Menengok ramalan setahun ke depan dengan membuka kain kafan Cupu Kiai Panjolo

Selasa, 17 Oktober 2017 19:17 Reporter : Purnomo Edi
Menengok ramalan setahun ke depan dengan membuka kain kafan Cupu Kiai Panjolo Ritual Pembukaan Cupu Kiai Panjolo di Gunungkidul. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Sudah menjadi tradisi tahunan membuka kain kafan pembungkus Cupu Kiai Panjolo yang berada di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Warga percaya, kain kafan yang digunakan untuk membungkus Cupu Kiai Panjolo ini akan memberikan gambaran atau ramalan tentang peristiwa yang akan terjadi setahun mendatang.

Di dalam cupu itu sendiri terdapat tiga guci kecil Semar Kinandu, Kalang Kinanthang dan Kenthiwiri. Semar Tinandu kerap dianggap sebagai gambaran keadaan penguasa dan pejabat tinggi, Palang Kinantang adalah gambaran untuk masyarakat menengah ke bawah, sedangkan Kenthiwiri adalah gambaran untuk rakyat kecil.

Pembukaan kain kafan Cupu Kiai Panjolo dilakukan di rumah ahli warisnya yang bernama Dwijo Sumarto pada Selasa (17/10) dinihari. Ribuan orang dari berbagai daerah memadati pelataran rumah Dwijo Sumarto untuk melihat langsung pembukaan kain kafan Cupu Kiai Panjolo.

Acara pembukaan kain kafan Cupu Kiai Panjolo diawali dengan melakukan makan nasi kenduri bersama. Setelahnya, 400 lembar kain kafan yang membungkus Cupu Kiai Panjolo dibuka satu persatu dan ditafsirkan torehan gambar yang tercantum di kain kafan tersebut.

Berbagai gambar muncul di lembaran kain kafan yang menutupi Cupu Kiai Panjolo. Diantaranya gambar payung terbalik yang dianggap sebagai simbol penguasa tidak bisa mengayomi masyarakat. Adapula gambar Dasamuka yang berwujud raksasa dan digambarkan penuh dengan kesewenang-wenangan, keserakahan dan hanya mementingkan duniawi.

Selain itu adapula gambar kuda dengan mulut terbuka, kalajengking, gambar pewayangan Batara Guru dan Narada yang dinilai sebagai gambaran tidak baik untuk satu tahun ke depan. Sedangkan penggambaran baik juga didapatkan saat muncul gambar tokoh Semar yang dikenal sebagai tokoh yang menentramkan masyarakat.

Ahli waris Cupu Kiai Panjolo, Dwijo Sumarto menuturkan, tiga guci yang disimpan dalam kotak dan dibungkus ratusan kain kafan ini merupakan warisan dari nenek moyangnya dan diberikan turun menurun. Kain kafan pembungkus Cupu Kiai Panjolo, dipercaya masyarakat bisa memberikan ramalan atau penggambaran peristiwa apa yang akan terjadi selama satu tahun mendatang.

Sebagai ahli waris, Dwijo tak memiliki wewenang membuat tafsiran atas gambar-gambar yang muncul di kain kafan pembungkus. Penafsiran gambar sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat. Sebab setiap orang memiliki penafsiran masing-masing atas gambar yang mumcul.

"Saya hanya berharap setahun mendatang Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya tetap aman dan tenteram," tutup Dwijo.

Setelah 400 kain kafan dibuka, tampak posisi 3 cupu Kiai Panjolo yang tersimpan dalam kotak. Saat dibuka, cupu yang dinamai Semar Kinandu, dan Palang Kinantang, dalam posisi tegak, namun yang paling kecil Kentiwiri posisi miring arah barat daya. Setelahnya, Cupu Kiai Panjolo kembali ditutup dengan ratusan kain kafan dalam kondisi baru dan putih bersih. Nantinya kain kafan ini akan dibuka setahun kemudian dan gambar-gambar yang muncul akan digunakan untuk meramalkan peristiwa apa yang akan terjadi setahun berikutnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini