Fakta Unik 4 Dekade Nonaktif: Pemkab Ponorogo Sambut Positif Reaktivasi Jalur KA Madiun-Slahung, Target 2030!
Pemkab Ponorogo menyambut baik rencana Kemenhub untuk Reaktivasi Jalur KA Madiun-Slahung yang telah nonaktif selama empat dekade. Proyek ini diharapkan bangkitkan ekonomi lokal.
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengaktifkan kembali jalur kereta api Madiun–Slahung. Jalur sepanjang sekitar 40 kilometer ini telah nonaktif selama lebih dari empat dekade, dengan operasional terakhir pada tahun 1984. Reaktivasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah dan konektivitas transportasi.
Pernyataan positif ini disampaikan oleh Sugiri Sancoko pada Selasa (7/10), menyoroti potensi ekonomi besar yang pernah menjadi alasan utama pembangunan jalur tersebut oleh Belanda. Ia menekankan bahwa langkah strategis ini akan memperkuat konektivitas di wilayah Ponorogo bagian barat. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat untuk mengembangkan infrastruktur transportasi nasional.
Menurut Sugiri, reaktivasi jalur Madiun–Slahung akan berperan penting dalam menghidupkan kembali sektor ekonomi lokal yang sempat meredup. Proyek ini juga sejalan dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) yang menargetkan penyelesaian pada tahun 2030. Namun, Bupati berharap agar proses ini dapat dipercepat demi kesejahteraan masyarakat Ponorogo.
Potensi Ekonomi dan Dukungan Pemerintah Daerah
Bupati Sugiri Sancoko menegaskan bahwa ada alasan kuat di balik pembangunan jalur kereta Madiun–Slahung oleh Belanda di masa lalu, yakni berkaitan erat dengan potensi ekonomi daerah. Jalur ini dahulu berfungsi sebagai urat nadi pengangkut hasil bumi dan bahan tambang dari wilayah selatan Madiun Raya. Dengan reaktivasi, potensi ekonomi tersebut diharapkan dapat bangkit kembali.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyambut positif rencana strategis nasional ini dan siap memberikan dukungan penuh. Sugiri Sancoko, yang akrab disapa Kang Giri, melihat reaktivasi jalur kereta api ini sebagai peluang emas. Ini akan mendukung konektivitas antardaerah serta menghidupkan kembali sektor ekonomi di Ponorogo bagian barat yang selama ini kurang terjangkau.
Dukungan tersebut tidak hanya sebatas pernyataan, melainkan juga komitmen untuk berkolaborasi dengan Kemenhub. Pemkab Ponorogo percaya bahwa proyek ini akan membawa dampak multiplier yang signifikan. Peningkatan aksesibilitas melalui jalur kereta api akan memicu pertumbuhan perdagangan, pariwisata, dan investasi di wilayah tersebut.
Tantangan Sosial dan Harapan Percepatan Proyek
Meskipun menyambut baik, Bupati Sugiri Sancoko tidak menampik adanya tantangan yang harus dihadapi dalam proses reaktivasi jalur Madiun–Slahung. Salah satu isu krusial adalah permasalahan sosial dan status lahan yang kini banyak beralih fungsi. Sebagian aset jalur kereta api yang nonaktif sejak 1984 kini telah menjadi pemukiman dan area pasar.
Sugiri menekankan pentingnya penyelesaian masalah ini dengan pendekatan yang bijak dan humanis. "Problem sosialnya harus diutamakan," ujarnya. Hal ini menunjukkan komitmen Pemkab untuk memastikan bahwa reaktivasi tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Solusi yang adil dan transparan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini.
Rencana reaktivasi jalur ini ditargetkan rampung pada tahun 2030 sesuai dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas). Namun, Bupati Sugiri berharap proyek ini dapat dipercepat agar manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat Ponorogo. "Kalau bisa jangan menunggu 2030, tapi dimajukan sedikit supaya masyarakat Ponorogo bisa segera menikmati naik kereta lagi," katanya sambil berkelakar.
Jalur Madiun–Slahung dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional
Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub, jalur Madiun–Slahung merupakan salah satu dari 13 lintasan yang akan direaktivasi di Pulau Jawa hingga tahun 2030. Ini menunjukkan bahwa proyek ini adalah bagian integral dari visi jangka panjang pemerintah untuk meningkatkan jaringan transportasi kereta api nasional. Fokus pada reaktivasi jalur lama menunjukkan upaya efisiensi dan pemanfaatan aset yang ada.
Beberapa jalur lainnya yang juga masuk dalam daftar reaktivasi antara lain Sukabumi–Cianjur–Padalarang, Cicalengka–Jatinangor–Tanjungsari, Cirebon–Kadipaten, Banjar–Cijulang, Purwokerto–Wonosobo, Semarang–Demak–Rembang, Kedungjati–Ambarawa, Jombang–Babat–Tuban, Kalisat–Panarukan, Semarang–Demak–Juana–Rembang, Sidoarjo–Tulangan–Tarik, dan Kamal–Sumenep. Daftar ini mencerminkan cakupan luas program reaktivasi di berbagai wilayah strategis.
Sebagai informasi tambahan, jalur kereta Madiun–Slahung adalah bagian dari jaringan kereta api lama yang dibangun oleh Belanda pada awal abad ke-20. Tujuan utamanya adalah untuk mengangkut hasil bumi dan bahan tambang dari wilayah selatan Madiun Raya. Setelah berhenti beroperasi sejak 1984, sebagian asetnya kini telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan area pasar, menambah kompleksitas dalam proses reaktivasi.
Sumber: AntaraNews