Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap strategi testing, tracing dan treatment (3T) yang saat ini dilaksanakan Kementerian Kesehatan. Budi menuturkan, strategi yang dianjurkan epidemiolog ini bakal membuat angka kasus positif Covid-19 melonjak naik. Ia pun sudah mengingatkan Presiden Joko Widodo.
"Jadi saya sudah ingatkan bapak presiden ini sudah terjadi di India, ini strategi di India. Yang akan terjadi nanti jumlah kasus akan naik karena akan lebih banyak yang terlihat," kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (9/2).
Masukan para epidemiolog idealnya dilakukan tracing dan testing terhadap 15 sampai 30 kontak erat dari setiap kasus aktif dalam waktu 72 jam. Supaya bisa diidentifikasi siapa yang tertular dan bisa diambil langkah isolasi.
"Tujuannya adalah bisa cepat mengidentifikasi siapa yang tertular dan mengisolasi untuk mengurangi laju tertular," jelas Budi.
Kementerian Kesehatan menggunakan strategi yang agresif untuk mengidentifikasi secepatnya, mengisolasi dan melihat siapa yang tertular Covid-19. "Strategi menangani pandemi diberikan seluruh epidemiolog konsisten cuma satu mengurangi laju penularan," kata Budi.
Lebih lanjut, untuk melaksanakan strategi tersebut butuh tambahan tracer. Rekomendasi WHO perlu 30 tracer per seratus ribu penduduk. Pemerintah membutuhkan 80 ribu tracer, sementara yang saat ini tersedia hanya 5.000 orang.
Agar jumlah tracer itu terpenuhi, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan TNI dan Polri. Dengan cara merekrut babinsa dan bhabinkamtibmas untuk melakukan tracing. Unit di TNI dan Polri ini akan diajarkan tracing dari puskesmas. Komando pemantauan tetap berada di puskesmas.
Budi mengatakan telah menggelar rapat gabungan dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pagi ini untuk memberikan arahan babinsa sebagai tracer.
"Kita rekrut yang kenal daerahnya cepat disiplin dia jalan. Itu sebabnya kita kontak dengan babinsa dan bhabinkamtibmas karena mereka masing-masing punya sekitar 60-80 ribu anggota hampir di seluruh desa," kata Budi.
Karena itu, Budi mengatakan jika angka Covid-19 melonjak, Presiden Jokowi dan anggota dewan tidak perlu panik. Sebab hal ini merupakan hasil strategi 3T yang dijalankan Kementerian Kesehatan. Ia pun mengajak anggota dewan untuk bersama-sama meredam kepanikan di masyarakat.
"Lebih baik kita lihat rilnya seperti apa sehingga strategi kita benar daripada kita lihat seakan-akan hanya sedikit tetapi kenyataannya lebih banyak sehingga langkah kita salah," pungkas Budi.