Dituding Mencemari Lingkungan Perumahan, Ini Penjelasan Peternak Sapi di Jaksel

Yusuf mengaku selalu menyaring kotoran sapi sebelum keluar dari peternakan. Dia menunjukkan ada empat saringan atau yang disebut sebagai bak kontrol.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Dituding Mencemari Lingkungan Perumahan, Ini Penjelasan Peternak Sapi di Jaksel
Limbah peternakan sapi mengotori perumahan warga Pancoran Jaksel. ©2023 Merdeka.com

Peternak sapi di Jalan Cikoko Barat III, Kelurahan Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan akhirnya buka suara usai diprotes lantaran membuang limbah sembarangan ke saluran air warga.

Salah satu pengelola peternakan sapi, Yusuf menyesalkan kabar tersebut. Dia membantah mencemari lingkungan permukiman warga.

Yusuf mengaku selalu menyaring kotoran sapi sebelum keluar dari peternakan. Dia menunjukkan ada empat saringan atau yang disebut sebagai bak kontrol.

Dia menjelaskan, saringan pertama memiliki kedalaman 2 meter. Lalu, yang kedua dan ketiga sedalam 3 meter.

"Dari saringan pertama, ini ada tukang kita yang bersihkan, mengangkat. Mungkin ada yang kebawa yang ringannya," jelas Yusuf kepada merdeka.com di lokasi, Minggu (25/6).

Pantauan merdeka.com di lokasi, saringan tersebut terbuat dari kawat nyamuk. Kemudian, di saringan terakhir, terdapat juga saringan lain.

Kandang di bagian dalam menampung sekitar 15 ekor sapi. Saat tiba di lokasi, petugas sedang membersihkan kotoran sapi ke dalam sebuah ember. Bau kotoran sapi tak begitu menyengat. Hanya sesekali tercium di hidung.

Peternakan sapi itu sudah berdiri sejak tahun 1968. Ini merupakan usaha turun temurun. Pada 2007, cerita Yusuf, usahanya itu seharusnya dipindah ke Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Namun perpindahan tersebut tak kunjung dilakukan tanpa dia tahu penyebabnya.

"Lurah pun enggak ada konfirmasi tiba-tiba sudah penuh di sana," kata Yusuf.

Menurut Yusuf, pihak kelurahan pernah berjanji akan membangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) sebesar 4x6 meter di peternakannya. Namun, baru sekarang lurah akan membangun IPAL di situ.

"Dari tanggal 3 Mei itu sudah melalui proses. Lurah sudah meeting rapat untuk mengadakan IPAL," ucap Yusuf.

Pihak kelurahan sudah empat kali datang ke tempatnya. Mereka datang bersama tenaga ahli perkotaan untuk merancang pembuatan IPAL.

"Makanya ini (saringan) saya bangun sendiri, lubang-lubang ini empat titik lubang, bangun sendiri daripada menunggu IPAL yang dijanjikan lurah-lurah sebelumnya," jelas Yusuf.

Limbah jadi Pupuk

Yusuf mengatakan, limbah kotoran sapinya dijadikan pupuk dan dikirimkan ke petani di Bogor. Bahkan dia memberikan secara gratis bagi tukang tanaman yang menginginkan limbah itu.

Dalam sehari terkumpul enam karung kotoran sapi. Ia juga telah memberikan cairan antibau yang dibuat sendiri dari dedak ayam, yakult, asam jawa, dan berbagai buah-buahan. Cairan tersebut ditaruh di galon kecil dan dibiarkan berbulan-bulan hingga menghasilkan gas yang bisa menekan bau.

Cairan tersebut ia berikan dua kali sehari di saringan pertama. Sekali siram, ia membutuhkan setengah galon cairan tersebut.

"Pagi itu setelah subuh saya siram di ujung dulu. Setelah subuh saya siram, saat sore saya siram lagi," kata Yusuf.

Yusuf menegaskan, peternakannya sudah memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan bergabung ke koperasi. Dia sekaligus membantah jika ada pihak yang menyebut usahanya tidak berizin.

"Padahal, lurah, tata kota lagi mengupayakan. Diundang lah tim ahli. Mungkin dari IPALnya yang belum (siap)," tutup Yusuf.

Rekomendasi