Wamen PPPA: Pentingnya 1% Ruang Kreatif untuk ABK, Dorong Dukungan Inklusif Anak Berkebutuhan Khusus

Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya dukungan inklusif ABK melalui sinergi lintas sektor, termasuk alokasi 1% ruang kreatif di acara publik, guna menciptakan ekosistem yang memberdayakan Anak Berkebutuhan Khusus.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Wamen PPPA: Pentingnya 1% Ruang Kreatif untuk ABK, Dorong Dukungan Inklusif Anak Berkebutuhan Khusus
Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya dukungan inklusif ABK melalui sinergi lintas sektor, termasuk alokasi 1% ruang kreatif di acara publik, guna menciptakan ekosistem yang memberdayakan Anak Berkebutuhan Khusus. (AntaraNews)

Jakarta, 04 Oktober – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menegaskan pentingnya dukungan yang inklusif dan kolaboratif bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Penanganan dan pemberdayaan ABK tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi melalui sinergi lintas kementerian dan berbagai elemen masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Veronica dalam sambutannya di acara Special Kids Expo (SPEKIX) 2025 yang berlangsung pada hari Sabtu. Ia menyoroti bahwa ABK memerlukan perhatian ekstra yang membutuhkan upaya kolektif dari berbagai pihak, bukan hanya satu entitas saja.

Oleh karena itu, Wamen PPPA menekankan bahwa tugas kementerian adalah merajut tata kelola yang efektif melalui kerja sama antara pemerintah dan komunitas, seperti SPEKIX, untuk memastikan ABK mendapatkan dukungan yang komprehensif.

Sinergi Lintas Sektor untuk Dukungan Inklusif ABK

Veronica Tan menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang berbeda dengan disabilitas pada umumnya, sehingga memerlukan pendekatan penanganan yang lebih spesifik dan terpadu. Menurutnya, upaya pemberdayaan ini tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak saja.

Anak berkebutuhan khusus beda sekali dengan disabilitas, mereka perlu perhatian ekstra. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tugas kami untuk menjahit tata kelolanya melalui kerjasama antara kementerian dengan komunitas seperti SPEKIX,” ujar Veronica.

Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dinilai krusial untuk menciptakan sistem dukungan yang holistik. Sinergi ini mencakup aspek edukasi, terapi, hingga penyediaan fasilitas yang ramah ABK di berbagai lini kehidupan.

Membuka Ruang Partisipasi dan Kreativitas ABK

Lebih lanjut, Veronica Tan juga mengimbau agar wadah-wadah publik yang besar, seperti Art Jakarta atau Inacraft, dapat memberikan ruang partisipasi bagi ABK. Ia mengusulkan alokasi minimal 1% dari total ruang yang tersedia untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

“Forum-forum seperti Art Jakarta atau Inacraft yang harusnya bagaimana kita bisa menjahit bersama. Seharusnya diberikan 1% untuk partisipasi anak-anak autism mempunyai wadah. Sehingga mereka bisa berbahagia,” lanjutnya.

Langkah ini diharapkan dapat memfasilitasi ABK untuk menyalurkan kreativitas dan bakat mereka, sekaligus membentuk ekosistem yang lebih ramah dan memberdayakan. Dengan adanya ruang partisipasi, ABK dapat merasa lebih dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi.

SPEKIX 2025: Wadah Peningkatan Pemahaman dan Dukungan Berkelanjutan

Acara SPEKIX 2025 sendiri menjadi platform penting yang menghadirkan berbagai pameran, seminar, dan kegiatan edukatif. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh ABK.

Ratusan peserta, mulai dari orang tua, tenaga pendidik, hingga pegiat komunitas, turut serta dalam acara ini. Mereka berinteraksi dan berbagi pengalaman untuk mencari solusi terbaik dalam mendukung perkembangan ABK.

Pendiri Yayasan Spekix Asa Indonesia, dr. Sri Hartati, Sp.Mk, menyampaikan rasa harunya melihat SPEKIX berkembang menjadi gerakan besar yang menyuarakan kesetaraan. Ia menekankan bahwa perjuangan ini bukan hanya soal edukasi atau akses terapi, tetapi juga tentang memastikan adanya sistem perlindungan dan dukungan berkelanjutan bagi anak-anak istimewa tersebut.

“Yang saya pikirkan sekarang bukan hanya bagaimana mereka belajar atau berkreasi, tapi siapa yang akan menjaga mereka ketika orang tua sudah tidak ada. Itu yang harus kita pikirkan bersama,” kata Sri Hartati, menyoroti pentingnya perencanaan jangka panjang untuk masa depan ABK.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi