Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak mengumumkan kesiapan 51 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini secara khusus menargetkan peserta didik serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) guna mengatasi masalah gizi.
Ketua Koordinator BGN Kabupaten Lebak, Asep Royani, pada Jumat lalu menyatakan bahwa dari total 51 SPPG yang direncanakan, lima di antaranya telah lolos verifikasi kelayakan. Lima SPPG ini dipastikan akan segera beroperasi pada pekan depan untuk menyediakan asupan gizi penting bagi penerima manfaat.
Sementara itu, 46 SPPG lainnya saat ini masih dalam tahap pembangunan di berbagai lokasi daerah 3T di Lebak. Setiap SPPG dirancang untuk dapat melayani maksimal 1.000 penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.
Advertisement
Advertisement
Kesiapan SPPG di Daerah 3T Lebak
Asep Royani menyampaikan harapannya agar seluruh SPPG khusus daerah 3T ini dapat beroperasi secepatnya. Percepatan operasional ini sangat krusial guna mempersiapkan generasi Emas 2045 yang sehat dan cerdas, bebas dari masalah stunting dan kekurangan gizi.
Lokasi SPPG di daerah 3T telah disesuaikan dengan kondisi geografis dan medan yang menantang, berbeda dengan SPPG reguler. Pendistribusian makanan bergizi dari dapur SPPG ke penerima manfaat akan membutuhkan kendaraan khusus, seperti mobil Toyota Hilux dengan kabin ganda, untuk menjangkau area sulit.
Pengalokasian SPPG 3T di Kabupaten Lebak tersebar di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Beberapa kecamatan yang menjadi fokus antara lain Kecamatan Cipanas, Lebak Gedong, Sobang, Cibeber, Panggarangan, Bojongmanik, Cirinten, Cigemblong, dan Leuwidamar.
Advertisement
Bahkan, beberapa SPPG didirikan di lokasi bekas bencana alam tahun 2020, di mana masyarakat setempat masih banyak yang tinggal di hunian sementara (huntara). "Kami komitmen untuk melayani Program Makan Bergizi Gratis agar anak-anak di daerah 3T tidak stunting maupun kekurangan gizi," tegas Asep.
Advertisement
Tantangan dan Kajian Khusus untuk Suku Badui
Selain fokus pada daerah 3T umum, BGN Kabupaten Lebak juga tengah melakukan pengkajian mendalam terkait implementasi Program Makan Bergizi Gratis untuk masyarakat Suku Badui. Kajian ini diperlukan karena anak-anak Suku Badui umumnya tidak bersekolah, sehingga pendekatan distribusi dan edukasi gizi harus disesuaikan.
Kondisi topografi permukiman Badui yang berada di kawasan tanah hak ulayat adat perbukitan dan pegunungan juga menjadi pertimbangan penting dalam kajian ini. Selain itu, kebiasaan masyarakat adat yang sebagian besar menghabiskan siang hari di kebun dan ladang untuk bercocok tanam padi huma, palawija, sayuran, dan tanaman lainnya, turut mempengaruhi skema distribusi.
Dengan kondisi demikian, Program Makan Bergizi Gratis di permukiman masyarakat Suku Badui memerlukan adanya kajian khusus agar program tersebut tepat sasaran untuk peningkatan pemenuhan gizi masyarakat. Kajian ini mencakup penyusunan petunjuk teknis (juknis) yang detail mengenai bagaimana pendistribusian MBG dapat diterima oleh anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di sana.
Advertisement
"Itu harus dipelajari supaya pendistribusian MBG benar-benar tidak menemukan kendala agar penerima manfaat dengan lancar dan aman," kata Asep Royani. Pendekatan yang hati-hati dan terencana ini diharapkan dapat memastikan bahwa manfaat Program Makan Bergizi Gratis dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk komunitas adat yang memiliki kekhasan tersendiri.
Sumber: AntaraNews