Soal Video Azan dengan Seruan Jihad, Polisi Cek Kawasan Petamburan

Sambil mengecek asal mula kebenaran video tersebut, polisi mengimbau kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dan tetap menjaga keamanan dan ketertiban.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
Soal Video Azan dengan Seruan Jihad, Polisi Cek Kawasan Petamburan
Ilustrasi Polisi. ©2015 merdeka.com/imam mubarok

Kepolisian Sektor Tanah Abang langsung melakukan pengecekan ke lapangan untuk setelah viral video azan dengan ajakan jihad. Disebut-sebut video itu diambil di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.

"Kami, Bhabinkamtibmas sedang mencoba mengecek di daerah petamburan," kata Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Singgih Hermawan, saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (1/12).

Namun hingga saat ini, belum ditemukan apakah benar azan tersebut dibuat di Petamburan atau di wilayah lain.

"Tapi kami masih belum menemukan," terangnya.

Sambil mengecek asal mula kebenaran video tersebut, Singgih juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dan tetap menjaga keamanan dan ketertiban.

"Kami dari Polsek memberikan imbauan kamtibmas kepada masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban," imbaunya.

Video Azan dengan Seruan Jihad

Sebelumnya, viral video terkait adanya azan dengan ajakan jihad dengan lafal 'Hayya Alal Jihad' serta sejumlah orang membawa senjata tajam. Video tersebut diduga terjadi di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.

Menanggapi video itu, Kuasa Hukum Front Pembela Islam (FPI), Aziz Yanuar, mengatakan jihad salah satu yang ada dalam ajaran agama Islam.

"Ya menurut saya sih enggak masalah ya, jihad itu kan salah satu ajaran dalam agama Islam. Jadi enggak perlu kita paranoid lah gitu kan, sama saja kan Jihad, salat, puasa sama, itu kan bagian dari agama Islam. Jihad melawan hawa nafsu juga jihad kan. Jadi jangan kita terlalu paranoid," kata Aziz saat dihubungi, Senin (30/11).

Menurutnya, hal itu wajar dilakukan karena adanya ketidakadilan dan kezaliman serta penegakan hukum yang dinilai tebang pilih. Dia membantah, jika hal itu dilakukan terkait dengan permasalahan yang kini sedang dihadapi Rizieq Syihab.

"Terkait dengan yang menghubung- hubungkan dengan HRS ya. Saya rasa itu bukan terhadap HRS, tapi terhadap ketidakadilan, kezaliman yang luar biasa, terkait dengan penegakan hukum yang tebang pilih, penegakan hukum yang diduga berdasarkan kebencian dan ketidaksukaan hanya karena beroposisi dengan atau tidak sejalan dengan pendapat pemerintah, nah itu menurut saya dapat memicu kemarahan publik," jelasnya.

Azan dengan menyelipkan ajakan jihad itu, menurutnya, bukan yang pertama kali terjadi dan bukan hal yang baru. Sebelumnya, juga pernah terjadi di masjid sekitar Petamburan, Jakarta Pusat.

"Kalau saya sih pernah dengar, waktu dulu kasus-kasus yang ketika terjadi kerusuhan-kerusuhan itu, pernah saya dengar, tapi saya lupa kapan itu," ungkapnya.

"Bukan (pertama kali) banyak kok beberapa masjid seperti itu, saya pernah dengar," tambahnya.

Namun, dia tidak bisa memastikan kapan kejadian azan tersebut terjadi di Petamburan.

"Saya enggak tahu (tanggal berapa), karena saya melihatnya sama dari sebaran-sebaran di internet, di media sosial juga. Jadi saya enggak tahu dapet detail dari mana, kapan gitu, saya enggak paham," ujarnya.

Tanggapan Wamenag

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi angkat bicara terkait video seruan jihad melalui azan dilakukan sejumlah orang dengan membawa senjata tajam dan lafal 'Hayya Alal Jihad' yang viral di media sosial. Zainut mengatakan, panggilan itu tidak relevan jika jihad perang dikaitkan dengan situasi Indonesia saat ini.

"Jika seruan itu dimaksudkan memberi pesan berperang, jelas tidak relevan. Jihad dalam negara damai seperti Indonesia ini tidak bisa diartikan sebagai perang," kata Zainut kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/11).

Dia mengatakan belum bisa menyimpulkan maksud dari konten azan yang viral tersebut. Jika itu dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perang di Indonesia maka tidak relevan karena saat ini dalam situasi damai.

Untuk itu, Wamenag mengajak pimpinan ormas Islam dan para ulama untuk bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat agar tidak terjebak pada penafsiran tekstual tanpa memahami konteks dari ayat Al Quran atau Al Hadits.

Pemahaman agama yang hanya mendasarkan pada tekstual, kata dia, dapat melahirkan pemahaman agama yang sempit dan ekstrem. Apapun motifnya, video tersebut bisa berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi di masyarakat.

"Di sinilah pentingnya pimpinan ormas Islam, ulama dan kiai memberikan pencerahan agar masyarakat memiliki pemahaman keagamaan yang komprehensif," kata dia.

Dalam menyikapi persoalan tersebut, Zainut meminta setiap pihak untuk menahan diri, melakukan pendekatan secara persuasif dan dialogis sehingga bisa menghindarkan diri dari tindakan kekerasan dan melawan hukum.

Rekomendasi