Kerasnya kehidupan di Jakarta membuat satu keluarga ini hanya bisa pasrah hidup di bawah kolong Tol Pluit-Tomang Jakarta Barat. Bukan untuk setahun, tapi sudah banyak tahun mereka habiskan di bawah jalan beton bebas hambatan itu.
Nunik, bukan nama aslinya, mengaku tak punya pilihan lain. Tergusur dari bedeng di Kalijodo, Jakarta Barat, membuatnya putar otak mencari tempat tinggal agar bisa terus berjuang di Jakarta.
"Saya sudah delapan tahun di sini, sebelumnya di Kalijodo tapi kena gusuran," ujar Nunik saat ditemui merdeka.com, Senin (19/6).
Mimpi Nunik dan keluarga tak muluk-muluk. Asal mendapatkan bekal menyambung hidup. Itupun sudah cukup buat bahagia. Sebab di kampung halamannya di Makassar, kesempatan bekerja seolah tak tersisa sekalipun untuk penduduk asli seperti dirinya.
Advertisement
Perjalanan Nunik Merantau ke Jakarta
Nunik mengenang perjalanannya merantau di tahun 2000 silam. Saat itu, modalnya datang ke Jakarta hanya sebuah semangat bercampur rasa nekat. Maklum saja, dia belum punya bayangan akan bekerja apa dan di mana. Untung saja ada kerabat punya usaha di Kalijodo. Datanglah dia ke sana.
"Dateng sama suami ke Jakarta belum tahu mau kerja apa. Sampai akhirnya kakak ipar yang kerja di sana (Kalijodo). Saya aja harus numpang tinggal di sana sama anak-anak juga waktu itu," katanya mengenang cerita lalu.
Lebih kurang 16 tahun Nunik dan keluarganya bergumul dengan sesaknya kampung Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Barat. Sampai suatu ketika, kenyamanannya terusik. Tempat tinggalnya di Kalijodo digusur pemerintah daerah. Sempat terbesit rasa kecewa. Tetapi tidak membuatnya patah semangat mengadu nasib di Jakarta.
Dia mencari informasi sana-sini. Tempat hunian yang bisa dia tinggali bersama keluarga. Tak terlalu penting soal kenyamanan. Asal bisa memejamkan mata kala malam datang.
Seorang kenalan menginformasikan padanya. Ada area kolong tol yang bisa dijadikan tempat tinggal. Nunik tak berpikir panjang. Dia langsung iyakan tawaran itu.
"Dulu enggak kaya gini. Saya pakai modal yang bekas jualan warung di Kalijodo buat bangun," ucapnya.
Advertisement
Istana Kecil di Kolong Tol
Setelah melihat lokasi kolong tol dan berbekal keterampilan seadanya, Nunik dan suami membangun istana kecilnya yang didominasi triplek dan kayu. Agar tak terlalu kumuh, dinding triplek dia cat warna hijau terang. Dia juga melengkapi rumahnya dengan ventilasi dari kawat yang dibentuk kotak-kotak.
Sebenarnya, tinggal di kolong tol bukan pengalaman baru untuk Nunik dan suami. Di Makassar pun, dia dan keluarganya juga tinggal di kolong tol. Tetapi, dilema sempat dia hadapi. Ketika lima buah hatinya bertanya. Kondisi rumah yang begitu memprihatinkan. Jauh dari kata layak dan sehat. Nunik hanya bisa memberikan pengertian.
"Ya gitu kadang klo anak 'ih Mak suara apa itu mak' 'oh itu suara di atas'," ceritanya.
Kini, Nunik hanya bisa berdoa. Cerita tentang penggusuran tak lagi memaksanya berpindah tempat. Sehari-hari, Nunik tak hanya aktivitas. Lebih banyak di rumah menunggu kepulangan sang suami serta anak ke-3 dan ke-4 nya pulang ke rumah seraya berharap mendapat kabar baik dari mereka.