Fakta Unik: Dharma Jaya Siapkan Cold Storage 5.000 Ton, Kunci Stabilitas Pangan Jakarta?
Perumda Dharma Jaya akan mengoperasikan cold storage berkapasitas 5.000 ton tahun depan, menjadi penopang utama stabilitas pangan Jakarta. Bagaimana dampaknya?
Perumda Dharma Jaya, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta, sedang mempersiapkan pembangunan gudang berpendingin atau cold storage berskala besar. Fasilitas ini dirancang dengan kapasitas mencapai 5.000 ton, sebuah langkah strategis untuk menjaga kestabilan pasokan pangan di wilayah Ibu Kota.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa proyek ambisius ini diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun depan. Kehadiran cold storage raksasa ini diharapkan akan menjadi tulang punggung utama dalam mengamankan cadangan pangan strategis bagi masyarakat Jakarta.
Pembangunan cold storage ini menjadi krusial mengingat Jakarta memiliki kerentanan tinggi terhadap pasokan pangan. Ibu kota hanya mampu memenuhi sekitar dua persen dari total kebutuhan pangannya secara mandiri, dengan 98 persen sisanya harus didatangkan dari luar daerah.
Penguatan Infrastruktur Rantai Dingin
Raditya Endra Budiman menegaskan pentingnya fasilitas penyimpanan berkapasitas besar ini. "Untuk kami punya stok yang aman maka kami perlu membangun 'cold storage' atau tempat penyimpanan yang besar," kata Raditya di Jakarta, Sabtu.
Jika berjalan sesuai rencana, Dharma Jaya akan memiliki cold storage berkapasitas 5.000 ton pada tahun depan. Kapasitas masif ini memungkinkan Dharma Jaya untuk menyerap lebih banyak stok daging dari berbagai sumber, sekaligus memperpanjang umur simpan produk melalui sistem penyimpanan yang terintegrasi.
Dengan adanya infrastruktur rantai dingin yang kuat, potensi kelangkaan pangan di Jakarta dapat ditekan secara signifikan. Hal ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan di pasaran, memberikan kepastian bagi konsumen dan produsen.
Menjawab Tantangan Pasokan Pangan Jakarta
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sibalok, menyoroti posisi Jakarta sebagai daerah non-penghasil pangan utama. "Jakarta hanya mampu memenuhi dua persen kebutuhan pangan dari sumber daya lokal, sementara 98 persen sisanya berasal dari luar daerah," jelas Hasudungan.
Ketergantungan ini menjadikan Jakarta sangat rentan terhadap fluktuasi pasokan dan harga. Oleh karena itu, pengadaan cold storage skala besar di beberapa titik strategis, seperti Cakung dengan kapasitas 1.000 ton dan Pulogadung dengan 2.000 ton, dinilai sangat vital untuk menjaga kestabilan pangan.
Hasudungan menambahkan, "Sempat kami berdiskusi dengan Pak Dirut bagaimana Darma Jaya akan membangun atau membuat suatu 'cold storage' yang berkapasitas besar." Diskusi ini menunjukkan kolaborasi erat antara BUMD dan pemerintah daerah dalam mengatasi isu ketahanan pangan.
Strategi Diversifikasi Pasokan dan Distribusi
Selain fokus pada pembangunan cold storage, Dharma Jaya juga memperkuat pasokan melalui pola kemitraan dengan daerah lain. Skema kontrak pertanian (farming) menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan untuk memastikan ketersediaan bahan pangan.
Melalui kemitraan ini, sentra-sentra peternakan di berbagai provinsi dapat menyuplai hewan atau daging mentah ke Jakarta. "Khusus untuk hewan kami sudah berkoordinasi atau berkolaborasi dengan Provinsi Lampung, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sebagai daerah pemasok hewan ternak," ungkap Raditya.
Dharma Jaya turut memperluas akses distribusi produk pangan melalui Meat Shop di lokasi seperti Cakung dan Mampang. Selain itu, armada pangan keliling menggunakan mobil dan motor pendingin juga dikerahkan. Produk pangan segar juga dipasarkan langsung di kantor wali kota, kecamatan, hingga kelurahan, memastikan jangkauan yang lebih luas kepada masyarakat.
Sumber: AntaraNews