Uni Eropa Bangun Pusat Penyelamatan Migran Libya di Benghazi di Tengah Lonjakan Kematian

Uni Eropa mendirikan Pusat Penyelamatan Migran Libya di Benghazi untuk menekan angka kematian migran di Mediterania, didukung Operasi IRINI dan EUBAM Libya, menyusul ribuan kematian pada tahun 2025.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Uni Eropa Bangun Pusat Penyelamatan Migran Libya di Benghazi di Tengah Lonjakan Kematian
Uni Eropa mendirikan Pusat Penyelamatan Migran Libya di Benghazi untuk menekan angka kematian migran di Mediterania, didukung Operasi IRINI dan EUBAM Libya, menyusul ribuan kematian pada tahun 2025. (AntaraNews)

Uni Eropa (UE) telah mengambil langkah signifikan untuk mengatasi lonjakan kematian migran di Laut Mediterania. Langkah ini dilakukan dengan menyepakati pembentukan Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim di Benghazi, Libya. Keputusan ini diumumkan oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Libya, Nicola Orlando.

Pusat penyelamatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas Libya dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Inisiatif ini juga sejalan dengan standar internasional dan hak asasi manusia. Pendanaan untuk pusat ini berasal dari Italia dan Malta, menunjukkan komitmen bersama.

Pembentukan pusat ini menjadi respons terhadap data memprihatinkan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). IOM mencatat lebih dari 1.000 migran meninggal di perairan lepas pantai Libya pada tahun 2025. Ratusan migran setiap hari mencoba menyeberang dari Tunisia dan Libya menuju Eropa.

Upaya Uni Eropa Perkuat Kapasitas Penyelamatan Libya

Duta Besar Uni Eropa untuk Libya, Nicola Orlando, menegaskan bahwa prosedur pendirian Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim telah rampung. Pusat ini akan beroperasi di bawah payung Operasi IRINI dan menerima pendanaan dari Italia serta Malta. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan aparat Libya dalam melakukan operasi penyelamatan di laut yang sejalan dengan standar internasional dan hak asasi manusia.

Operasi IRINI sendiri merupakan misi militer Uni Eropa yang diluncurkan pada tahun 2020. Misinya adalah mengawasi implementasi mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait embargo senjata di Libya. Hal ini dilakukan pasca Perang Saudara Libya Kedua, menunjukkan keterlibatan UE dalam stabilitas regional.

Selain IRINI, European Union Border Assistance Mission in Libya (EUBAM Libya) juga akan memberikan pelatihan khusus. EUBAM Libya adalah misi penanganan krisis yang dibentuk UE pada tahun 2013. Tujuannya adalah membantu dan melatih aparat keamanan Libya dalam menjaga perbatasan darat, laut, dan udara negara tersebut. Kolaborasi ini diharapkan memastikan operasi penyelamatan sesuai standar internasional dan hak asasi manusia.

Lonjakan Kematian Migran Memicu Tindakan Mendesak

Keputusan Uni Eropa ini didorong oleh krisis kemanusiaan yang semakin parah di Laut Mediterania. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan angka yang mengkhawatirkan. Lebih dari 1.000 migran meninggal di perairan lepas pantai Libya sepanjang tahun 2025. Mereka berupaya menyeberang menuju Eropa, mencari kehidupan yang lebih baik.

Setiap hari, ratusan migran dari kawasan sub-Sahara Afrika mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka menggunakan perahu untuk menyeberang dari wilayah Tunisia dan Libya menuju benua Eropa. Perjalanan berbahaya ini seringkali berakhir tragis karena kondisi perahu yang tidak layak dan cuaca ekstrem.

Pembentukan Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim di Benghazi diharapkan dapat mengurangi angka kematian ini secara signifikan. Dengan dukungan dan pelatihan dari Uni Eropa, kapasitas Libya dalam merespons insiden di laut akan meningkat. Ini adalah upaya krusial untuk melindungi nyawa mereka yang rentan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi