Dokter di Bulukumba Meninggal Usai Divaksin, Dinkes Sebut Ada Riwayat Hipertensi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulukumba belum bisa memastikan penyebab meninggalnya dr Andi Yuwardani Makmur. Dokter spesialis kejiwaan yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Sultan Dg Raja itu meninggal dunia tiga hari setelah mendapat suntikan ketiga atau booster vaksin Covid-19.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Dokter di Bulukumba Meninggal Usai Divaksin, Dinkes Sebut Ada Riwayat Hipertensi
Dokter Andi Yuwardani Makmur. Istimewa

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulukumba belum bisa memastikan penyebab meninggalnya dr Andi Yuwardani Makmur. Dokter spesialis kejiwaan yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Sultan Dg Raja itu meninggal dunia tiga hari setelah mendapat suntikan ketiga atau booster vaksin Covid-19.

Kepala Dinkes Bulukumba Wahyuni mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa Yuwardani memiliki riwayat penyakit hipertensi. "Keluarga pun menyampaikan memang ada itu (penyakit hipertensi)," ujar Wahyuni saat dihubungi melalui telepon, Rabu (25/8).

Meski disebutkan memiliki riwayat penyakit hipertensi, Wahyuni tak ingin cepat menyimpulkan penyebab meninggalnya Yuwardani. Ia menunggu hasil pemeriksaan dilakukan tim Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang sudah mulai melakukan investigasi.

"Jadi dalam hal ini nanti dari KIPI provinsi yang akan melakukan pemeriksaan, meninggalnya karena apa," kata dia.

Wahyuni mengungkapkan Yuwardani meninggal dunia di rumahnya pada Minggu (22/8). Dia mendapatkan suntikan vaksin ketiga atau booster pada Kamis (19/8).

"Jadi ada rentang waktu antara sudah divaksin dengan meninggalnya almarhumah. Saat vaksin dia tidak ada keluhan terkait KIPI," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinkes Sulsel dr Ichsan Mustari membenarkan adanya dokter di Bulukumba meninggal dunia beberapa hari setelah mendapatkan vaksin ketiga. Meski demikian, Ichsan belum bisa memastikan penyebab kematiannya.

"Sudah meninggal. Artinya kan kita mesti mencari dulu (penyebab kematiannya) dengan melakukan investigasi," ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (25/8).

Ichsan yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulsel ini mengatakan, investigasi dilakukan tim KIPI dari kabupaten dan provinsi. Ia mengaku tim KIPI sejak awal dibentuk untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi jika ada kejadian seperti ini.

"Tentu akan ada rekomendasi-rekomendasi akan diberikan (KIPI). Kita tahu sendiri ini kan vaksin covid pertama kali, tentu juga kejadian yang seperti itu tetap menjadi analisis tim untuk melihatnya," kata dia.

Rekomendasi