Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou sukses menyelenggarakan "Indonesia–Southern China Business Forum" (ISCBF) di Shenzhen, provinsi Guangdong, pada Rabu (19/11). Acara ini mempertemukan sekitar 120 pelaku usaha dari Indonesia dan Tiongkok bagian selatan, menandai langkah signifikan dalam mempererat hubungan ekonomi kedua negara.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi kerja sama perdagangan dan investasi, tetapi juga berhasil mengamankan penandatanganan komitmen investasi. Kesepakatan ini mencakup bidang pembangkit listrik biomassa, kabel listrik bawah laut, "photovoltaic", dan logistik, dengan total nilai fantastis lebih dari 7,5 miliar dolar AS.
Inisiatif ini menunjukkan peran strategis KJRI Guangzhou dalam menarik modal asing yang krusial bagi pembangunan nasional. Komitmen investasi besar ini diharapkan dapat mendorong percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan dan hilirisasi industri di Indonesia, sejalan dengan visi "Indonesia Emas 2045" dan memperkuat Investasi China Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Mendorong Investasi Sektor Energi Hijau
Provinsi Guangdong memegang peranan vital sebagai katalisator kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang perdagangan, investasi, dan hubungan antar masyarakat. Wilayah Tiongkok bagian Selatan juga diakui sebagai "powerhouse" ekonomi yang berfokus pada sektor prioritas pemerintah Indonesia, termasuk energi.
Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ben Perkasa Drajat, menekankan pentingnya peran Guangdong. Beliau menyatakan, "Provinsi Guangdong memegang peranan penting sebagai katalisator kerja sama kedua negara di bidang perdangangan, investasi dan 'people-to-people'. China bagian Selatan juga menjadi 'powerhouse' ekonomi kedua negara di sektor yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia termasuk energi."
Direktur Promosi Investasi dan Hilirisasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rakhmat Yulianto, turut menyampaikan visi "Indonesia Emas 2045". Visi ini menempatkan transformasi ekonomi hijau, termasuk pemanfaatan energi baru, sebagai tema besar pembangunan. Investasi Tiongkok, khususnya dari wilayah selatan, dianggap sebagai salah satu pendorong utama dalam sektor hilirisasi industri, yang berkontribusi pada penciptaan ekosistem energi hijau.
Advertisement
Indonesia saat ini memiliki kawasan industri terpadu yang dilengkapi dengan infrastruktur, utilitas, koridor logistik, dan solusi energi terbarukan yang terus berkembang. Kawasan-kawasan ini siap menerima Investasi China Indonesia di berbagai sektor. Sektor-sektor tersebut meliputi elektronik, otomotif, petrokimia, pengolahan makanan, logistik, teknologi energi baru, industri digital, serta pusat data.
Advertisement
Potensi Indonesia sebagai Destinasi Investasi
Indonesia diakui sebagai destinasi investasi yang sangat potensial di Asia Tenggara, didukung oleh sejumlah keunggulan komparatif. Keunggulan tersebut meliputi jumlah penduduk yang besar, usia produktif yang tinggi, ekonomi terbesar di kawasan, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi besar sebagai produsen energi masa depan berkat sumber daya alamnya yang melimpah.
Dukungan finansial untuk investasi juga tersedia, salah satunya dari Bank Mandiri, bank BUMN dengan aset mencapai 140 miliar dolar AS. Bank ini siap mendukung Investasi China Indonesia sejak awal hingga operasional proyek, termasuk di sektor mineral dan batu bara, menunjukkan komitmen perbankan nasional dalam memfasilitasi kerja sama ini.
Salah satu perusahaan Tiongkok yang telah berinvestasi di Indonesia adalah GEM, perusahaan daur ulang baterai dan material. GEM mengungkapkan bahwa investasinya di Indonesia didasarkan pada strategi jangka panjang yang fokus pada lokalisasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia. Perusahaan ini juga aktif mengembangkan teknologi hijau dalam proses pengolahan nikel, mendukung keberlanjutan lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Peran Strategis China Bagian Selatan dalam Investasi
Wilayah Tiongkok bagian Selatan merupakan pintu masuk utama bagi ekspor produk-produk unggulan Indonesia ke Tiongkok. Sekitar sepertiga dari produk-produk tersebut, seperti batu bara, kopi, sarang burung walet, makanan, minuman, dan buah-buahan tropis, masuk melalui wilayah ini. Hal ini menunjukkan pentingnya konektivitas ekonomi antara kedua wilayah.
Selain itu, wilayah Tiongkok bagian Selatan juga menjadi rumah bagi perusahaan raksasa yang masuk dalam daftar Fortune 500, seperti Huawei, BYD, Tencent, dan ZTE. Kehadiran perusahaan-perusahaan besar ini menjadikan Tiongkok bagian Selatan sebagai sumber investor potensial bagi Indonesia di berbagai sektor prioritas. Sektor-sektor tersebut mencakup kendaraan energi baru, kesehatan, bioteknologi, teknologi digital, "cloud computing", dan telekomunikasi.
Kedekatan geografis dan konektivitas udara yang kuat semakin memperkuat hubungan ini. Tercatat lebih dari 59 penerbangan langsung per minggu dari kota-kota seperti Guangzhou, Shenzhen, Fuzhou, Xiamen, dan Haikou ke lima kota besar di Indonesia. Konektivitas ini memfasilitasi pergerakan barang dan orang, mendukung peningkatan Investasi China Indonesia di berbagai sektor.
Advertisement
Setiap tahun, KJRI Guangzhou secara konsisten menyelenggarakan "Indonesia–Southern China Business Forum". Kegiatan ini merupakan strategi berkelanjutan untuk menggaet investasi dari Tiongkok Selatan di sektor-sektor tematik yang selaras dengan kepentingan dan prioritas nasional Indonesia. Upaya ini diharapkan terus menghasilkan komitmen investasi yang signifikan.
Sumber: AntaraNews