Menteri LH Sebut Jatim Peringkat 1 Nasional Kelola Lingkungan dan Sampah

Jumhur berharap capaian tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk meningkatkan upaya pelestarian lingkungan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri LH Sebut Jatim Peringkat 1 Nasional Kelola Lingkungan dan Sampah
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat

Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menyebut Jawa Timur menjadi provinsi dengan peringkat pertama dalam menjaga lingkungan hidup dan mengelola sampah berdasarkan penilaian Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

"Kehadiran saya di sini memberikan apresiasi atas prestasi Provinsi Jawa Timur dalam menjaga lingkungan dan mengelola sampah agar bisa menjadi contoh bagi provinsi lain," kata Jumhur saat mengunjungi Program Adiwiyata dan SIKAP di SMAN 1 Gresik dikutip Kamis (16/7/2026).

Menurut Jumhur, kunjungan kerja ke Jawa Timur dilakukan untuk menengok keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga lingkungan hidup dan mengelola sampah.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk meningkatkan upaya pelestarian lingkungan.

"Ini menjadi contoh baik bagi provinsi lain agar tidak abai dan bisa memperbaiki diri dalam menjaga lingkungan serta mengelola sampah," ujarnya.

Jumhur juga menyempatkan mengunjungi SMAN 1 Gresik yang meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri dari KLH. Menurutnya, Program Adiwiyata merupakan bentuk apresiasi kepada sekolah yang berhasil membangun budaya peduli lingkungan secara mandiri melalui pendidikan dan praktik nyata.

"Sehingga sekolah inilah yang terpilih sebagai sekolah terbaik di Indonesia dan layak mendapatkan Adiwiyata Mandiri," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan SMAN 1 Gresik meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri karena berhasil menumbuhkan budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

Selain itu, sekolah tersebut mengembangkan berbagai program pendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan terbatas untuk pertanian dan peternakan. Hasilnya diolah hingga menjadi produk pangan siap konsumsi, termasuk makanan beku (frozen food).

"Ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan, selama ini perspektif masyarakat harus dengan hamparan wilayah yang luas. Ternyata hal itu juga bisa dilakukan di lahan yang terbatas," kata Khofifah.

Ia berharap keberhasilan SMAN 1 Gresik menjadi inspirasi bagi sekolah maupun masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia bagi kegiatan pertanian, peternakan, maupun perikanan.

"Kalau ada lahan, ayo tanam apa saja yang bisa ditanam, baik untuk pertanian, peternakan, maupun perikanan," pungkasnya.

Rekomendasi