Kondisi SDN Cirangkong 1 Serang menjadi salah satu dari 63 sekolah yang membutuhkan perhatian khusus. Prioritas ini ditetapkan berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak.

Dampak Kerusakan dan Sistem Belajar Bergantian

Kepala SDN Cirangkong 1, Pe'i, menjelaskan bahwa kondisi sekolah saat ia mulai bertugas pada September 2021 sudah memprihatinkan. Kerusakan bangunan dan minimnya ruang kelas yang layak pakai memaksa pihak sekolah mengambil tindakan darurat. Kondisi ini tentu mempengaruhi kualitas pembelajaran siswa.

Sistem belajar bergantian (shift) diterapkan bagi siswa kelas 1 dan kelas 2 sebagai solusi sementara. "Sistem bergantian ini diterapkan untuk siswa kelas 1 dan kelas 2," kata Pe'i. Ini adalah konsekuensi langsung dari kurangnya fasilitas yang memadai dan upaya untuk tetap menjaga kegiatan belajar.

Penerapan sistem shift ini terpaksa dilakukan karena kurangnya ruang kelas, serta kondisi bangunan yang mengalami kerusakan serius. Rehabilitasi SDN Cirangkong 1 Serang diharapkan dapat mengakhiri sistem ini dan mengembalikan kenyamanan serta efektivitas belajar siswa di lingkungan yang aman dan memadai.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi