Terungkap! 17 Tersangka Penculikan Kacab Bank Terbagi 4 Klaster, Ada Oknum TNI Terlibat

Polda Metro Jaya mengungkap peran 17 tersangka penculikan Kacab bank yang berujung kematian. Klaster pelaku terbagi empat, termasuk oknum TNI. Siapa saja mereka?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Terungkap! 17 Tersangka Penculikan Kacab Bank Terbagi 4 Klaster, Ada Oknum TNI Terlibat
Polda Metro Jaya mengungkap peran 17 tersangka penculikan Kacab bank yang berujung kematian. Klaster pelaku terbagi empat, termasuk oknum TNI. Siapa saja mereka? (Merdeka.com)

Polda Metro Jaya berhasil mengungkap secara rinci peran dan klaster dari 17 tersangka yang terlibat dalam kasus penculikan yang berujung pada kematian tragis Kepala Cabang Pembantu (KCP) salah satu bank di Jakarta Pusat, berinisial MIP (37). Pengungkapan ini memberikan titik terang mengenai jaringan pelaku yang terorganisir dalam melancarkan aksi keji tersebut.

Dari total 17 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, dua di antaranya merupakan oknum anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), yaitu Kopda FH dan Serka N. Keterlibatan oknum aparat ini menambah kompleksitas dan sorotan publik terhadap kasus kejahatan yang menggemparkan ibu kota.

Dalam jumpa pers yang digelar di Polda Metro Jaya, Selasa, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Wira Satya Triputra, menjelaskan bahwa para tersangka dibagi menjadi empat klaster. Pembagian ini meliputi otak perencana, eksekutor penculikan, pelaku penganiayaan, serta tim surveilans yang bertugas membuntuti korban.

Klaster pertama dalam kasus penculikan Kacab bank ini adalah otak perencana, yang terdiri dari empat orang. Salah satu tokoh sentral dalam klaster ini adalah C alias K, yang berperan sebagai koordinator utama. C alias K bertanggung jawab mengatur pertemuan dengan tersangka lain, merancang seluruh skenario kejahatan, hingga menyiapkan perangkat IT untuk memindahkan dana dari rekening dormant ke rekening penampung. Ia juga mengklaim memiliki akses data rekening dormant yang siap dieksploitasi.

Tersangka DH juga memiliki peran krusial dalam klaster perencana. Ia turut hadir dalam pertemuan perencanaan, menghubungi JP untuk membentuk tim penculik, serta menyiapkan individu-individu yang akan membuntuti korban. Selain itu, DH juga mengatur skenario penculikan secara detail dan menyediakan dana operasional yang disetorkan kepada JP untuk kelancaran operasi.

AAM merupakan tersangka lain yang terlibat dalam fase perencanaan. Ia hadir dalam pertemuan bersama C dan DH, aktif membantu merancang strategi penculikan, dan turut serta dalam mempersiapkan tim pengintai. Kehadiran AAM memastikan koordinasi yang lebih solid dalam menyusun rencana jahat tersebut.

Sementara itu, JP memiliki peran ganda yang signifikan. Selain mengumpulkan tim eksekutor bersama N, ia juga mengawasi jalannya pembuntutan korban dan terlibat dalam pembuangan jasad korban di Cikarang. JP bahkan mengucurkan dana kepada Serka N untuk memperlancar seluruh operasi kejahatan ini, menunjukkan tingkat keterlibatannya yang mendalam.

Klaster kedua beranggotakan lima orang yang bertindak sebagai eksekutor langsung dalam aksi penculikan terhadap MIP. Tersangka E menjadi orang pertama yang memaksa korban masuk ke dalam mobil Avanza putih. Ia juga yang melilitkan lakban ke wajah MIP dan mengikat tangannya dengan tali, memastikan korban tidak dapat melawan atau berteriak.

Kopda FH, salah satu oknum anggota TNI, menerima dana sebesar Rp45 juta yang kemudian ia bagikan kepada rekan-rekannya sesama eksekutor. Keterlibatan Kopda FH menunjukkan adanya dukungan finansial dan koordinasi di antara para pelaku untuk menjalankan misi penculikan ini.

Dalam proses penangkapan korban, REH membantu dengan memegangi korban dari belakang saat proses pengikatan berlangsung. Sementara itu, JRS bertugas menahan tangan kanan korban, dan AT menahan dari sisi kiri. Kerja sama ketiga tersangka ini berhasil melumpuhkan perlawanan MIP secara efektif, memastikan proses penculikan berjalan sesuai rencana.

EWB melengkapi klaster ini dengan perannya sebagai sopir mobil Avanza putih. Ia bertanggung jawab membawa korban keluar dari area parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Timur (Jaktim) setelah berhasil diculik. Perannya sangat penting dalam memindahkan korban dari lokasi awal penculikan.

Klaster ketiga terdiri atas lima orang yang terlibat dalam penganiayaan korban hingga meninggal dunia. JP, yang sebelumnya juga masuk dalam klaster perencana, kembali muncul di klaster ini dengan peran yang lebih brutal. Ia menginjak kaki korban di dalam mobil Fortuner hitam, yang menjadi tempat pemindahan MIP dari Avanza putih. JP juga ikut serta dalam pembuangan jasad korban bersama N.

Kombes Polisi Wira Satya Triputra menjelaskan, "JP ini berada di dalam mobil Fortuner hitam, yang mana korban ketika diculik itu dipindahkan dari Avanza putih ke Fortuner warna hitam." Pernyataan ini menegaskan transisi korban dari satu kendaraan ke kendaraan lain, di mana penganiayaan lebih lanjut terjadi.

Tersangka NU berperan sebagai sopir mobil Fortuner yang membawa korban dari Kemayoran menuju Bekasi, tempat jasad korban dibuang. Sementara itu, DSD menggantikan NU saat laju mobil mulai oleng, menunjukkan adanya pergantian peran untuk memastikan kelancaran perjalanan. Peran mereka sangat vital dalam proses pemindahan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian MIP.

Klaster keempat dalam kasus ini adalah tim surveilans, yang beranggotakan empat orang. Mereka memiliki tugas khusus untuk membuntuti dan memantau gerak-gerik korban MIP sebelum aksi penculikan dilakukan. Anggota tim ini meliputi AW, EWH, RS, dan AS.

Peran tim surveilans sangat penting dalam memastikan keberhasilan operasi penculikan. Mereka memberikan informasi vital mengenai rutinitas dan lokasi korban kepada klaster perencana dan eksekutor. Informasi akurat dari tim ini memungkinkan para pelaku untuk merencanakan waktu dan lokasi penculikan dengan presisi tinggi.

Kombes Polisi Wira Satya Triputra menegaskan bahwa setiap klaster memiliki tugas yang terkoordinasi dengan baik. "Klaster yang keempat adalah tim surveilans yang terdiri atas empat orang yang khusus ditugaskan membuntuti gerak-gerik MIP," ujarnya. Hal ini menunjukkan betapa terorganisirnya jaringan kejahatan ini, dengan pembagian tugas yang jelas di antara para tersangka.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi