Berkah banjir bagi pedagang kaki lima

Bagi warga, banjir menjadi masalah dan trauma. Lain halnya bagi pedagang, mereka meraup keuntungan.

Mustiana Lestari
Oleh Mustiana Lestari - Reporter
Berkah banjir bagi pedagang kaki lima
Evakuasi karyawan di Bunderan HI. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Bagi banyak orang banjir tentunya menyisakan trauma, kesulitan dan penderitaan. Lain halnya dengan pedagang kaki lima, bencana itu memberikan berkah tersendiri bagi mereka.Salah satunya, Indah, pedagang empek empek, meski harus berpindah dari lokasi berdagangnya semula, namun dia justru mendapatkan berkah karena makanan khas palembang hasil jualannya meraup untung."Pendapatan, alhamdulillah sehari kemarin 150 ribu. Lebih banyak yang beli di sini dari yang ngungsi sampai yang nonton juga beli. Memang lagi kejar uang untuk kontrakan," kata Indah kepada merdeka.com sambil tersenyum di Kampung Melayu Besar, Jakarta, Kamis (17/1).Lain Indah, lain pula dengan penjual bakpau Joni, meski rumahnya juga mengalami kebanjiran. Joni, memilih berjualan di Kampung Melayu. Dia mengaku keputusannya berjualan di tempat itu bukan karena keinginannya."Di sini, pas ada banjir biasanya di rumah sakit mitra. Memang pendapatan lebih banyak dari sebelumnya, tapi pamali ah kalau dihitung. Kemarin saya juga enggak bisa kemana-mana karena banjir, saya enggak pulang. Terus saya jualan di sini aja," ungkapnya malu-malu.Selama tiga hari, jalan raya dan rumah penduduk di Kampung Melayu Besar terendam hingga pinggang orang dewasa. Sebanyak 1.900 jiwa mengungsi di sekolah, masjid dan toko. Para pengungsi mengaku kekurangan selimut dan pakaian bekas.Pantauan merdeka.com, puluhan anak-anak berenang di tengah genangan air, sejumlah pemuda tampak sibuk menawari orang untuk menyeberang dengan gerobak atau odong-odong dengan tarif 10 ribu rupiah. Kesemerawutan ini diperparah oleh penonton banjir yang asik menikmati jajanan puluhan gerobak di sisi jalan yang terendam air.

Rekomendasi