Deklarasi kampanye damai di Empat Lawang, Sumsel berujung bentrok

Peristiwa itu bermula saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Empat Lawang memberikan kesempatan kepada paslon nomor urut 1 David Hadrianto Aljufri-H Eduar Kohar (HDA-HEK) orasi. Namun keduanya justru mengeluarkan statement berbau propaganda. Orasi yang disampaikan membuat pendukung paslon nomor urut 2, Joncik-Yulius emosi.

Irwanto
Oleh Irwanto - Reporter
Deklarasi kampanye damai di Empat Lawang, Sumsel berujung bentrok
Ilustrasi garis polisi. ©2013 Merdeka.com

Deklarasi kampanye damai Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Empat Lawang, Sumatera Selatan, pada Minggu (18/2) sore, berujung ricuh. Para pendukung saling lempar kursi sehingga pasangan calon terpaksa dievakuasi.

Peristiwa itu bermula saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Empat Lawang memberikan kesempatan kepada paslon nomor urut 1 David Hadrianto Aljufri-H Eduar Kohar (HDA-HEK) orasi. Namun keduanya justru mengeluarkan statement berbau propaganda. Orasi yang disampaikan membuat pendukung paslon nomor urut 2, Joncik Muhammad-Yulius Maulana (Jm-Yus), emosi.

Situasi memanas begitu paslon nomor urut 2 menyampaikan orasi yang disambut teriakan dari pihak lawan. Massa pendukung paslon nomor 2 bahkan meminta paslon nomor urut 1 turun panggung.

Alhasil, massa pendukung kedua paslon bentrok. Mereka saling lempar kursi dan barang apa saja yang berada di lokasi. Aparat kepolisian dan TNI berupaya mengamankan situasi namun gagal lantaran massa semakin beringas.

Tak sampai di situ saja, mobil rombongan paslon nomor urut 2 diserang massa saat meninggalkan TKP. Akibatnya, kaca mobil bagian belakang pecah. Polisi akhirnya mengevakuasi paslon nomor urut 2 untuk menghindari bentrokan lanjutan.

Ketua KPU Sumsel Aspahani membenarkan adanya bentrokan saat gelaran deklarasi kampanye damai di Empat Lawang. Hanya saja, dia belum menerima laporan resmi terkait kronologis kejadian.

"Ya, memang benar ada kericuhan itu. Saya masih menunggu kronologisnya, bagaimana bisa terjadi, termasuk perkembangan terbaru," ungkap Aspahani saat dihubungi merdeka.com, Senin (19/2).

Tak ingin kejadian itu terulang lagi, pihaknya akan memaksimalkan sosialisasi pilkada damai di sembilan daerah yang menggelar pesta demokrasi itu. Jika dipandang berpotensi rawan konflik, KPU meminta bantuan aparat keamanan untuk menurunkan lebih banyak personil.

"Kita lihat nanti, jika ada tanda-tanda potensi konflik, kita koordinasi dengan polisi dan TNI untuk mengamankan. Tapi kami tetap meminta seluruh paslon dan pendukungnya untuk menjaga emosi, jangan terprovokasi dengan isu SARA dan berita hoax," katanya berpesan.

Rekomendasi