Kisah di Balik Topeng Monyet, Sumber Cuan yang Berdampak Buruk pada Psikologis Anak

Di balik kemeriahan pertunjukan topeng monyet ada kisah di baliknya yang mengiris hati. Tidak hanya soal eksploitasi hewan, tetapi juga dampak buruknya terhadap kondisi psikologis anak.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Kisah di Balik Topeng Monyet, Sumber Cuan yang Berdampak Buruk pada Psikologis Anak
Topeng Monyet pindah. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Sekelompok pelaku pertunjukan topeng monyet di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terjaring razia yang dilakukan oleh Satpol PP. Mereka dinilai telah melakukan eksploitasi dan melanggar hak-hak hewan.

Pegiat satwa liar mendukung penuh tindakan Satpol PP Kabupaten Tulungagung yang melakukan razia topeng monyet.

"Edukasi sudah berulang kali kami lakukan. Jadi langkah razia ini sudah tepat, untuk memberi efek jera," ujar Ketua Lembaga Edukasi Cinta Satwa dan Konservasi (Cakra), Yuga Hermawan di Tulungagung, Senin (7/2/2022).

Kelompok Topeng Monyet

Menurut Yuga, kelompok topeng monyet yang beroperasi di Kabupaten Tulungagung tidak hanya satu.

Ada kelompok lain yang kerap melakukan pertunjukan topeng monyet dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung.

Kelompok ini beroperasi di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Pihaknya bakal melaporkan kelompok ini ke petugas agar ditindaklanjuti.

Edukasi

Ketua Cakra itu menuturkan, hal paling penting yang perlu dilakukan adalah mengedukasi masyarakat terkait keberadaan topeng monyet.

Pihaknya kerap menyampaikan dampak negatif pertunjukan topeng monyet kepada para pelajar.

"Target utama kami memang generasi-generasi penerus," tutur Yuga Hermawan, dikutip dari Antara.

JAAN (Jakarta Animal Aid Network) mencatat, pertunjukan topeng monyet berpengaruh terhadap psikologi anak.

Pengetahuan yang Salah

Menurut Yuga, pertunjukan topeng monyet cenderung menunjukkan penyiksaan terhadap hewan.

"Mereka anggap pertunjukannya lucu, padahal proses pelatihannya itu penyiksaan," ungkapnya.

Pertunjukan topeng monyet memperlakukan monyet beraktivitas layaknya manusia, seperti mengendarai sepeda, menirukan gerakan tentara menenteng senjata atau menggunakan egrang.

"Itu merupakan pengetahuan yang salah untuk anak-anak, di alam liar tidak begitu," imbuh Yuga.

Cakra pernah mengedukasi pelaku pertunjukan topeng monyet. Namun, jawaban pelaku pertunjukan topeng monyet membuat pihak Cakra tak berkutik. Terlebih Cakra bukan lembaga resmi pemerintah yang bisa melakukan penindakan.

"Sempat kami edukasi, tapi mereka bilangnya silakan disita asal diberi uang ganti," tandasnya.

Rekomendasi