Kelompok mahasiswa dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang telah menginisiasi program Pojok Literasi di Kampung Landuh, Aceh Tamiang. Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga dan menguatkan minat belajar anak-anak di wilayah tersebut setelah dilanda bencana. Mereka adalah bagian dari 5.040 mahasiswa dari 36 perguruan tinggi yang berkontribusi dalam Program Mahasiswa Berdampak untuk pemulihan pascabencana di Aceh.
Program Pojok Literasi ini secara khusus dirancang untuk memulihkan dampak psikososial pada anak-anak yang terdampak bencana. Sebelum program ini, banyak anak menunjukkan perilaku diam dan kehilangan semangat belajar, bahkan belum kembali bersekolah seperti biasa. Kini, kondisi telah berubah signifikan, dengan anak-anak kembali bersemangat dalam kegiatan belajar dan lebih ekspresif.
Pojok literasi ini dijalankan empat kali seminggu, menawarkan pembelajaran umum yang disesuaikan dengan tingkatan kelas, serta kegiatan tambahan seperti ice breaking dan berbagi jajanan. Program ini berlangsung selama kurang lebih 26 hari, menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk belajar dan bermain, seperti yang diungkapkan oleh Penanggung Jawab program Pojok Literasi, Veronika Zahra Pirera.
Advertisement
Advertisement
Mengembalikan Semangat Belajar Anak Pasca Bencana
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri, Muhammad Gabriel Valensa, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah memulihkan dampak psikososial pada anak-anak yang terdampak bencana. Sebelum adanya Pojok Literasi Mahasiswa, anak-anak cenderung diam dan kehilangan semangat untuk belajar. Banyak di antara mereka bahkan belum kembali bersekolah secara normal.
"Namun, setelah adanya program ini alhamdulillah keadaan berubah dengan signifikan dimana adik-adik kembali semangat dalam kegiatan belajar dan lebih berekspresi," kata Gabriel melalui keterangan di Jakarta, Jumat. Perubahan ini menunjukkan efektivitas pendekatan yang dilakukan oleh para mahasiswa.
Gabriel juga menyebutkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan empat kali dalam seminggu, meliputi pembelajaran umum yang disesuaikan dengan jenjang kelas. Selain itu, ada pula kegiatan tambahan seperti ice breaking dan berbagi jajanan, yang dirancang untuk menjaga antusiasme anak-anak. Pendekatan ini membantu anak-anak kembali menemukan kegembiraan dalam proses belajar.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Pojok Literasi Konvensional dan Digital
Pojok literasi yang dihadirkan oleh mahasiswa dirancang dengan konsep sederhana, praktis, dan mudah diterapkan sesuai kondisi lapangan. Ini berupa rak buku bertingkat yang ditempatkan di sudut ruangan, dengan tinggi sekitar 130–150 cm dan lebar 90–100 cm. Desain ini memastikan pojok literasi dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak.
Selain rak buku, mahasiswa juga menyediakan alas duduk dan meja kecil yang dapat digunakan untuk membaca bersama. Koleksi buku yang disediakan pun sangat beragam, mulai dari cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga majalah edukatif. Variasi bacaan ini bertujuan untuk memperluas wawasan siswa dan membangun kebiasaan membaca sejak dini.
Tidak hanya mengandalkan metode konvensional, Pojok Literasi Mahasiswa juga mengintegrasikan teknologi digital sederhana. Mahasiswa menyediakan akses bacaan digital melalui barcode yang dapat dipindai menggunakan gawai. Inovasi ini memungkinkan anak-anak untuk menjelajahi dunia literasi secara lebih modern dan interaktif.
Advertisement
Veronika Zahra Pirera, Penanggung Jawab program Pojok Literasi, menyatakan bahwa program ini berlangsung selama kurang lebih 26 hari. Ia menekankan bahwa program ini menjadi wadah penting dalam menciptakan ruang aman bagi anak yang terdampak bencana. Tujuannya agar mereka dapat merasakan belajar dan bermain seperti biasa, membantu proses pemulihan mereka.
Advertisement
Dukungan Pemerintah dan Pendidikan Tinggi Berdampak
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana, menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi. Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) sendiri adalah unsur pelaksana di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini bertujuan agar pendidikan tinggi semakin kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam pemulihan pascabencana adalah bukti nyata komitmen ini.
Adnyana juga menambahkan bahwa mahasiswa dan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Kehadiran para mahasiswa diharapkan dapat memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan. Ini juga menumbuhkan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan lebih baik melalui pemanfaatan potensi dan teknologi yang ada di Aceh Tamiang.
"Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak," ucap I Ketut Adnyana. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Program Pojok Literasi Mahasiswa di Aceh Tamiang ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan tinggi dapat membawa perubahan positif di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews