Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung menegaskan pentingnya Pemilahan Sampah dari sumber untuk mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan. Langkah ini krusial, terutama dalam pemanfaatan teknologi pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF) yang sedang dikembangkan.
Kepala Bidang DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, menyatakan bahwa sampah yang tercampur menjadi penghalang utama proses pengolahan lebih lanjut. Ia menyebut sampah campur sebagai “musuh terbesar” dalam upaya pengelolaan.
Menurutnya, sampah yang telah dipilah sejak awal akan lebih mudah dikelola dan dimanfaatkan. Ini termasuk pengolahan menjadi sumber energi melalui teknologi RDF, serta persiapan untuk pengelolaan sampah regional masa depan.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Sampah Campur dan Solusi Pemilahan Efektif
Abdul Wahid Fauzy dari DLH Kabupaten Bandung mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah penerimaan sampah yang masih tercampur saat pengangkutan. Kondisi ini secara signifikan menghambat efektivitas proses pengelolaan sampah. Sampah yang tidak terpilah mempersulit upaya daur ulang dan pemanfaatan kembali material.
Pemisahan sampah sejak dari sumber merupakan solusi fundamental untuk mengatasi masalah ini. Sampah yang sudah terpilah memungkinkan proses pengelolaan yang lebih efisien, baik untuk daur ulang maupun pengolahan lanjutan. Hal ini juga mendukung upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
DLH Kabupaten Bandung menekankan bahwa teknologi seperti mesin RDF tidak dapat berfungsi optimal jika menerima sampah yang tercampur. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah di rumah menjadi sangat penting. Pemilahan ini akan memastikan material yang masuk ke fasilitas pengolahan memiliki kualitas yang sesuai.
Advertisement
Advertisement
Optimalisasi Teknologi RDF dan Kesiapan Regional
DLH Kabupaten Bandung saat ini sedang mengembangkan pemanfaatan mesin RDF dengan dukungan dan pendampingan dari Bank Dunia. Teknologi ini menjanjikan solusi pengolahan sampah menjadi sumber energi alternatif. Namun, keberhasilan implementasi RDF sangat bergantung pada kondisi sampah yang terpilah dengan baik.
“Mesin RDF itu kalau sampah campur seperti ini tidak mungkin dilakukan,” kata Abdul Wahid Fauzy, menggarisbawahi syarat utama operasionalisasi teknologi tersebut. Ini berarti bahwa sampah anorganik kering yang sudah terpilah dari awal adalah material yang diperlukan untuk kebutuhan pengolahan ini.
Selain untuk RDF, pemilahan sampah juga merupakan bagian integral dari persiapan pengelolaan sampah regional di masa mendatang. Termasuk di dalamnya adalah dukungan terhadap kesiapan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Legok Nangka yang masih dalam tahap proses pengembangan. Pengelolaan regional membutuhkan pasokan sampah yang terpilah untuk efisiensi.
Advertisement
Advertisement
Komposisi Timbulan Sampah dan Potensi Pemanfaatan Residu
Timbulan sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.600 ton per hari, sebuah angka yang menunjukkan urgensi pengelolaan sampah yang efektif. Dari jumlah tersebut, sekitar 320 ton diperkirakan menjadi residu, mengacu pada perhitungan DLH bahwa sekitar 20 persen sampah tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Adapun data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Kabupaten Bandung didominasi oleh sampah organik sekitar 50 persen, diikuti oleh sampah plastik sekitar 17 persen. Komposisi ini memberikan gambaran tentang jenis sampah yang perlu diprioritaskan dalam pemilahan.
Meskipun ada residu, Abdul Wahid Fauzy menyatakan bahwa “residu itu apabila dari awal sudah terkelola juga akan bisa dimanfaatkan.” Sebagai contoh, sampah organik yang dikelola melalui program Rumah Tempa dapat dimanfaatkan sebagai bahan penutup dalam proses pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir. Ini menunjukkan potensi besar dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Advertisement
Sumber: AntaraNews