Indonesia Peringkat 2 Penderita TBC: Pemprov Kepri Alokasikan Rp5 Miliar untuk Penanganan TBC Kepri, Target Eliminasi 2030

Pemprov Kepri serius tangani TBC dengan alokasi Rp5 miliar dari BTT APBD 2025. Anggaran ini untuk memperkuat Penanganan TBC Kepri dan mencapai target eliminasi 2030, meski Indonesia masih jadi penderita TBC terbesar kedua di dunia. Apa saja langkahnya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Indonesia Peringkat 2 Penderita TBC: Pemprov Kepri Alokasikan Rp5 Miliar untuk Penanganan TBC Kepri, Target Eliminasi 2030
Pemprov Kepri serius tangani TBC dengan alokasi Rp5 miliar dari BTT APBD 2025. Anggaran ini untuk memperkuat Penanganan TBC Kepri dan mencapai target eliminasi 2030, meski Indonesia masih jadi penderita TBC terbesar kedua di dunia. Apa saja langkahnya? (AntaraNews)

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan komitmen serius dalam upaya menanggulangi kasus tuberkulosis (TBC) yang menjadi prioritas nasional. Mereka telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp5 miliar dari Belanja Tak Terduga (BTT) APBD tahun anggaran 2025. Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat Penanganan TBC Kepri di seluruh wilayah.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menjelaskan bahwa penggunaan dana BTT tersebut akan dikonsultasikan lebih lanjut dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Penanganan TBC ini merupakan agenda strategis nasional sesuai instruksi Presiden Prabowo, setara dengan Program Makan Bergizi Gratis. Semua kepala daerah dituntut berperan aktif memastikan program ini berjalan optimal.

Alokasi dana ini diharapkan dapat mempercepat target eliminasi TBC pada tahun 2030 di Kepri. Fokus utama adalah penguatan koordinasi antara Pemprov Kepri dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota. “Ini bukan sekadar program, tetapi juga wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin kesehatan masyarakat,” ucap Ansar.

Komitmen Anggaran dan Strategi Penanganan TBC Kepri

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Bisri, mengungkapkan bahwa total kebutuhan anggaran untuk Penanganan TBC Kepri mencapai sekitar Rp12 miliar. Dari jumlah tersebut, Pemprov Kepri menyumbang Rp5 miliar, sementara sisa Rp7 miliar akan didanai oleh tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepri. Angka ini mencerminkan upaya kolaboratif lintas sektor dalam penanggulangan TBC.

Dana yang dialokasikan tersebut memiliki peruntukan spesifik untuk meningkatkan kapasitas deteksi dan penanggulangan TBC. Anggaran akan digunakan untuk pengadaan alat skrining TBC, termasuk penambahan 5.000 cartridge tes cepat molekuler (TCM). Selain itu, dana ini juga akan memperkuat peran kader TBC di lapangan, yang menjadi ujung tombak penemuan kasus.

Dalam rangka memperluas cakupan skrining dan penemuan kasus, Pemprov Kepri juga mewajibkan skrining TBC bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga kerja. Skrining ini akan dilakukan setiap enam bulan sekali. Kebijakan ini diharapkan dapat membuat penemuan kasus semakin masif dan pengendalian penyakit TBC bisa lebih terukur secara signifikan.

Gubernur Ansar Ahmad memastikan Penanganan TBC Kepri menjadi fokus utama sektor kesehatan, dengan memperkuat koordinasi bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota setempat. Komitmen ini selaras dengan upaya pemerintah pusat dalam menekan angka kasus TBC di Indonesia.

Tantangan dan Upaya Percepatan Eliminasi TBC

Meskipun Tim Percepatan Penanggulangan TBC telah dibentuk sejak 2022, Bisri mengakui masih ada beberapa kendala yang dihadapi dalam Penanganan TBC Kepri. Kendala tersebut meliputi keterbatasan cartridge TCM, minimnya mesin X-ray portable, serta belum optimalnya peran kader TBC di lapangan. Permasalahan ini memerlukan solusi komprehensif dan berkelanjutan.

Bisri juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penderita TBC terbesar di dunia, tepat di bawah India. “TBC masih menjadi ancaman serius. Setiap tahun sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat penyakit ini,” ujarnya. Data ini menggarisbawahi urgensi upaya Penanganan TBC Kepri untuk mencapai target eliminasi 2030.

Untuk mengatasi ancaman tersebut, berbagai upaya deteksi dini TBC harus terus diperkuat, baik melalui skrining aktif maupun pasif. Pemanfaatan teknologi medis modern juga menjadi kunci, seperti tes cepat molekuler, pemeriksaan dahak, dan rontgen dada. Inovasi ini penting untuk diagnosis yang lebih cepat dan akurat, serta memutus rantai penularan.

Sebagai bukti keberhasilan awal, pada September 2025, pelaksanaan skrining aktif menggunakan X-ray portable di Bintan dan Tanjungpinang berhasil menjaring lebih dari 1.000 orang. Puluhan di antaranya terindikasi TBC, menunjukkan efektivitas metode ini. Upaya serupa juga telah digelar di Batam dengan melibatkan organisasi profesi dan kegiatan pengabdian masyarakat, memperluas jangkauan Penanganan TBC Kepri.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi