Cerita memilukan diungkap para mantan pemain Oriental Circus Indonesia (OCI). Mereka mengalami eksploitasi dan penyiksaan selama dipekerjakan di Tamah Safari Indonesia. Kejadian beberapa tahun silam ini masih teringat jelas diingatkan mereka.
Kedatangan mereka diterima Wakil Menteri HAM Mugiyanto. Mugiyanto mendengarkan langsung testimoni para korban . Dia merasa sangat miris dan banyak pelanggaran HAM. Bahkan beberapa korban mengaku tidak mengetahui asal-usul dan keluarga mereka karena direkrut sejak anak-anak dan dibawa keliling dunia tanpa dokumen resmi.
"Ada kemungkinan banyak sekali tindak pidana yang terjadi di sana. Banyak kekerasannya. Ada aspek-aspek yang penting juga yang mungkin orang tidak pikirkan, itu soal identitas mereka. Padahal identitas seseorang itu adalah hak dasar. Mereka tidak tahu asal-usulnya," ujar dia.
Mugiyanto memustukan masalah ini harus ditindaklanjuti. Dia akan berkoordinasi dengan Komnas HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta lembaga terkait lainnya untuk menindaklanjuti laporan para korban.
Lantas apa siapa sebenarnya Oriental Circus Indonesia (OCI) ini?
Sirkus itu menjadi kelompok sirkus tertua di Indonesia. Mereka sudah eksis sejak tahun 1960-an. Jutaan penonton mereka hibur selama puluhan tahun.
OCI pertama kali didirkan oleh Hadi Manansang, seorang seniman jalanan yang menampilkan atraksi ekstrem seperti salto dan lempar trisula. Dimulai dari pertunjukan jalanan di berbagai kota di Indonesia, ia kemudian mendirikan grup 'Bintang Akrobat dan Gadis Plastik' pada tahun 1963, yang kemudian bertransformasi menjadi 'Oriental Show' pada tahun 1966, dan akhirnya resmi menjadi Oriental Circus Indonesia pada tahun 1972.
Advertisement
Perjalanan Panjang OCI
OCI menawarkan beragam pertunjukan, mulai dari akrobatik yang mendebarkan, sulap yang memukau, hingga atraksi hewan terlatih yang mengagumkan. Kehadiran badut-badut yang jenaka semakin menambah semarak suasana pertunjukan. Masa keemasan OCI terjadi pada era 1990-an, di mana mereka tak hanya menjelajahi seluruh penjuru Indonesia, tetapi juga melebarkan sayap hingga ke panggung internasional di negara-negara seperti Cina, Inggris, dan Amerika Serikat.
Lebih dari 40.000 pertunjukan telah mereka gelar, menghibur lebih dari 17 juta penonton. Kombinasi penampilan akrobatik, badut, dan aksi binatang terlatih menjadi ciri khas yang konsisten selama perjalanan panjang OCI.Namun, perjalanan panjang OCI tak selalu mulus. Di awal tahun 2020, OCI menyatakan tidak lagi melakukan tur keliling untuk pertunjukan sirkus.
Tantangan generasi penerus dan perubahan zaman turut mempengaruhi keputusan ini. Baru-baru ini, publik kembali dihebohkan oleh OCI, bukan karena pertunjukannya yang memukau, melainkan karena kesaksian mantan pemain yang mengungkapkan sisi gelap di balik gemerlap panggung sirkus. Berbagai sumber menyebutkan detail yang sedikit berbeda, namun secara umum mengungkap tantangan dan kontroversi yang dihadapi OCI di era modern.
Meskipun terdapat perbedaan versi cerita, inti dari permasalahan ini tetap menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan tentang praktik-praktik di balik layar sebuah industri hiburan yang telah lama menghibur masyarakat Indonesia.
Advertisement
Curhat Pilu Pemain Sirkus OCI
Muhamad Soleh, penasihat hukum mantan pemain OCI mengungkap penderitaan para korban. Para pemain OCI selama berada di bawah kendali Taman Safari Indonesia tak pernah mendapatkan upah."Ini yang belum pernah terpikirkan, meskipun ada rekomendasi Komnas HAM tahun 1997, tidak pernah yang namanya ada kompensasi kepada para korban," ujar dia.
"Padahal hidup pemain Oriental Circus Indonesia (OCI) mayoritas tidak berada. Kenapa? Karena gak punya masalalu, gak punya warisan," katanya menambahkan.
Soleh melanjutkan karena itu penting rasany membentuk tim pencari fakta untuk mengumpulkan puzzle yang lama berantakan. Sehingga masalah ini bisa diselesaikan.
"Ayo dibentuk tim pencari fakta, penting untuk mematahkan hasil rekomendasi Komnas HAM yang mandul. Iya (hasil kajian akan jadi dasar membuat pelaporan polisi)," tandas dia.
Hingga berita ini tayang, merdeka.com masih berupaya melakukan konfirmasi terhadap manajemen Taman Safari Indonesia perihal persoalan ini.