Mantan Kadispora Riau Lukman Abbas mengaku selalu melaporkan pemberian amplop kepada anggota DPR yang berkunjung untuk meninjau venue PON Riau kepada mantan Gubernur Riau Rusli Zainal. Amplop tersebut berisi uang senilai Rp 14 juta.Selain itu, dia juga melaporkan penyerahan uang sebesar USD 850 ribu dan USD 200 ribu yang diserahkan ke anggota DPR Kahar Muzakir. Hal itu disampaikan Lukman Abbas saat dia dihadirkan sebagai saksi di persidangan terdakwa Rusli Zainal, tersangka kasus korupsi PON pada Kamis (9/1) di Pengadilan Tipikor Pekanbaru."Masing-masing amplopnya berisi Rp 14 juta," ujar Lukman.Lukman mengatakan, amplop itu diberikan kepada 18 anggota DPR yang berkunjung ke Riau, memantau persiapan pelaksanaan PON Riau 2012 saat itu. Dan ke 18 anggota DPR itu dikatakan Lukman mendapat amplop masing-masing berisi Rp 14 juta tersebut.Kemudian Lukman juga menjelaskan, selain uang dalam amplop Rp 14 juta itu, ada juga uang Rp 50 juta yang diserahkannya kepada ajudan Gubernur Riau, Nuardi yang digunakan untuk konsumsi dan beli oleh-oleh 18 orang anggota DPR Komisi X yang berkunjung ke Pekanbaru meninjau venue PON. "Kata Nuardi itu atas perintah bos," ujar Lukman.Lukman menjelaskan mengantar uang ke Gedung Nusantara DPR di Jakarta untuk anggota DPR Kahar Muzakir melalui ajudan Kahar Muzakir bernama Acin alias Wihaji pertama USD 850 ribu dan USD 200 ribu karena Kahar meminta 6 persen dalam bentuk uang dolar dari Rp 290 miliar yang diajukan Pemprov Riau di APBN untuk pembangunan venue PON Riau. Kegiatan Lukman ini dilaporkan secara rutin kepada Rusli Zainal."Kahar minta USD 1,7 juta dalam bentuk uang gondrong (dolar). Uang ini kata Kahar akan ada yang menjemput yakni ajudannya Acin alias Wihaji pada 24 Februari 2012 di lantai 12 gedung Nusantara DPR," jelas Lukman.Uang ini diserahkan supir Lukman Abbas yakni Heri kepada Acin alias Wihaji di basement gedung DPR di Jakarta. Setelah uang diterima Wihaji, maka Lukman nelpon Wihaji apakah uang sudah diterima maka dijawab Wihaji bahwa uang sudah diterima.Menurut Lukman, dia merasa tertekan karena dimintai uang terus oleh anggota DPR dan anggota DPRD Riau. Dia diminta Rusli Zainal untuk berhati-hati tapi Rusli Zainal tidak melarang Lukman mencari dana dari rekanan untuk diserahkan kepada anggota DPRD Riau dan DPR."Sebenarnya saya tertekan atas permintaan uang itu, saya sempat mau mengundurkan diri dari jabatan saya. Tapi akhirnya semua terjadi gara-gara ini saya masuk penjara, di sisi lain saya bangga karena telah terbangun fasilitas olahraga yang lengkap di Riau untuk generasi mendatang," kata Lukman.Namun, mantan Gubernur Riau Rusli Zainal membantah semua keterangan Lukman Abbas tersebu. "Saudara memang pernah memberitahukan satu kali di kediaman saya. Saya saat itu marah dan minta itu dibatalkan," ujar Rusli Zainal.Rusli mengatakan dirinya menolak permintaan uang dari anggota DPR tersebut karena menilai itu sudah seperti memeras."Itu memeras namanya. Keras sekali saya marah. Setelah itu saya meminta saudara bersama Kepala Biro Hukum Pemprov Riau untuk membahas ini. Saya ingin Perda ini sesuai dengan aturan yang berlaku dan tidak menyimpang. Karena itu saya minta anda bertemu dengan ketua DPRD Riau agar proses itu diatur sesuai aturan," ujar Rusli kepada Lukman.Terkait soal audit, Rusli Zainal menegaskan dia sudah memerintahkan untuk diantar secepatnya, karena itu merupakan bukti akuntabilitas."Saya sudah minta agar surat itu diantar secepatnya. Itu diantar oleh staf, saya marah saat itu karena surat sepenting itu harusnya Pak Lukman yang mengantar," tegas Rusli.Selain itu, Rusli Zainal juga membantah meminta uang Rp 500 juta kepada Lukman. Menurut Rusli, dia tidak pernah memerintahkan orang untuk meminta uang tersebut."Mengenai uang yang Rp 500 juta saya sama sekali tidak tahu menahu. Sampai dengan hari ini saya sama sekali tidak pernah meminta itu. Saya tidak pernah memerintahkan itu," ujar Rusli.Namun, Rusli Zainal mengakui adanya pertemuan dengan anggota Komisi III DPR Setya Novanto. Pertemuan tersebut lantaran Rusli ingin menghadiri acara DPP Golkar di Jakarta. "Kalau pertemuan dengan Kahar Muzakir saya tidak pernah ikut. Satu kalipun saya tidak tahu," bantah dia.
Rusli Zainal bantah beri 18 anggota DPR amplop berisi Rp 14 juta
Amplop itu diberikan kepada 18 anggota DPR yang berkunjung ke Riau, memantau persiapan pelaksanaan PON Riau 2012.
Advertisement
Rekomendasi