Direktur Utama Bank FAMA, Tigor M Siahaan mengatakan, industri perbankan sudah sangat maju dalam beberapa dekade terakhir, baik dalam layanan hingga infrastruktur. Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mendapat akses bank (unbanked).
"Ini adalah tantangan terbesar untuk perbankan, bagaimana bisa turun dari segi mass market tersebut, sehingga market-market yang underbanked, market-market yang unbanked itu bisa terpenuhi kebutuhannya," kata Tigor.
Dia pun memastikan Bank FAMA memiliki shareholder yang tangguh dengan ekosistem andal, yang bisa membantu untuk mengumpulkan data nasabah. Dengan demikian, pihaknya bisa menentukan apakah nasabah ini menjadi baik atau nasabah ini menjadi buruk.
"Semua data tersebut bisa terkumpul dan bisa menjadikan alternatif credit scoring untuk kami. Jadi untuk mendeterminasi apakah nasabah ini nasabah baik, nasabah tidak baik atau potensi baik itu berdasarkan data. Semuanya berdasarkan data, database," imbuhnya.
Dengan data-data tersebut, Bank FAMA akan memberikan financing terhadap UMKM, micro SME yang mau. "Misalnya dia mengembangkan toko martabaknya, dia membuka cabang di tempat lain. Dia mau hire pegawai-pegawai baru untuk memperbesar tokonya atau kiosnya atau warungnya, itu jadi bisa," jelas Tigor.
Dia menjelaskan, nasabah yang disasar oleh Bank FAMA adalah nasabah yang ritel dan micro SME. "Jadi, itu sama lagi bahwa data-data terhadap warung-warung tersebut, transaksinya, flow-nya itu ada dan bagaimana kita bisa memberikan financial services, access to financing terhadap mereka itu menjadi terbuka lebar," tandasnya.
Sumber: Liputan6.com