Jakarta Tetap Macet Meski Ibu Kota Pindah, Ini Penjelasan Pj Gubernur DKI

Adapun Jakarta diproyeksikan sebagai pusat kota ekonomi dan bisnis setelah tak lagi menjadi Ibu Kota.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Jakarta Tetap Macet Meski Ibu Kota Pindah, Ini Penjelasan Pj Gubernur DKI
PJ Gubernur DKI Heru Budi Hartono. ©2023 Merdeka.com

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menilai, Jakarta akan tetap macet meskipun tak lagi menjadi Ibu Kota. Sebab, ia mengatakan orang yang berpindah masih memiliki kendaraan yang berkeliaran di Jakarta.

“Kan orang pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN) enggak bawa mobil. Mobilnya masih di Jakarta, masih jalan-jalan. Tetap saja kemacetan masih ada,” kata Heru kepada wartawan, dikutip Sabtu (11/2).

Meskipun demikian, ia menduga kemacetan yang ada akan berkurang. Namun, katanya, masih perlu penelitian lebih lanjut berapa kekurangan yang akan terjadi.

“Cuman mungkin berkurang tapi saya enggak tahu berkurangnya berapa. Perlu penelitian. Kalau Badan Pusat Statistik (BPS) ada program itu, diteliti ya silakan,” tambah Heru.

Lebih lanjut, Heru memandang Jakarta masih diburu para investor untuk berinvestasi. Tak hanya itu, ia yakin ada kebangkitan ekonomi di bidang baru.

“Namanya DKI, infrastruktur sudah jadi. Walau udah pindah ke IKN, pasti ada pembangkitan ekonomi baru. Orang masih investasi di Jakarta,” ujarnya.

Adapun Jakarta diproyeksikan sebagai pusat kota ekonomi dan bisnis setelah tak lagi menjadi Ibu Kota.

Sebelumnya, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman menyebut kepadatan lalu lintas di Jakarta saat ini sudah mirip dengan yang terjadi pada 2019 lalu seperti sebelum pandemi. Saat itu, indeks kemacetannya mencapai 53 persen.

Latif mengatakan, terjadi peningkatan aktivitas masyarakat setelah Covid-19 dinyatakan sebagai endemi.

“Ya tentunya kan aktivitas masyarakat semakin tinggi, apalagi setelah pandemi, ini sudah dinyatakan sebagai endemi tentunya aktivitas masyarakat untuk berproduktivitas kan sangat tinggi," kata Latif kepada wartawan, Sabtu (11/2).

Latif mengatakan, kondisi ini telah menjadi hukum kausalitas sebab akibat. Ketika aktivitas masyarakat kembali normal tanpa ada pembatasan, akibatnya kondisi mobilitas pun secara otomatis akan meningkat.

"Aktivitas tinggi, tentunya akan meningkatkan daripada perekonomian. Tetapi ya resikonya memang volume kendaraan akan semakin banyak di jalan," jelasnya.

Rekomendasi