MPR Soroti Urgensi Peran Perempuan Pelestarian Budaya Nasional di Tengah Ancaman Erosi
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyoroti pentingnya Peran Perempuan Pelestarian Budaya di tengah ancaman erosi budaya nasional, menekankan urgensi kolaborasi lintas sektor untuk menjaga warisan leluhur.
Jakarta – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lestari Moerdijat menyoroti urgensi keterlibatan perempuan dalam pelestarian budaya nasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah ancaman erosi budaya yang semakin mengkhawatirkan, sebagaimana yang ia sampaikan dalam sebuah pernyataan di Jakarta pada Jumat (9/1) lalu. Moerdijat menekankan bahwa langkah-langkah konkret harus segera diambil untuk mengatasi tantangan ini.
Secara tradisional, perempuan telah memegang peran sentral dalam proses pewarisan nilai-nilai leluhur kepada generasi penerus. Peran ini secara fundamental dimulai dari lingkungan keluarga, menjadikan perempuan sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan budaya. Moerdijat menegaskan kembali bahwa potensi perempuan dalam mentransformasikan nilai-nilai budaya sejak dini dalam keluarga harus menjadi bagian integral dari upaya pelestarian yang berkelanjutan.
Kondisi ini semakin mendesak mengingat data yang menunjukkan ancaman serius terhadap berbagai aspek budaya Indonesia. Berbagai data aktual mengindikasikan bahwa banyak warisan budaya, mulai dari bahasa daerah hingga ritual adat dan seni pertunjukan, berada di ambang kepunahan. Oleh karena itu, kolaborasi kuat antara berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci untuk merealisasikan mekanisme pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Ancaman Erosi Budaya Nasional yang Mendesak
Data dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2024 menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan terhadap keberlangsungan bahasa daerah di Indonesia. Dari 718 bahasa daerah yang teridentifikasi, sebanyak 139 di antaranya dikategorikan sebagai terancam punah. Kondisi ini mencerminkan hilangnya kekayaan linguistik yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa.
Pada tahun yang sama, Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat bahwa 134 ritual berskala besar atau upacara adat tradisional berisiko hilang. Ancaman ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk biaya yang tinggi, kompleksitas pelaksanaannya, serta penuaan para pemimpin adat yang memegang pengetahuan dan tradisi tersebut. Tanpa regenerasi dan dukungan, ritual-ritual ini terancam lenyap.
Selain itu, Asosiasi Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) melaporkan pada tahun 2023 bahwa dari 58 jenis wayang tradisional Indonesia, di luar Wayang Kulit Purwa Jawa, sekitar 23 jenis berada dalam kondisi kritis. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya penonton dan minimnya dalang baru yang bersedia melestarikan seni pertunjukan tersebut. Berbagai ancaman ini menggarisbawahi urgensi tindakan segera untuk mencegah hilangnya warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Peran Krusial Perempuan dalam Pewarisan Nilai Budaya
Perempuan secara tradisional telah memegang peranan vital sebagai agen utama dalam pewarisan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks keluarga, ibu seringkali menjadi 'madrasah pertama' yang mengajarkan adat istiadat, bahasa, cerita rakyat, dan norma-norma sosial kepada anak-anaknya. Proses ini berlangsung secara alami melalui interaksi sehari-hari dan pendidikan informal.
Melalui cerita pengantar tidur, lagu-lagu daerah, masakan tradisional, hingga praktik ritual keagamaan dan adat, perempuan mentransformasikan kekayaan budaya. Mereka tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menanamkan pemahaman dan kecintaan terhadap warisan leluhur. Potensi perempuan dalam membentuk karakter dan identitas budaya sejak dini dalam keluarga adalah kekuatan yang tak tergantikan dalam upaya pelestarian budaya berkelanjutan.
Keterlibatan aktif perempuan di tingkat keluarga memastikan bahwa nilai-nilai luhur tidak terputus dan terus relevan bagi generasi mendatang. Dengan demikian, penguatan peran perempuan dalam konteks ini bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang strategi efektif untuk menjaga kelangsungan dan vitalitas kebudayaan nasional. Peran Perempuan Pelestarian Budaya ini sangat fundamental.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pelestarian Berkelanjutan
Moerdijat menekankan pentingnya kolaborasi yang kuat antara pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk merumuskan dan mengimplementasikan strategi pelestarian budaya yang efektif. Tanpa kerja sama yang solid, upaya pelestarian akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Mekanisme pelestarian budaya yang berkelanjutan harus mencakup berbagai aspek, mulai dari dokumentasi, revitalisasi, hingga promosi dan edukasi. Program-program yang melibatkan komunitas lokal, terutama perempuan dan generasi muda, perlu didorong untuk memastikan kepemilikan dan keberlanjutan inisiatif pelestarian. Hal ini termasuk dukungan terhadap seniman, budayawan, dan komunitas adat.
Wakil Ketua MPR tersebut berharap bahwa semua pihak terkait dapat segera menanggapi ancaman erosi budaya dengan langkah-langkah strategis. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa warisan luhur yang diwariskan oleh para pendahulu bangsa dapat terus lestari dan dinikmati oleh generasi-generasi mendatang. Peran Perempuan Pelestarian Budaya menjadi kunci utama dalam upaya ini.
Sumber: AntaraNews