Gubernur Koster: Kasus Baturiti Refleksi Hari Suci Tumpek Krulut, Ajak Tebar Kasih Sayang

Gubernur Bali Wayan Koster menjadikan kasus pengeroyokan di Baturiti sebagai refleksi penting di Hari Suci Tumpek Krulut, mengajak masyarakat untuk saling menyayangi dan menjaga harmoni.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gubernur Koster: Kasus Baturiti Refleksi Hari Suci Tumpek Krulut, Ajak Tebar Kasih Sayang
Gubernur Bali Wayan Koster menjadikan kasus pengeroyokan di Baturiti sebagai refleksi penting di Hari Suci Tumpek Krulut, mengajak masyarakat untuk saling menyayangi dan menjaga harmoni. (AntaraNews)

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti kasus pengeroyokan yang berujung pada kematian seorang terduga pencuri ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Peristiwa tragis ini disebut Koster sebagai refleksi mendalam di Hari Suci Tumpek Krulut, yang dimaknai sebagai hari kasih sayang dan kebahagiaan.

Koster menegaskan, insiden di Baturiti menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat agar tidak ada lagi tindakan kekerasan yang tidak beradab. “Ini mengingatkan seandainya ada hal-hal yang bersinggungan satu sama lain, tidak cocok dan sebagainya, janganlah terjadi sampai pembunuhan dengan cara yang tidak beradab seperti yang di Baturiti,” kata Wayan Koster di Denpasar, Sabtu, 2 Agustus.

Hari Suci Tumpek Krulut sendiri bagi umat Hindu Bali merupakan momentum untuk melakukan upacara penyucian gamelan atau alat musik, sekaligus hari untuk memupuk kasih sayang, kebahagiaan, dan harmoni. Gubernur Koster mengajak masyarakat untuk menjadikan hari ini sebagai kesempatan merefleksikan diri dan saling menyayangi sesama manusia.

Refleksi Kasih Sayang di Tumpek Krulut

Makna Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang menjadi relevan dengan kejadian di Baturiti. Gubernur Koster menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan menghindari tindakan main hakim sendiri yang dapat merusak tatanan sosial. Peristiwa pengeroyokan yang terjadi di Tabanan tersebut harus menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Dalam ajaran Hindu Bali, Tumpek Krulut dikenal sebagai hari untuk memuliakan seni dan kasih sayang, sering disebut sebagai 'Hari Valentine' versi Bali. Pada hari ini, umat Hindu melakukan penyucian terhadap alat-alat seni, khususnya gamelan, sebagai bentuk syukur atas keindahan dan harmoni yang diciptakan melalui seni.

Koster mengingatkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal seperti Sad Kerthi, yang mencakup Atma Kerthi (penyucian jiwa), Jana Kerthi (memuliakan sesama manusia), dan Jagat Kerthi (alam semesta), harus terus diamalkan. Perayaan Tumpek Krulut, khususnya melalui Jana Kerthi, mendorong manusia untuk menunjukkan cinta kasih, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.

Inisiatif Pemprov Bali Rayakan Tumpek Krulut

Pemerintah Provinsi Bali (Pemprov Bali) turut merayakan Tumpek Krulut dengan berbagai inisiatif yang melibatkan masyarakat secara langsung. Salah satunya adalah mentraktir masyarakat berbelanja makanan dan minuman gratis di 15 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh Bali.

Selain itu, Pemprov Bali juga menyediakan akses cek kesehatan gratis secara serentak di seluruh fasilitas kesehatan di Bali. Program ini disambut antusias oleh masyarakat, dengan banyak warga mengantre sejak pagi di rumah sakit dan puskesmas untuk memeriksakan kesehatan mereka.

Gubernur Koster menjelaskan bahwa program cek kesehatan gratis ini membawa pesan penting tentang kasih sayang, tidak hanya kepada orang lain tetapi juga kepada diri sendiri. “Pesan saya ini agar kita menyayangi diri sendiri dan menyayangi juga sesama, semuanya,” tuturnya. Pemeriksaan kesehatan meliputi tes tensi, kolesterol, dan gula darah, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan.

Antusiasme Masyarakat dan UMKM

Inisiatif Pemprov Bali dalam merayakan Tumpek Krulut mendapat respons positif dari masyarakat dan pelaku UMKM. Jenar Kopi, salah satu UMKM di Denpasar yang ditunjuk untuk memeriahkan acara, mengungkapkan kegembiraannya.

Menurut Wahyu Aryana, tim kreatif Jenar Kopi, penjualan kopi melonjak drastis berkat bantuan Pemprov Bali. “Estimasi kami hari ini habis sampai lebih dari 10 ribu gelas, kami senang lihat antusias teman-teman segala kalangan yang hadir di program pak gubernur,” kata Wahyu.

Salah satu pembeli, Tanjung Agung (30), mengaku senang bukan hanya karena ditraktir, tetapi juga karena kini memahami makna Tumpek Krulut yang lebih dalam. “Biasanya cuma sembahyang tapi baru Pak Gubernur hadir dengan kegiatan hari ini jadi tahu ini seperti hari kasih sayang,” ucapnya.

Melihat antusiasme generasi muda dalam merayakan Tumpek Krulut dengan cara modern ini, Tanjung Agung berharap semangat kasih sayang tidak hanya berhenti pada hari perayaan, melainkan terus dipupuk setiap hari. Hal ini sejalan dengan tujuan Koster untuk melestarikan kearifan lokal dengan cara yang relevan bagi generasi sekarang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi