Forum Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Nonkategori Usia 35 Tahun ke Atas (GTKHNK35+) di Nusa Tenggara Timur terus memperjuangkan Keppres Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa tes.
Ketua GTKHNK35+, Elroy Abatan dalam musyawarah daerah mengatakan, para guru honor terus berjuang ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa, agar dapat menekan angka kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya pendidikan. Namun mereka sendiri masih jauh dari kata sejahtera.
"Lama pengabdian guru honor ini bervariasi, ada yang baru enam tahun dan ada yang sudah 23 tahun namun perjuangan untuk mensejaterakan diri selalu terkendala regulasi untuk mengikuti test PNS, karena dibatasi umur yang telah kadaluwarsa atau sudah di atas 35 tahun," jelas Elroy, Sabtu (19/12).
Menurut dia, di Nusa Tenggara Timur ada guru honorer yang sudah berusia 50 tahun, namun tetap bersemangat mengabdikan diri. "Kami benar-benar yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa, upah kami itu ada yang Rp130.000 per bulan dan ada juga yang Rp1 juta per bulan. Ini tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup, kami terpaksa mencari tambahan saat selesai jam sekolah, baik menjadi tukang ojek, tukang bangunan maupun bekerja kebun," ungkap Elroy.
Melalui wadah GTKHNK35+, Elroy bersama 2.886 guru honorer di Nusa Tenggara Timur ingin mendorong satu aturan untuk diangkat menjadi PNS tanpa test melalui Keppres.
GTKHNK35+ ini merupakan kumpulan guru honor di sekolah negeri yang sudah mengabaikan diri sebagai guru paling sedikit lima tahun dan telah berumur diatas 35 tahun.
"Perjuangan kami guru honorer untuk diperhatikan ini selalu terkendala regulasi dan keterbatasan anggaran pemerintah daerah, untuk dijadikan tenaga kontrak sehingga bisa mendapatkan upah sesuai UMK daerah," tutup Elroy.