Kisah terserak di balik pembunuhan istri polisi di Depok

Semua dugaan mengarah ke masalah rumah tangga sebagai pemicu. Namun hal itu dibantah.

Aryo Putranto Saptohutomo
Kisah terserak di balik pembunuhan istri polisi di Depok
Kasus pembunuhan istri polisi di Depok. ©2016 merdeka.com/nur fauziah

Banyak kisah terserak dari kasus pembunuhan seorang istri polisi di Depok, Ratnita Handriani (37), oleh suaminya, Bripka Triono. Orang-orang di dekat mereka membeberkan cerita soal kehidupan rumah tangga keduanya. Tetangga mengenal Triono selama ini sebagai pribadi baik dan religius. Triono juga dianggap sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab terhadap keluarga.Hanya saja diduga ada permasalahan finansial membikin Triono membunuh istrinya. Hal itu disampaikan Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna.Dalam beberapa kali komunikasi dilakukan, Pradi mengaku Triono sempat meminta dicarikan pekerjaan sampingan. Namun, hingga kasus terjadi, keinginan itu belum terwujud."Sempat bilang ingin cari tambahan pemasukan," kata Pradi.Sebelum kasus itu terkuak, Pradi mengaku kerap berbincang dengan Triono. Namun, intensitasnya agak kendur ketika Pradi mencalonkan diri dalam bursa pilkada."Saya kenal dekat (Triono). Dia sering ke rumah. Makanya pas dengar berita ini, saya kaget. Biasanya nanya kabar lewat SMS. Cuma sudah lama komunikasi kurang intens karena saya waktu itu nyalon (pilkada)," ujar Pradi.Walaupun sering berkomunikasi, tetapi menurut Pradi, Triono tidak pernah bercerita soal masalah pribadi. Komunikasi dilakukan sebatas formal saja."Dia tidak pernah cerita (masalah pribadi). Yang saya tahu orangnya baik dan tanggung jawab pada keluarganya luar biasa," tutup Pradi.Konon, alasan Bripka Triono membunuh Ratnita, bermula dari persoalan pribadi. Diduga hubungan keduanya tidak harmonis. Tetangga sering mendengar pertengkaran dari dalam rumah tersebut."Sempat dibilang polisi melarat lah oleh istrinya. Itu kata tetangga sekitar yang dekat dengan rumah korban lho ya," kata Waras, Ketua RT setempat.Hanya saja, tetangga tidak menduga kalau pertengkaran keduanya berakhir tragis. Triono dan Ratnita dikaruniai dua anak masih kecil. Anak pertama berusia tujuh tahun, dan anak kedua berusia empat tahun.Bahtera rumah tangga keduanya kerap diwarnai perang mulut. Sepengetahuan Waras, berdasarkan laporan warga, sudah sejak lama keduanya sering terlibat pertengkaran.Triono dan Ratnita baru lima tahun tinggal di Jalan Perjuangan RT 002/RW 008, Cimanggis Depok. Selama itu, hampir sering keduanya bertengkar."Sering ribut kata tetangga. Sudah sejak dulu," ujar Waras.Kabarnya, walaupun sudah bekerja di Polresta Depok, Triono tidak melepas tanggung jawab ketika sampai di rumah. Dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci dan mengurus anak.

"Bapaknya yang nyuci baju, nanti yang setrikain itu bude yang bantuin di rumahnya," kata tetangga korban, Rosana (60).Rosana menilai, Triono adalah orang yang sabar. Karena walaupun menjadi kepala rumah tangga dan bekerja, tetapi masih mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga."Pulang kerja bapaknya ngurus anak. Kalau ibunya enggak," ujar Rosana.Rosana mengira Triono tertekan dalam kehidupan rumah tangganya. Sebab, lanjut dia, Trioni kerap dihina oleh istrinya."Gaji istrinya lebih besar, sudah enak sih kerjaan istrinya. Pendidikannya juga lebih tinggi. Kayaknya sih iya (tertekan)," ucap Rosana.Sejak tinggal di wilayah itu, Rosana kerap mendengar Triono dan Ratnita bertengkar. Bahkan saat cekcok, sampai terdengar barang-barang dilempar."Sering kedengaran barang pecah kalau berantem," tutup Rosana.Waras bahkan mengaku sudah merasa curiga ada kejanggalan soal kematian Ratnita. Keganjilan mulai dirasa ketika Triono bertamu ke rumahnya, dan memintanya buat membangunkan Ratnita."Yo aneh mbak, kok saya disuruh mbangunin istri orang," imbuh Waras.Meski demikian, sebagai ketua RT, Waras mengikuti permintaan warganya. Saat itu, dia bersama istrinya dan seorang pembantu rumah Triono masuk ke kamar Ratnita. Dia membangunkan dengan cara memanggil saja."Karena sudah feeling ada yang aneh, saya banguninnya cuma manggil-manggil saja. Saya enggak berani nyentuh," tambah Waras.Saat itu, Waras melihat ada darah di hidung Ratnita. Waras juga diminta untuk menghapus darah itu oleh Triono."Saya ya enggak mau," ucap Waras.Buat memastikan, akhirnya Waras memanggil dokter umum di dekat lingkungannya. Dokter memastikan Ratnita sudah meninggal. Kejanggalan lainnya, Triono sempat meminta agar kejadian ini tidak dilaporkan ke polisi.


"Katanya (Triono) nanti malah panjang urusannya," lanjut Waras.Hanya saja, ketika keluarga dari Ratnita datang, Triono tak bisa mengelak permintaan visum. Akhirnya kejadian ini dilaporkan ke polisi."Om-nya yang ngotot minta visum karena ada yang janggal. Karena keluarga sudah datang, Triono enggak bisa ngelak," tambah Waras.Menurut polisi, buat menghabisi nyawa ibu dari dua anaknya, Triono meminta bantuan temannya, M, buat membekap hingga tak bisa bernapas. Ada tiga bantal dipakai buat membunuh Ratnita."Tewasnya karena dibekap," kata Kapolresta Depok, Kombes Pol Dwiyono.Ratnita dibekap menggunakan tiga bantal berbeda. Bantal pertama bergambar tokoh kartun Winnie the Pooh warna biru, bantal kedua bergambar karakter fiktif Keroppi warna hijau, dan bantal ketiga bergambar Spiderman berwarna biru."Yang membekap adalah M," ujar Dwi.Ratnita dibekap ketika sedang tidur. Ketika dibekap dengan bantal pertama, kata Dwi, dia melawan dan bantalnya jatuh. Namun, Triono tetap berusaha menghabisi istrinya. Namun bantal kedua pun terjatuh kembali akibat korban terus meronta. Namun, bekapan bantal ketiga bergambar Spiderman akhirnya nyawa Ratnita melayang."Bantalnya ada tiga. Yang pertama dan kedua terlempar karena melawan. Bantal ini yang membuat korban meninggal," kata salah satu penyidik Polresta Depok sambil menunjukkan bantal.Sebelum dinyatakan meninggal oleh dokter, Triono meminta pembantunya membangunkan Ratnita. Karena tidak ada respon, Triono menyuruh pembantunya ke rumah Ketua RT. Triono juga sempat meminta tolong pada pembantunya menyelimuti Ratnita."Pembantunya diminta pak Triono nyelimutin korban karena tidurnya pulas. Padahal itu sudah meninggal. Ketika itu pembantunya enggak tahu kalau korban sudah tewas," kata Rosana, tetangga korban.Kendati demikian, diduga ada motif lain lebih besar mendorong Triono berbuat seperti itu. "Mungkin juga ada alasan lebih kuat untuk membunuh selain karena kesal sering dimarahi," kata psikolog Universitas Pancasila (UP), Aully Grashinta.Mengenai motif lain yang dimaksudkan, Shinta, sapaan akrabnya, tidak dapat menjelaskan rinci karena harus mendalami sifat pelakunya. Namun, lanjut dia, itu bisa diketahui dengan cara pendekatan perlahan sehingga pelaku menceritakan motif tersebut."Yang pasti ada keinginan dan kebutuhan membunuh cukup besar karena direncanakan sedemikian rupa," ucap Shinta.Shinta melihat dalam hal ini pelaku sudah melakukan perencanaan matang buat membunuh. Yang dimaksud tindakan spontan adalah ketika pelaku kesal maka bisa langsung saja bertindak agresif. Akan tetapi jika sudah sampai mengajak orang lain maka tidak dapat dikatakan sebagai tindakan spontan."Ini bukan tindakan spontan saat dia kesal. Kalau sampai merencanakan dan menyuruh orang lain mungkin ada hal lebih besar yang melatarbelakangi," ucap Shinta.

Rekomendasi