Cerita Lengkap Asal Muasal Masjid di Sukoharjo Hingga Terancam Dilelang Bank

Masjid Riyadhul Jannah, Jawa Tengah, viral di media sosial karena terancam disita pihak bank.

Syifa Hanifah
Oleh Syifa Hanifah - Reporter
Cerita Lengkap Asal Muasal Masjid di Sukoharjo Hingga Terancam Dilelang Bank
Masjid Riyadhul Jannah di Sukoharjo. Antara

Masjid Riyadhul Jannah di Kampung Bangsri Cilik RT 003 RW 01, Kelurahan Kriwan, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, viral di media sosial karena terancam disita pihak bank. Penyebabnya, masjid yang dibangun almarhum Yatimin Suyitno Diharjo, terancam disita BPR Central International, lantaran sertifikat tanah masjid tersebut sebagai agunan.

Berikut kronologis Masjid Riyadhul Jannah menjadi agunan hingga terancam dilelang bank.

Masjid Didirikan Tahun 2011

Ketua Umum Masjid Riyadhul Jannah Sri Mulyono mengatakan masjid yang dibangun di atas tanah 1.000 meter persegi tersebut mampu menampung sekitar 2 ribu jemaah. Saat dibangun masjid ini merupakan rumah Yatimin sebelum pindah ke Sukoharjo kota, karena sering kebanjiran akibat luapan Sungai Bengawan Solo.

"Kalau keluarga ini pindah ke daerah kota sana, sekitar tahun 1980. Tetapi baru didirikan masjid di tahun 2011 itu," kata Sri Mulyono di Sukoharjo, Senin (4/11). Dikutip dari Antara.

Saat Dijadikan Jaminan Bank Masih Berupa Rumah

Sementara itu Ketua Umum Masjid Riyadhul Jannah Sri Mulyono mengatakan tanah yang sudah dijadikan masjid ini menjadi jaminan saat masih berupa rumah.

"Awalnya tanah ini merupakan milik Yatimin Suyitno Diharjo, beliau ini pemilik perusahaan transportasi PO Wahyu Putro. Tanah ini dijadikan agunan bank saat masih berupa rumah," kata Mulyono.

Mulyono juga mengatakan salah satu anak pemilik tanah yang menjadikannya sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dari BPR hingga saat ini tidak mampu mengembalikan pinjaman tersebut.

"Setahu saya pinjamnya Rp400 juta. Dulu saat Pak Yatimin masih hidup tidak ada masalah seperti ini, tetapi setelah beliau meninggal permasalahannya baru muncul," ujarnya.

Ia mengetahui tanah tersebut menjadi agunan bank sekitar tahun 2014, di mana pada saat itu bank sering mendatangi Masjid Riyadhul Jannah.

"Setelah saya tahu kemudian saya datang ke keluarga Pak Yatimin. Di situ saya hanya dikasih tahu untuk tidak ikut memikirkan permasalahan bank, saya hanya disuruh fokus mengurus masjid," katanya.

Membentuk Donasi

Sementara itu, Ketua Umum Masjid Riyadhul Jannah Sri Mulyono mengatakan masjid seluas 300 m2 yang berdiri di tanah dengan luas 1.160 m2 ini sangat dibutuhkan oleh warga untuk beribadah.

"Dulu sebelum ada masjid ini kan masyarakat yang mau beribadah ke masjid jalannya agak jauh, jadi jarang warga sini yang ikut shalat berjemaah di masjid. Setelah berdiri masjid ini saya minta mereka lebih rajin datang dan ternyata cukup banyak yang datang," katanya.

Pascamaraknya pemberitaan tersebut, dikatakannya, sejumlah kalangan mulai berdatangan ke masjid karena ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.

"Ada yang dari luar kabupaten, banyak juga yang dari Jogja dan Jawa Timur. Intinya mereka ingin membantu untuk menyelamatkan masjid ini," katanya.

Ia mengatakan saat ini sudah dibentuk kepanitiaan untuk mengumpulkan donasi dari para pihak yang ingin membantu menyelamatkan masjid dari sita bank.

"Sudah ada dana yang masuk, tetapi saya kurang tahu totalnya yang sudah terkumpul berapa. Harapan saya mudah-mudahan masjid bisa tetap digunakan warga," katanya.

Rekomendasi