Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tagih janji revolusi mental Jokowi-JK

Pemerintahan Jokowi-JK dinilai tak bisa mengantisipasi gejolak ekonomi.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tagih janji revolusi mental Jokowi-JK
Jokowi-JK peringati Hari Batik Nasional. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) baru saja melantik ketua mereka yang baru. Dalam sambutannya, Ketua Umum Koordinator Nasional Forum Keluarga Alumni (Fokal) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Armyn Gultom, sempat mengkritisi pemerintahan Presiden Joko Widodo dan wakilnya, Jusuf Kalla.Menurutnya, jargon revolusi mental yang selalu digaungkan Jokowi-JK saat kampanye lalu belum terlihat sedikit pun. Padahal pemerintahan sudah berjalan sejauh 9 bulan."Hingga saat ini, publik masih belum melihat efektivitas gerakan revolusi mental yang menjadi jargon politik Jokowi saat kampanye," kata Armyn setelah pengukuhannya di Hotel Sari Pan Pasifik, MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/7).Permasalahan utama, menurut Armyn, Jokowi tidak cukup mampu mengatasi bahkan mengantisipasi gejolak ekonomi. Di sisi lain, pemerintah Jokowi juga tak mampu mengatasi gonjang-ganjing penegakan hukum dan kemacetan reformasi birokrasi."Pelambatan ekonomi telah memukul daya beli masyarakat," tuturnya.Armyn juga menegaskan bahwa proyek pembangunan berbagai infrastruktur raksasa seperti pelabuhan, bendungan, dan tol laut jangan sampai hanya menjadi sumber baru eksploitasi keuntungan kelompok-kelompok tertentu. Selain itu, menurut Armyn, kondisi ini harusnya menjadi alarm karena bisa menimbulkan gejolak sosial bahkan politik yang dapat merugikan.‎‎"Membengkaknya APBNP 2015 sebesar Rp 282,40 triliun harus benar-benar tepat sasaran dan terukur tingkat keberhasilannya," ungkapnya.‎Dalam acara pengukuhan Pengurus Nasional Forum Keluarga Alumni Ikatam Mahasiswa Muhammadiyah‎ tersebut dihadiri beberapa tokoh. Antara lain, Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua Ahmad Dahlan, Pimpinan STMIK Jakarta, Wakil Rektor UNJ Rohimi Zamzani, dan sebagainya.

Rekomendasi