Pemkab Indramayu Targetkan Normalisasi Irigasi Selesai 3 Bulan, Solusi Atasi Banjir Kota

Pemerintah Kabupaten Indramayu menargetkan normalisasi irigasi di wilayah perkotaan rampung dalam tiga bulan. Upaya ini diharapkan menjadi solusi efektif untuk mengatasi banjir akibat pendangkalan dan eceng gondok di Indramayu.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Indramayu Targetkan Normalisasi Irigasi Selesai 3 Bulan, Solusi Atasi Banjir Kota
Pemerintah Kabupaten Indramayu menargetkan normalisasi irigasi di wilayah perkotaan rampung dalam tiga bulan. Upaya ini diharapkan menjadi solusi efektif untuk mengatasi banjir akibat pendangkalan dan eceng gondok di Indramayu. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menargetkan penyelesaian normalisasi saluran irigasi di wilayah perkotaan dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan ke depan. Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari upaya komprehensif Pemkab Indramayu dalam mengendalikan risiko banjir yang kerap melanda daerah tersebut. Bupati Indramayu Lucky Hakim menekankan pentingnya percepatan proyek ini demi kenyamanan masyarakat.

Normalisasi saluran irigasi ini menjadi prioritas utama menyusul kondisi infrastruktur yang mengalami pendangkalan parah serta dipenuhi oleh eceng gondok. Kondisi tersebut secara signifikan menghambat aliran air, terutama saat intensitas hujan tinggi. Saluran-saluran vital di kawasan perkotaan Indramayu, seperti Jalan Gatot Subroto dan Jalan Pembangunan, seringkali terdampak genangan air.

Bupati Lucky Hakim mengungkapkan bahwa saluran irigasi tersebut sudah lama tidak berfungsi optimal karena akumulasi sedimen dan tumpukan eceng gondok. Penanganan cepat diperlukan untuk mengembalikan fungsi drainase kota. Normalisasi irigasi Indramayu diharapkan dapat mengurangi dampak banjir yang sebelumnya merendam ribuan rumah.

Kondisi saluran irigasi di Indramayu saat ini menghadapi tantangan serius akibat pendangkalan dan pertumbuhan eceng gondok yang masif. Bupati Lucky Hakim secara langsung menyoroti masalah ini, menjelaskan bahwa tumpukan material dan tanaman air tersebut telah mengurangi kapasitas saluran secara drastis. Akibatnya, aliran air dari permukiman warga tidak berjalan optimal dan seringkali meluap.

Eceng gondok yang dibiarkan tanpa penanganan serius dapat memperparah risiko banjir di wilayah perkotaan Indramayu. "Kalau eceng gondok ini dibiarkan, banjir di Indramayu bisa semakin parah," kata Lucky. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi tindakan cepat dan terukur dari pemerintah daerah.

Selain itu, kapasitas tampung air yang berkurang akibat sedimentasi membuat saluran irigasi tidak mampu menampung volume air saat curah hujan tinggi. Situasi ini berpotensi besar menyebabkan air meluap ke lingkungan sekitar, merendam permukiman dan fasilitas umum. Normalisasi irigasi Indramayu menjadi kunci untuk mengembalikan fungsi vital ini.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten Indramayu telah memulai pengerukan saluran irigasi hingga kedalaman sekitar 2,5 meter. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi drainase agar dapat bekerja secara maksimal. "Kami ingin sistem drainase kota benar-benar berfungsi, penanganannya dilakukan bertahap sesuai skala prioritas," jelas Bupati Lucky Hakim.

Selain persoalan sedimentasi, Bupati Lucky juga menyoroti keberadaan bangunan liar yang berdiri di atas saluran irigasi. Bangunan-bangunan tersebut secara signifikan mempersempit aliran air, memperburuk kondisi drainase. Keberadaan bangunan liar ini menjadi hambatan serius bagi upaya normalisasi irigasi Indramayu.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa saluran air tidak boleh dimanfaatkan sebagai tempat mendirikan bangunan, karena dapat mengganggu fungsi utama drainase. "Kita akan tertibkan secara humanis, tetapi tetap tegas karena ini untuk kepentingan bersama," ujar Lucky. Penertiban ini merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi jangka panjang Pemkab Indramayu dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur air.

Sebelumnya, Kabupaten Indramayu dilanda banjir yang merendam sejumlah kawasan akibat intensitas hujan tinggi sejak Selasa (27/1). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sekitar 2.771 rumah di 11 desa dan kelurahan terdampak. Normalisasi irigasi Indramayu diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi