Hari Riyadi, pemuda 18 tahun ini masih terbaring lemas di ruang Shasta nomor 5, Rumah Sakit Umum Daerah, Kabupaten Bekasi, Rabu (11/4). Pemuda yang baru lulus sekolah ini baru saja menjalani operasi di bagian betisnya karena tertembus peluru.
Hari ditembak oleh penumpang Daihatsu Grand Max warna putih di Jalan Baru Cipendawa, Kelurahan Bojongmenteng, Kecamatan Rawalumbu pada Senin (9/4) sekitar pukul 19.00 WIB ketika dibonceng kawannya Ari menggunakan sepeda motor.
Hari yang baru saja pulang dari rumah kakaknya di Tambun, bertemu dengan mobil Grand Max yang identik dengan mobil yang biasa mengisi uang di dalam mesin ATM di traffic light Cipendawa, Rawalumbu. Kendaraan di sana berhenti karena lampu menunjukkan warna merah. Ketika berhenti itulah Hari dan kawannya Ari mengintip orang yang ada di dalam mobil.
"Ada dua orang di depan, dari dalam terdengar suara 'apa lo liatin gua'," ujar Hari menirukan.
Lantas lampu berubah warna hijau. Kendaraan melanjutkan perjalanan. Hari yang ingin pulang ke Ciracas, Jakarta Timur mengambil arah Jalan Baru Cipendawa, begitu pula dengan mobil Daihatsu Grand Max melaju di jalan yang sama.
Kedua pemuda yang masih belum dapat mengendalikan emosinya ini terpancing dengan perkataan orang yang ada di dalam mobil tersebut. Ari yang membonceng akhirnya mengejarnya.
"Kejar enggak nih," kata Hari menirukan ucapan Ari. Adapun Hari berdiam saja mendapat ajakan dari Ari, kawannya.
Sekitar 800 meter kemudian, Ari berhasil menyalip mobil Grand Max tersebut. Dan tiba-tiba, terdengar suara letusan keras diduga berasal dari senjata api. Peluru menyasar betis kiri HAri sampai bolong, menghancurkan tulang kering. Sedangkan, mobil pembawa penembak terus berlalu melanjutkan perjalanan menuju ke Jatiasih.
"Saya langsung ke rumah sakit, dibantu warga kemudian dibawa ke rumah sakit Elisabeth, Rawalumbu," kata dia.
Karena lukanya cukup parah, Hari dirujuk ke RSUD Kabupaten Bekasi. Pemuda yang hendak mencari pekerjaan ini lalu menjalani operasi karena luka parah di batisnya tersebut.
Hari mengaku tak motif penembakan itu. Namun, diduga berkaitan dengan perselisihan kecil saat berhenti di lampu lalu lintas.
"Saya ditembak dari belakang, tidak tahu masalahnya apa," kata dia.
Singatnya, suara tembakan itu cukup keras, terdengar nyaring meskipun warga Ciracas, Jakarta Timur ini menggunakan helm.
Hari juga tak mengetahui senjata yang dipakai menembak. Sejumlah orang yang sempat melihat, kata dia, pelaku menggunakan senjata laras panjang. "Kata orang-orang, suaranya nyaring, senjatanya gede (laras panjang),"kata Hari.
Dokter Stenly yang merawat Hari di RSUD Kabupaten Bekasi mengaku tak mengetahui jenis senjata yang digunakan untuk menembak sampai tulang pasiennya hancur. Menurut dia, yang bisa mengindentifikasi adalah tim forensik.
"Untuk penyembuhan bisa cepat, tapi kalau dilihat kondisinya, pasien bisa berjalan normal butuh waktu agak lama," katanya.