LIPI Sebut NU Paling Keras Tolak Intoleransi, HTI Hingga Reuni Aksi 212

Jumat, 7 Desember 2018 20:42 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
LIPI Sebut NU Paling Keras Tolak Intoleransi, HTI Hingga Reuni Aksi 212 Diskusi Politik Identitas. ©2018 Merdeka.com/Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir memberikan analisanya mengenai isu radikalisme dan intoleransi yang mengemuka di tahun politik. Dari pengamatan LIPI lewat jejak media daring dan sosial, Nahdlatul Ulama ( NU) menjadi kelompok yang paling keras menolak intoleransi tumbuh di Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertema Quo Vadis Demokrasi: Mekanika Elektoral dalam Arus Politik Identitas di markas Para Syndicate, Jl Wijaya Timur 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/12).

"NU penolak (intoleransi)," kata Mudzakkir.

Dia menambahkan, dari jejak media juga diketahui bahwa NU sangat keras terhadap organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibubarkan pemerintah maupun soal isu reuni akbar 212.

"Lebih keras dari kelompok kelompok yang lain karena ini dianggap bagian dari politik bukan agama. Dan ini bisa direkam lewat jejak digital, dan kami punya software untuk (menganalisa) dan NU memang cukup (kuat menolak intoleransi) terutama PBNU," tegasnya.

Penolakan NU terhadap isu intoleransi jelas terlihat dari rekam jejak digital. Baik media online maupun media sosial. Ini pun memunculkan analisa, jika berbicara konservatisme politik di Indonesia, berasal dari sebuah fanatisme keagamaan. Tapi resep penyembuhan intoleransinya juga dari keagamaan.

"Jadi penolakan terhadap penolakan intoleransi politik muncul dari agama," ucap dia.

Diskusi juga dihadiri Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, Pengamat Politik asal President University Mohamad AS Hikam dan Budayawan sekaligus intelektual Islam Mohammad Sobary. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini