Populasi Lumba-lumba Mahakam (Orcaella brevirostris) yang hidup di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, terus mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini telah menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia sejak akhir tahun lalu, menyusul statusnya sebagai spesies sangat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Diperkirakan, populasi mamalia air tawar ini telah menurun lebih dari 80 persen dalam satu dekade terakhir.
Menurut pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup, jumlah Lumba-lumba Mahakam berkurang dari 66 individu pada tahun 2025 menjadi 62 individu per Februari 2026. Lumba-lumba ini memiliki peran krusial sebagai bioindikator kualitas air, menandakan kesehatan ekosistem sungai. Keberadaannya juga menunjukkan kelimpahan ikan dan udang yang menjadi sumber makanan utama mereka.
Ancaman terhadap spesies endemik ini meliputi penurunan kualitas habitat akibat aktivitas manusia dan berkurangnya ketersediaan pakan. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup telah mengambil langkah darurat, termasuk penegakan hukum dan penetapan wilayah konservasi. Upaya ini bertujuan melindungi Lumba-lumba Mahakam dari kepunahan dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Lumba-lumba Mahakam, yang secara lokal dikenal sebagai “pesut”, dikategorikan sebagai spesies sangat terancam punah oleh IUCN. Penurunan populasi yang drastis ini menjadi alarm bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Secara biologis, pesut adalah mamalia air tawar yang bernapas menggunakan paru-paru dan memakan ikan serta udang.
Kementerian Lingkungan Hidup telah mengidentifikasi beberapa ancaman utama. Ini termasuk konversi lahan dan pembukaan lahan di daerah hulu, serta aktivitas pertambangan batu bara yang berdampak pada kualitas air. Praktik ilegal seperti penggunaan setrum ikan dan bom ikan juga sangat merusak habitat dan sumber makanan lumba-lumba.
Selain itu, lalu lintas sungai yang padat, terutama tongkang batu bara, diduga mengganggu navigasi lumba-lumba dan habitat kritisnya. Lumba-lumba Mahakam memiliki karakteristik fisik unik pada sirip dan tengkuknya, mirip sidik jari manusia, yang membedakan setiap individu.
Advertisement
WWF Indonesia menegaskan peran penting Lumba-lumba Mahakam sebagai bioindikator kualitas air. Keberadaan lumba-lumba di bagian Sungai Mahakam menunjukkan bahwa ekosistem masih sehat dan sumber daya ikan serta udang masih melimpah. Oleh karena itu, perlindungan spesies ini sangat vital untuk menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Advertisement
Untuk menyelamatkan populasi Lumba-lumba Mahakam, Kementerian Lingkungan Hidup sedang menyiapkan langkah-langkah darurat. Ini mencakup penegakan hukum terhadap perusahaan yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan yang menyebabkan kematian lumba-lumba. Penegakan hukum dan pemantauan lingkungan akan terus dilakukan untuk memastikan semua aktivitas di area sungai mematuhi peraturan yang berlaku.
Baru-baru ini, Kementerian Lingkungan Hidup menangguhkan operasi dua perusahaan yang diduga mencemari Sungai Mahakam. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa penegakan hukum lingkungan akan dilaksanakan secara adil dan merata untuk melindungi mamalia endemik Kalimantan Timur ini.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup menemukan PT GBE, yang bergerak di sektor transportasi dan penjualan batu bara, melanggar hukum dengan membangun dermaga tanpa persetujuan lingkungan. Sementara itu, PT ML, yang beroperasi di sektor ship-to-ship, melanggar hukum karena tidak memiliki persetujuan penggunaan ruang untuk penempatan dan penambatan Tongkang Transhipment Batu Bara (CTB), serta persetujuan lingkungan untuk penempatan dan penambatan CTB I dan CTB II. Kedua perusahaan tersebut langsung dikenai tindakan tegas dengan penangguhan seluruh kegiatan operasionalnya.
Advertisement
Selain penegakan hukum, pemerintah juga menetapkan dua desa di Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai desa konservasi untuk mengintensifkan upaya penyelamatan. Desa Muhuran di Kecamatan Kota Bangun dan Desa Sabintulung di Kecamatan Muara Kaman bergabung dengan Desa Pela yang telah berstatus konservasi sebelumnya. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Rasio Ridho Sani, menekankan pentingnya pengelolaan aktivitas ekonomi yang bertanggung jawab di wilayah tersebut, serta perlunya pengelolaan limbah dan saluran pembuangan yang lebih kuat.
Advertisement
Upaya kolaboratif yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, universitas, LSM, dan masyarakat lokal sangat diperlukan untuk melestarikan habitat Lumba-lumba Mahakam. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur Joko Istanto menekankan perlunya koordinasi lintas sektor untuk menjaga spesies air tawar yang langka ini. “Mereka adalah aset bukan hanya provinsi kita tetapi juga bangsa dan dunia. Mereka harus dilestarikan,” ujarnya.
Joko Istanto menyoroti peran utama lembaganya dalam mencegah pendangkalan Sungai Mahakam, habitat lumba-lumba, melalui pengelolaan hutan hulu dan zona riparian sungai yang efektif. Ia mengingatkan para pemangku kepentingan bahwa kepatuhan terhadap izin lingkungan dan kriteria operasional perusahaan di dekat sungai harus ditegakkan secara ketat untuk melindungi habitat lumba-lumba.
Pemerintah juga berharap Kawasan Konservasi Lumba-lumba Mahakam dapat menjadi model pengelolaan keanekaragaman hayati berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang adil bagi alam dan masyarakat lokal, sekaligus menunjukkan kekuatan kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan lingkungan.
Advertisement
Pada akhirnya, melindungi populasi Lumba-lumba Mahakam tidak hanya penting untuk menjaga ekosistem dan membantu mengendalikan populasi ikan bagi nelayan. Lebih dari itu, upaya ini krusial untuk melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur.
Sumber: AntaraNews