Empat prajurit TNI Angkatan Laut melakukan penembakan terhadap nelayan menggunakan peluru karet. Dari empat nelayan, tiga di antaranya terluka dan kini masih dirawat di rumah sakit.
Penembakan terjadi di perairan Tanjung Jabung, Jambi, Sabtu (12/7). Semua nelayan berasal dari Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan, penembakan berawal dari patroli rutin menggunakan KRI Sutedi Senoputra-378 atau KRI SSA-378 yang dilakukan prajurit dan menemukan dugaan aktivitas ilegal di TKP.
Saat dilakukan pemeriksaan, para nelayan melarikan diri.Tunggul menyebut pihaknya telah berupaya melakukan peringatan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dalam patroli laut. Apalagi gelagat para nelayan mencurigakan prajurit.
"Kami tegaskan tindakan yang diambil prajurit di lapangan sudah sesuai dengan protap Kamla tahun 2009 terkait penghentian dan pemeriksaan kapal mencurigakan," ungkap Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tunggul, Kamis (17/7).
Advertisement
Sudah Diperingati
Tunggul menyebut sebelum penembakan juga prajurit TNI AL memberikan peringatan lewat pengeras suara dan tembakan peringatan ke udara menggunakan peluru hampa. Namun, upaya tersebut tidak diindahkan oleh para nelayan.
"Setelah memberikan peringatan, tim berusaha mendekat menggunakan speedboat tetapi kapal nelayan berusaha menabrakkan kapalnya," kata dia.
Setelah dilumpuhkan, empat nelayan ditangkap. Namun tiga orang terluka sehingga dilarikan ke rumah sakit di Bangka Belitung dan Palembang.
"Ada empat orang yang dibawa, tiga orang di antaranya dilakukan perawatan karena mengalami luka ringan," kata Tunggul.
Tunggul menambahkan, pihaknya mencurigai adanya penggunaan pukat trawl atau pukat harimau dalam menangkap ikan yang dapat merusak biota laut. Kondisi tersebut akhirnya membuat tim patroli bergerak melakukan peringatan yang akhirnya tidak diindahkan oleh para nelayan.
"Berdasarkan pengakuan ABK, benar bahwasannya menggunakan pukat trawl atau pukat harimau," kata Tunggul.