Cerita Ahok Selama Ditahan di Mako Brimob Ditemani Buku Karangan Guntur

Senin, 7 Juni 2021 00:36 Reporter : Bachtiarudin Alam
Cerita Ahok Selama Ditahan di Mako Brimob Ditemani Buku Karangan Guntur Ahok Temui Gibran di Solo, Bahas Kepemimpinan hingga Ruang Terbuka Hijau. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau yang kerap disapa Ahok menceritakan kenangan terhadap buku berjudul Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku karangan Guntur Soekarnoputra yang menemaninya selama ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, sejak 2017 lalu.

Hal itu diungkapan Ahok saat hadiri re-launching buku hasil karangan Guntur Soekarnoputra yang sudah cetakan ketiga secara virtual. Dalam launching tersebut Guntur yang kerap disapa Mas To juga turut didampingi putrinya Puti Guntur Soekarno yang menjelaskan jika re-launching kali ini pun bertempatan 120 tahun kelahiran Bung Karno.

"Jadi saya kalau habis makan saya pasti istilahnya dessert-nya buku ini nih, jadi setelah makan siang saya baca satu topik buku ini. Dan kalau saya lagi galau juga baca buku terlalu banyak dan capai balas surat, ya saya baca buku ini," kata Ahok saat re-launching virtual, Minggu (6/6).

Bahkan Ahok pun sangat bersukur ketika sosok Mas To kerap mengunjunginya di Mako Brimob selama jalani masa tahanan dan memberikan sejumlah buku yang menemaninya. Termasuk buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku yang bisa menampilkan sisi humanis Bung Karno kepada para anak-anaknya.

Salah satu penggalan cerita yang dinggat Ahok, adalah di mana saat sosok Bung Karno yang sangat terbuka kepada para anak-anaknya, hingga urusan percintaan yang dialami Guntur ketika dulu pun saling bercerita dengan Bung Karno.

"Dan terima kasih banyak Mas To banyak buku tentang Bung Karno dikasih ke saya, dan saya bersyukur banget ditahan di Mako Berimob coba dikasih sekarang, tak habis kali bacanya mas. Dikasih di dalam tahanan wah saya bisa banyak sekali baca-baca banget itu buku-bukunya," ujar Ahok.

Pada kesempatan yang sama, Puti Guntur Soekarno juga menilai bila buku ini sangat berbekas kepada dirinya dan mampu memperkalkan sosok Bung Karno yang tidak lain adalah eyangnya, dari sudut pandang yang berbeda dan sebagai obat rindunya.

"Untuk saya buku ini adalah suatu jembatan untuk menghapus kerinduan saya terhadap eyang saya. Bagaiman sih saya mengetahui sosok Eyang Karno tidak hanya lewat satu cerita bapak saya, atau Eyang Fatmawati," ujar Puti.

Bahkan, Puti sempat bercerita dirinya pertama kali mendapatkan buku ini pada saat usianya menginjak 6 tahun yang harus menabung agar memiliki buku ini.

"Buku ini dijual, jadi kamu harus beli buku ini. Kalau tidak salah buku ini sekitar Rp1.700 jadi Puti kecil harus berusaha dengan menabung uang jajan setiap hari, mungkin sehari 100 atau 150 jadi ditabung setiap hari," sebutnya.

Dalam buku yang sudah dicetak sebanyak tiga kali, pertama pada tahun 1970, cetakan kedua pada 2012 ini banyak menceritakan sudut pandang Bung Karno yang humanis. Mas To selaku penulis mampu merakam sosok Bung Karno bagaimana menjadi seorang bapak, kawan, hingga guru yang membimbing anak-anaknya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini