Wujudkan Kota Berkelanjutan, Pemprov DKI Tata Ulang Kawasan Barito dan Bangun Sentra Fauna

Pembangunan taman ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menciptakan kota yang hijau, berkelanjutan, dan berketahanan.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Wujudkan Kota Berkelanjutan, Pemprov DKI Tata Ulang Kawasan Barito dan Bangun Sentra Fauna
Suasana pedagang saat menunggu pembeli di pasar hewan Barito, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (25/10/2022). Sebanyak 85 kios kini telah memiliki 'wajah baru' dengan tempat yang higienis, meng (© 2025 Liputan6.com)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah melaksanakan penataan area Barito yang terletak di Jakarta Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari proyek pembangunan Taman Bendera Pusaka, yang direncanakan sebagai ruang terbuka hijau yang tidak hanya menjadi ikon kebangsaan, tetapi juga sebagai tempat publik yang ramah bagi keluarga.

Dengan mempertimbangkan sejarah Barito sebagai salah satu simbol kota Jakarta, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk melaksanakan penataan kawasan ini dengan mengutamakan aspek kemanusiaan. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga sedang mempersiapkan Sentra Fauna Jakarta yang berlokasi di Lenteng Agung.

Sentra ini akan berfungsi sebagai pusat perdagangan hewan peliharaan yang mengedepankan kesehatan, edukasi, dan modernitas.

Pemprov DKI Jakarta Wujudkan Kota Berkelanjutan Melalui Penataan Barito dan Pembangunan Sentra Fauna
Suasana pedagang saat menunggu pembeli di pasar hewan Barito, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (25/10/2022). Sebanyak 85 kios kini telah memiliki 'wajah baru' dengan tempat yang higienis, meng © 2025 Liputan6.com

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah, Elisabeth Ratu Rante Allo, menjelaskan bahwa penataan kawasan Barito dilakukan dengan pendekatan yang bersifat humanis dan non-represif. Sebagai wujud komitmen kepada para pedagang, Pemprov DKI Jakarta menyediakan berbagai kemudahan, seperti merelokasi sementara ke sepuluh pasar yang dikelola oleh Perumda Pasar Jaya.

Selain itu, Pemprov juga menggratiskan sewa kios selama tiga bulan di lokasi relokasi dan memberikan kebebasan kepada pedagang untuk memilih lokasi sesuai dengan preferensi dan kenyamanan mereka.

"Langkah-langkah ini diambil agar proses penataan tidak hanya berpihak pada kepentingan tata ruang kota, tetapi juga menjamin keberlangsungan usaha para pedagang," ungkap Ratu.

Selanjutnya, para pedagang akan difasilitasi untuk membuka usaha di Sentra Fauna Jakarta, yang dibangun di atas lahan seluas 7.000 m² di kawasan Lenteng Agung. Tempat ini hadir sebagai wajah baru dalam perdagangan hewan peliharaan dengan mengusung beberapa konsep, antara lain pasar hewan modern yang higienis dan ramah lingkungan, wahana edukasi satwa dan konservasi, serta destinasi wisata edukatif yang menggabungkan hiburan dan literasi lingkungan.

Selain itu, Sentra Fauna Jakarta juga akan memiliki zona UMKM hewan peliharaan yang tertata dan mendukung kesejahteraan para pedagang. "Sentra Fauna Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga ruang pembelajaran dan rekreasi yang menyenangkan bagi keluarga dan pecinta satwa," jelas Ratu.

Pemprov DKI Jakarta Wujudkan Kota Berkelanjutan Melalui Penataan Barito dan Pembangunan Sentra Fauna
Suasana pedagang saat menunggu pembeli di pasar hewan Barito, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (25/10/2022). Sebanyak 85 kios kini telah memiliki 'wajah baru' dengan tempat yang higienis, meng © 2025 Liputan6.com

Sementara itu, M. Fajar Sauri, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, mengungkapkan bahwa lahan di kawasan Barito akan dimanfaatkan untuk pembangunan Taman Bendera Pusaka. Taman ini akan mengintegrasikan tiga taman besar yang ada di Jakarta Selatan, yaitu Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Barito.

"Kawasan ini akan mengintegrasikan Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Barito menjadi satu kesatuan ruang terbuka hijau yang luas, aman, dan ramah bagi semua," ungkapnya.

Taman ini dirancang dengan luas hampir enam hektare dan akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik, termasuk: jembatan penghubung antartaman (link bridge), jalur lari (jogging track), taman bermain anak, ruang serbaguna, dan amphitheater terbuka untuk pertunjukan seni dan budaya.

"Semua ini didesain untuk memberikan pengalaman ruang publik yang nyaman, inklusif, dan menyenangkan bagi masyarakat," tambah Fajar.

Pembangunan taman ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menciptakan kota yang hijau, berkelanjutan, dan berketahanan.

Dengan penataan kawasan Barito yang berorientasi pada masa depan, Pemprov DKI Jakarta tidak hanya berupaya untuk mempercantik wajah kota, tetapi juga memastikan bahwa setiap warga memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap ruang terbuka hijau sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang seimbang dan harmonis bagi masyarakat.

Di lokasi yang berbeda, pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, memberikan dukungan terhadap inisiatif yang diambil oleh Pemprov DKI Jakarta. Ia menegaskan bahwa penataan yang dilakukan bukanlah sebuah penggusuran, melainkan langkah strategis untuk memaksimalkan penggunaan lahan milik Pemprov secara terintegrasi, dengan tetap memperhatikan hak-hak sosial dan ekonomi warga, terutama para pedagang. "Ini bukan tentang menggusur, tapi menata. Pemerintah tidak pernah menelantarkan, justru memberi ruang dan opsi terbaik untuk masa depan yang lebih baik," ujarnya.

Yayat juga menjelaskan bahwa taman yang direncanakan memiliki lokasi yang sangat strategis, terletak di pusat kawasan primer dan ekonomi kota. Dengan demikian, taman ini diharapkan dapat berfungsi sebagai oase di tengah zona bisnis yang padat. "Taman ini diprediksikan menjadi magnet baru. Bisa menjadi unsur rekreatif, berdagang, beraktivitas, ini menjadi oase di tengah zona bisnis," tuturnya.

Lebih lanjut, Yayat menyoroti pentingnya penataan kawasan dengan pendekatan 3D, yaitu Density, Diversity, dan Design. Mengenai Density, ia menyatakan bahwa kepadatan penduduk di kawasan Barito cukup tinggi, sehingga sangat diperlukan ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

"Kemudian, Diversity atau keragaman, di mana pada satu wilayah terdapat pusat perekonomian, pemerintahan, dan pelayanan lainnya. Dengan demikian, taman ini menjadi unsur paripurna. Orang mendapatkan ruang untuk menurunkan tekanan akibat pekerjaan dan lainnya. Apalagi, kalau taman itu hidup sampai malam hari," tutur Yayat.

Terakhir, ia menekankan aspek Design, yaitu bagaimana taman ini dapat diakses dari berbagai tempat. Taman tersebut harus dilengkapi dengan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki serta akses transportasi yang terintegrasi.

"Tentu, dalam penataannya juga perlu disiapkan untuk unsur UMKM, karena hal itu juga yang dapat menghidupkan taman. Sehingga, dalam satu taman, bisa mencakup banyak hal," tutupnya.

Rekomendasi