Di bawah terik matahari Pantai Carita, ombak bergulung dan pecah di bibir pantai yang lengang. Keluarga Jurnalis Foto Merdeka.com, Arie Basuki (Arbas), berkumpul menundukkan kepala dalam doa, berharap delapan orang yang belum ditemukan segera memberi kabar, termasuk sang jurnalis hilang kontak.
Angin siang bertiup kencang ketika doa terus dipanjatkan. Di tepi pantai, adik Arbas, Lintang, terlihat khusyuk. Putra sulung Arbas, Arvian, juga memanjatkan doa seraya menatap laut lepas, menanti kabar dari sang ayah.
Arvian (26) menyimpan harapan agar ada kepastian mengenai ayahnya. Ia tinggal dan bekerja di Surabaya sebagai konsultan, dan mengaku terkejut saat mengetahui ayahnya hilang kontak di Selat Sunda bersama empat jurnalis dan tiga kru kapal. Ia baru mendapat kabar pada Senin malam sekitar pukul 21.00–22.00 WIB.
"Setidaknya ada hal yang jelas lah. Gimana, gimana-gimananya. Terus sebabnya seperti apa, analisisnya dari pihak resminya seperti apa," ungkap Arvian saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (15/9/2026).
Usai berdoa, ia dan keluarga memilih duduk lebih lama di tepian pantai, melanjutkan percakapan tentang peristiwa sepekan terakhir sambil terus memanjatkan doa.
Advertisement
Obrolan Terakhir
Arvian mengaku tidak mengetahui sang ayah berada di Selat Sunda untuk tugas liputan. Keduanya memang tidak selalu berkomunikasi karena tinggal berjauhan.
Informasi terakhir yang ia terima terkait pekerjaan sang ayah adalah saat Arbas meliput aksi demonstrasi di kawasan DPR pada 27 Agustus. Sehari sebelumnya, mereka sempat bertemu di rumah keluarga di Cinere, Depok.
“Nggak tahu (liputan Gunung Anak Krakatau). Terakhir, terakhir bilang liputan itu waktu aksi,” jelasnya.
Sejak kabar hilang kontak terdengar, Arvian terus memantau pemberitaan dan perkembangan pencarian dari Surabaya. Ia berkoordinasi dengan ibu dan pamannya yang berada di lokasi. Kondisi ini memengaruhi pekerjaannya, namun dukungan dari rekan kerja dan atasan membuatnya tetap bisa mengikuti proses pencarian. Rekan-rekan kantornya juga membantu menyelesaikan tugas yang dikejar tenggat.
Menunggu dari jauh dirasa tidak cukup. Arvian memutuskan datang langsung ke lokasi. Minggu, 13 September 2026, ia berangkat menuju Posko SAR Nasional pencarian jurnalis dan kru kapal di Carita, Pandeglang, Banten. Ia terlebih dahulu menuju Yogyakarta untuk menjemput saudaranya, lalu melanjutkan perjalanan bersama.
Setiba di Yogyakarta, ia sempat beristirahat selama dua jam sebelum kembali melaju ke Pandeglang. Dalam perjalanan, Arvian singgah di Bogor untuk menjemput saudara lain. Ia mengandalkan kopi dan rokok untuk menahan kantuk, berpacu dengan waktu agar tiba sebelum magrib pada Senin, 14 September 2026, sebagaimana disampaikan pamannya.
Advertisement
Foto-Foto Penuh Kenangan
Perjalanan panjang itu mengingatkan Arvian pada kebiasaan sang ayah yang kerap ditugaskan jauh. Sejak kecil, ia terbiasa ditinggal saat Arbas meliput bencana, mulai dari tsunami Aceh 2004 hingga konflik perang di Libya.
Arbas tak menutup diri soal pekerjaan. Ia sering berbagi cerita jurnalistik kepada putranya, bahkan pernah menyarankan Arvian untuk menempuh pendidikan di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP).
"Aku dulu tuh sempat disuruh Papa ke IISIP,” ucapnya.
Kenangan itu tak hanya tersisa di ingatan. Sejumlah foto dokumentasi liputan Arbas masih disimpan Arvian dan sempat dibukukan. "Dulu waktu 2004 tsunami itu, itu tuh kayak aku punya foto-fotonya Papa yang di liputan di sana itu," ungkapnya.
Bagi Arvian, foto-foto tersebut lebih dari sekadar hasil kerja jurnalistik. Di dalamnya ada potret seorang ayah yang terbiasa pergi jauh untuk tugas. Kini, setiap menatap kembali lembaran foto lama, ingatan masa kecil ikut menyeruak.
"Kalau lihat foto-foto kayak gitu tuh kayak apa ya, ya namanya udah dewasa ya Mas, kayak pengen balik ke masa kecil," ujar Arvian.
Di tengah rindu yang menumpuk, ia hanya menyimpan satu harapan sederhana. "Harapan saya cuma satu, kembali berkumpul dengan keluarga," ujar Arvian lirih.